Opini

Museum Koruptor Indonesia, Artefak Orang-Orang Bejat

56
×

Museum Koruptor Indonesia, Artefak Orang-Orang Bejat

Sebarkan artikel ini
Museum Koruptor Indonesia menampilkan wajah-wajah segar pejabat dan pengusaha yang suka suap dan ngemplang uang rakyat.
Museum Koruptor Indonesia dipajang di halaman FH UGM.

Museum Koruptor Indonesia menampilkan wajah-wajah segar pejabat dan pengusaha yang suka suap dan ngemplang uang rakyat.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah  Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Di halaman Fakultas UGM Yogyakarta ada yang beda, Jumat (20/6/2025). Ada tenda dengan booth pajangan gambar para koruptor berompi merah KPK dan setumpuk emas.

Booth itu disebut Museum Koruptor Indonesia. Ini acara Kejaksaan Agung dengan program Sound of Justice Goes to Campus.

Ini bukan seni instalasi, ini memoar luka bangsa dipertontonkan agar kita berhenti memaafkan pengkhianatan.

Datang ke museum ini bukan melihat artefak bersejarah atau lukisan klasik, tapi wajah-wajah segar koruptor yang baru divonis pengadilan karena suap dan korupsi.

Museum ini adalah pameran ketelanjangan moral, tanpa sensor, tanpa eufemisme. Ada wajah Johny G. Plate, bekas Menteri Komunikasi dan Informasi proyek sinyal BTS yang seharusnya menghubungkan Indonesia, malah jadi ladang penghisapan. Dan sinyal? Masih hilang-timbul. Persis seperti nyali aparat dalam menindak korupsi kelas kakap.

Lalu Harvey Moeis. Pria yang sukses menggaruk duit nikel triliunan di Pulau Bangka. Mungkin berpikir dia sedang main game Harvest Moon, tapi alih-alih panen sayur, dia panen derita rakyat. Saat emak-emak cari diskonan beras di minimarket, dia hitung kekayaannya sambil tertawa di kapal pesiar.

Baca Juga:  Keutamaan Salat Syuruk: Kapan dan di Mana Dilaksanakan, serta Bedanya dengan Duha

Juga ada Zarof Ricar, Kepala Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung yang baru divonis 16 tahun pada Rabu, 18 Juni 2025.

Dia menjadi mafia pengadilan bisa mengatur hukuman untuk terdakwa. Di kasus Ronald Tannur. Dengan menyuap para hakim. Hartanya Rp 915 miliar dan emas batangan 51 Kg disita untuk negara.

Dia menjadikan pengadilan seperti supermarket full diskon hukuman. Bayar segini, hukumannya segitu. Aneh ya? Dulu kita pikir neraka itu tempat orang jahat dibakar. Tapi ternyata bisa dinegosiasikan.

Museum Koruptor Indonesia ini membuat kita sadar satu hal penting: negara ini bukan miskin, tapi terlalu sering dikeroyok. Bukan hanya oleh penjajah berseragam asing, tapi oleh penjilat berseragam dinas.

Mereka yang dulu kita beri panggung dan mikrofon, sekarang terbukti lebih pandai mengelola anggaran untuk diri sendiri ketimbang untuk negeri.

Menariknya, setelah dibikin mual oleh deretan fakta dan angka, pengunjung diajak healing. Ada taman hukum, live music, jajan cilok, kuis receh berhadiah.

Panitia sadar terlalu lama menatap wajah koruptor bisa membuat tekanan darah rakyat naik drastis. Maka disisipkanlah hiburan. Seolah ingin berkata, “Tenang, kita masih bisa tertawa, meski negara dikerjai.”

Baca Juga:  Pamer Tersangka Hilang di KUHAP Baru

Ini adalah museum paling jujur yang pernah dibuat bangsa ini. Karena di museum-museum lain, kita belajar tentang kejayaan. Di sini, kita belajar tentang kejatuhan. Bukan karena perang, bukan karena bencana alam, tapi karena birokrasi yang haus dan hukum yang bisa dinego.

Museum Koruptor Indonesia ini perlu digelar ke seluruh pelosok negeri. Ke kampus dan sekolah. Agar sejak kecil anak-anak tahu: bukan hanya pelajaran PPKn yang penting, tapi juga siapa yang pernah mengkhianatinya.

Bila perlu, bukan cuma foto koruptor yang dipajang. Tapi juga foto keluarga mereka. Biar tahu rasanya jadi malu secara komunal. Supaya anak cucu mereka tidak tumbuh dalam glorifikasi warisan dosa.

Tapi ada kekhawatiran kecil: jangan sampai museum ini malah jadi tempat narsis baru. Bayangkan kalau kelak, koruptor baru malah ingin masuk museum demi “pengakuan sejarah”. Seperti seleb TikTok yang bangga masuk FYP. Bisa-bisa korupsi dianggap karier yang bisa dikenang sejarah.

Museum Koruptor Indonesia adalah karya seni politik, monumen untuk ingatan kolektif, dan sinyal bahwa kita belum sepenuhnya mati rasa. Ini bukan tentang nostalgia, tapi tentang momen sadar bahwa negeri ini sedang dirampok dengan cara legal.

Baca Juga:  Siswa Smamsatu Gresik Lolos IUP UGM, Perjalanan Rafa di Sekolah Inklusi

Dan semoga setelah ini, kita tak lagi mudah bertepuk tangan saat pejabat berpidato. Karena kadang, pidato hanyalah mukadimah dari rencana penjarahan yang dibungkus rapi dengan kata-kata demi rakyat.

Jika museum ini terus hidup dan berkembang, maka setidaknya kita tahu: masih ada ruang di negeri ini yang menolak lupa. Masih ada suara sekecil apapun yang berkata: cukup sudah. Cukup dijajah dari dalam. Cukup ditipu oleh senyum diplomatis dan jabat tangan pencitraan.

Karena keadilan tidak butuh panggung. Ia hanya butuh keberanian untuk menatap wajah penjahat, dan berkata: kami tahu, dan kami tidak akan diam.

Inilah ironi paling cemerlang bangsa kita: keadilan baru terasa nyata, setelah dijadikan pajangan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto