Opini

Mengajar: Seni Mengukir Jiwa

36
×

Mengajar: Seni Mengukir Jiwa

Sebarkan artikel ini
Mengajar: Seni Mengukir Jiwa. Bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menegah Prof. Abdul Mu’ti

Di balik deretan angka nilai, ada jiwa-jiwa muda yang menanti disentuh dengan kasih dan teladan. Guru sejati bukan hanya pengajar rumus, tetapi seniman kehidupan—mengukir karakter, menanamkan nilai, dan membangun peradaban manusia dengan hati nurani yang hidup.

Oleh Triyo Supriyatno Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Di negeri ini, kita masih terlalu sering memandang pendidikan sebatas angka-angka. Nilai ujian, peringkat kelas, akreditasi sekolah, dan statistik kelulusan menjadi ukuran utama keberhasilan.

Padahal, sejatinya pendidikan bukan semata soal kognisi, melainkan perkara membentuk watak, membangun karakter, dan menanamkan nilai kemanusiaan. Di pusat dari semua itu berdiri seorang guru, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendidik dan pengukir jiwa.

Baca juga: Membaca dan Menulis sebagai Syariat Akademik

Guru sejati memahami bahwa ilmu tanpa karakter hanya akan melahirkan kepintaran yang berbahaya. Sejarah terlalu banyak mencatat betapa orang-orang cerdas yang kehilangan hati nurani justru menjadi sumber kehancuran peradaban. Ilmu yang seharusnya memanusiakan manusia dapat berubah menjadi alat perusak bila tak dibarengi moralitas yang kokoh.

Itulah sebabnya, mengajar bukan semata memindahkan informasi dari buku teks ke kepala murid. Mengajar adalah seni—sebuah seni mengukir jiwa. Guru sejati tidak berhenti pada pencapaian nilai akademik, tetapi peduli pada bagaimana muridnya berpikir, bersikap, dan memandang dunia. Ia menyadari bahwa kecerdasan sejati tidak terletak pada seberapa cepat anak-anak mampu menyelesaikan soal, tetapi pada seberapa bijak mereka menyikapi persoalan hidup.

Baca Juga:  Ramadan: Jalan Pembebasan dari Tirani yang Halus

Guru sebagai Seniman

Di dalam ruang kelas yang penuh dinamika, guru memainkan peran bak seorang seniman. Ia memilih kata-kata dengan hati-hati, menciptakan suasana belajar yang membangun, dan menyesuaikan pendekatan mengajar dengan keunikan setiap anak didik. Tidak ada dua murid yang sama.

Setiap kepala, setiap hati, memiliki dunia batin yang berbeda. Di sinilah letak keahlian guru: membaca, meraba, lalu mengasuh jiwa-jiwa muda itu dengan cara yang paling tepat.

Guru yang baik tak hanya mengajarkan rumus, teori, atau konsep. Ia menyelipkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelajaran. Saat menjelaskan sejarah, ia berbicara tentang toleransi dan pentingnya memahami perbedaan.

Saat mengajarkan biologi, ia menyampaikan hubungan manusia dengan alam serta tanggung jawab merawat lingkungan. Saat membimbing pelajaran matematika, ia menanamkan kejujuran dalam berhitung dan kesabaran dalam menyelesaikan persoalan.

Filosofi seorang guru sejati sederhana: pendidikan bukan hanya soal-soal di kertas ujian, tetapi soal-soal dalam kehidupan. Sebab, pada akhirnya, murid akan lebih sering berhadapan dengan persoalan di luar buku teks ketimbang soal pilihan ganda.

Ilmu tanpa Nurani

Albert Einstein pernah mengingatkan, “Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh.” Dalam konteks pendidikan modern, kita bisa memaknainya bahwa ilmu tanpa nurani hanya akan menghasilkan manusia-manusia cerdas yang abai pada nilai kemanusiaan. Itu sebabnya, guru sejati paham betul bahwa tugasnya bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menanamkan nilai.

Baca Juga:  Puasa: Revolusi Kesadaran Spiritual

Sayangnya, sistem pendidikan kita hari ini masih terlalu menekankan hasil ketimbang proses. Anak-anak dipacu mengejar nilai ujian nasional, peringkat kelas, rapor tinggi, masuk sekolah favorit, bahkan nilai try out. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana mereka mampu berpikir kritis, bersikap bijak, dan memiliki empati terhadap sesama.

Banyak anak berhasil meraih prestasi akademik tinggi, tetapi gagal membangun kepribadian tangguh. Di usia muda, mereka mudah putus asa, sulit menerima perbedaan, dan abai terhadap problem sosial di sekitar. Hal ini terjadi karena pendidikan terlalu sibuk mengejar angka, tetapi lupa membangun manusia.

Mendidik dengan Teladan

Di sinilah pentingnya keteladanan seorang guru. Nilai-nilai kebaikan, integritas, empati, dan kejujuran lebih kuat tertanam bukan dari ceramah, melainkan dari perilaku. Murid belajar dari apa yang mereka lihat. Guru yang datang tepat waktu, bersikap adil, bersedia mendengar, dan rendah hati akan meninggalkan jejak kuat dalam ingatan anak didiknya.

Bahkan dalam diam seorang guru, ada pelajaran. Cara ia menghadapi murid yang nakal, cara ia memberi semangat kepada anak yang kalah, hingga cara ia tetap sabar saat suasana kelas riuh—semua itu adalah pelajaran hidup yang tak tercatat di buku teks.

Warisan Seumur Hidup

Pendidikan sejati bukan sekadar bagaimana seorang murid dapat menjawab soal di kertas ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi persoalan hidup kelak. Banyak dari kita mungkin telah lupa teori kimia atau rumus integral yang pernah diajarkan guru dulu, tetapi tak pernah lupa ketulusan hati, senyum hangat, dan semangat yang mereka berikan saat kita terjatuh.

Baca Juga:  Iktikaf: Reset Spiritual di Tengah Kegelisahan Zaman

Itulah sebabnya, mengajar disebut sebagai seni tertinggi. Buahnya bukan sekadar kecerdasan, tetapi kemanusiaan. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah warisan yang bertahan seumur hidup.

Potret Jiwa Pendidik

Bayangkan seorang guru di pagi hari yang sibuk. Ia datang bukan hanya membawa buku pelajaran, tetapi juga doa-doa kecil untuk anak-anak didiknya. Di sela pelajaran, ia menyempatkan bertanya tentang mimpi mereka, mendengarkan curhat tentang masalah keluarga, dan memberi semangat ketika seorang murid kehilangan ayahnya. Di ruang kelas sederhana itu, ia bukan sekadar pengajar, tetapi pelukis jiwa.

Ketika bel pulang berbunyi, ia tahu tugasnya belum selesai. Esok, masih ada jiwa-jiwa muda yang menanti untuk dibentuk. Bukan sekadar agar pandai menghafal, tetapi agar mampu berpikir, bersikap, dan menjalani hidup dengan hati yang jujur dan nurani yang hidup.

Di tengah tantangan zaman, ketika dunia pendidikan dihadapkan pada godaan angka dan statistik, mari kita kembali pada hakikatnya: bahwa mendidik adalah memanusiakan manusia. Bahwa sekolah bukan pabrik nilai, tetapi taman bagi jiwa-jiwa muda yang sedang tumbuh. Dan bahwa guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan untuk mengukir jiwa. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni