
Di negeri kaya sumber daya alam, lebih dari separuh penduduknya hidup miskin. Mengapa ini bisa terjadi? Tulisan ini mengurai akar kemiskinan dan menawarkan sepuluh jalan keluar dari ironi yang menyesakkan.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Peribahasa itu terasa sangat mengusik logika. Seharusnya ayam yang berada di dalam lumbung padi hidup berkecukupan, kenyang, dan aman. Tapi mengapa justru mati kelaparan? Inilah sindiran tajam yang seolah diarahkan kepada bangsa yang bergelimang sumber daya alam, namun rakyatnya masih banyak yang hidup dalam kemiskinan dan terlilit utang.
Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh salah satu lembaga keuangan dunia, World Bank, pada tahun 2025, Indonesia ditempatkan di peringkat kedua dunia sebagai negara dengan tingkat kemiskinan tinggi. Disebutkan bahwa 60,3 persen penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan. Jika jumlah penduduk saat ini sekitar 283,49 juta jiwa, maka ada sekitar 170.944.470 orang yang digolongkan miskin.
Baca juga: Pengalaman Pinggang Bermasalah, Dokter pun Bisa Sakit
Terlepas dari indikator apa yang digunakan, kenyataan ini sangat memprihatinkan. Kemiskinan adalah penyakit sosial yang harus segera dientaskan.
Indonesia adalah negeri kepulauan dengan 17.508 pulau, memiliki luas daratan 1,91 juta km² dan wilayah perairan seluas 6,32 juta km². Kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, ribuan sungai, gunung, hutan, danau, serta keanekaragaman flora dan fauna.
Iklim tropis yang subur, cahaya matahari yang berlimpah, dan sumber daya tambang serta hasil bumi yang luar biasa melimpah. Tak heran jika negeri ini dijuluki sebagai Jamrud di Katulistiwa.
Tapi, mengapa justru kemiskinan masih tinggi? Ironis. Bagai ayam yang mati di lumbung padi.
10 Penyebab Kemiskinan
Kemiskinan tentu tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor yang saling terkait dan berlangsung secara sistemik maupun kultural. Berikut ini adalah sepuluh penyebab utama mengapa kemiskinan terus mengakar di tengah masyarakat Indonesia:
-
Rendahnya kualitas sumber daya manusia, terutama karena tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah.
-
Etos kerja yang lemah, sebagian masyarakat bermental pengemis dan mudah berutang.
-
Minimnya lapangan kerja yang memadai, terutama di daerah-daerah.
-
Distribusi kekayaan dan sumber daya alam yang tidak adil, sebagian besar dikuasai oleh kelompok elite.
-
Taraf hidup yang rendah, terutama di pedesaan dan daerah tertinggal.
-
Upah minimum yang tidak mencukupi kebutuhan dasar.
-
Angka pengangguran yang tinggi, baik terbuka maupun terselubung.
-
Korupsi yang merajalela dan tidak ditindak secara tegas.
-
Kurangnya disiplin dan semangat inovasi dalam kehidupan sehari-hari.
-
Rendahnya kerja sama dan jejaring sosial (networking) antarindividu dan lembaga.
10 Solusi Pengentasan Kemiskinan
-
Komitmen kuat dari pemimpin negara untuk mengelola sumber daya alam sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
-
Penerapan tata kelola negara yang baik (good governance) secara menyeluruh dan konsisten.
-
Peningkatan etos kerja masyarakat untuk hidup mandiri dan berdikari.
-
Penyediaan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
-
Peningkatan pendidikan formal dan vokasional, agar masyarakat memiliki keterampilan yang relevan.
-
Pengembangan sistem jaminan sosial yang menyasar kelompok paling rentan.
-
Penumbuhan budaya wirausaha (entrepreneurship) sejak dini di lingkungan pendidikan dan sosial.
-
Program donasi atau bantuan modal usaha untuk mendorong masyarakat memulai bisnis.
-
Kebijakan strategis dalam penguasaan dan pengelolaan kekayaan alam, agar tidak dikuasai segelintir pihak.
-
Pembelajaran dan inovasi berkelanjutan, serta kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendorong perubahan nyata.
Penutup
Sebuah bangsa tidak akan berubah nasibnya tanpa perjuangan dari dirinya sendiri. Kemiskinan bisa menjadi pintu gerbang menuju kekufuran jika dibiarkan merajalela.
Maka, mari kita terus bergerak maju. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Carilah kehidupan dunia seolah kita akan hidup selamanya. Namun, jangan lupa mencari bekal akhirat seakan kita akan meninggal esok hari. (#)
Banjarmasin, 11 Juli 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












