
Di balik senyum dan seragam gagah Bripda Doni, terkuak skandal pinjol ratusan juta dan rayuan maut pada banyak wanita. Cerita gelap tentang ambisi, penipuan, dan jeratan utang yang merusak citra aparat. Sebuah kisah pengkhianatan dan kebohongan yang menghebohkan.
Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri: 1): Enam Wajah di Balik Senyum
Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Dari luar, Bripda Doni Wicaksono tampak seperti sosok teladan: gagah berseragam, senyum menawan, ramah menyapa ibu-ibu pasar saat patroli. Namun di balik citra itu, tersembunyi jejaring tipu daya, utang pinjaman online ratusan juta, dan rayuan mematikan kepada para perempuan termasuk istri orang. Sebuah skandal yang perlahan mencuat ke permukaan.
Doni Wicaksono berdiri di halaman depan Markas Polresta Banyumili, bersandar santai pada motor dinas. Senyumnya menawan, seragam cokelat kebanggaan melekat rapi di tubuh tegapnya. Tak ada yang menyangka, di balik semua atribut itu, ia tengah terjerat utang pinjaman online yang menggunung.
Awalnya, Doni dikenal sebagai anggota muda berprestasi. Lulusan SPN Purwinangun itu kerap mendapatkan pujian karena disiplin dan tampil meyakinkan. Namun, gaya hidup mewah yang tak sepadan dengan gaji Bripda pelan-pelan menyeretnya ke dalam lingkaran utang. Dari satu aplikasi pinjol ke pinjol lainnya, hingga total tagihan menembus angka 180 juta rupiah.
“Gue gak sanggup bayar. Tapi kalau lo bantuin, bulan depan gue bisa lunasin. Serius,” bisik Doni kepada Fitri, seorang janda muda yang dikenalnya lewat DM Instagram. Fitri, terpikat dengan pesona dan status Doni sebagai aparat, tanpa pikir panjang menjual gelang warisan ibunya demi membantu pria berseragam itu.
Doni tak berhenti di Fitri. Dalam waktu singkat, ia mendekati enam perempuan lain. Semua ia rayu dengan skenario nyaris sama: dia korban sistem, difitnah senior, sedang dalam tekanan, dan butuh pertolongan finansial. Setiap perempuan dijadikan ‘penyelamat’ baru yang ia umbar janji akan dibalas dengan kesetiaan.
Yang paling tragis adalah Rina, seorang guru SD yang telah bersuami. Awalnya Rina hanya berkonsultasi soal tilang anak muridnya, lalu Doni menyelinap masuk dalam kehidupan rumah tangganya. “Kamu beda,” kata Doni lembut dalam sebuah pertemuan rahasia di parkiran minimarket.
Rina tak sadar bahwa uang tabungan keluarganya senilai 30 juta habis untuk membayar pinjol atas nama Doni. Lebih dari itu, hubungan mereka mulai tercium sang suami, Jatmiko seorang pengusaha bengkel yang sederhana namun memiliki koneksi luas.
Sementara itu, laporan anonim mulai berdatangan ke Provost Polda Jawa Dwipa. Isinya: dugaan penyalahgunaan wewenang, perilaku tidak pantas, dan utang pribadi yang memicu tindakan manipulatif. Nama Doni disebut berkali-kali, dengan bukti tangkapan layar, percakapan WhatsApp, hingga struk transfer.
Penyelidikan internal pun dimulai, namun Doni merasa masih aman. Ia percaya bahwa dengan wajahnya yang manis dan pengaruh oknum senior yang selama ini membekinginya, segalanya bisa diamankan. Namun takdir berkata lain.
Suatu hari, saat Doni sedang berada di kafe mewah bersama perempuan baru bernama Della, seorang wanita muda yang bekerja sebagai admin klinik kecantikan, tiba-tiba seorang pria berbadan besar mendekat. “Kamu Doni?” tanyanya sambil menunjukkan lencana kecil.
“Siapa lo?” tanya Doni kaget.
“Suaminya Della. Dan juga penyelidik internal.”
Ya, Della bukan hanya ‘korban’ berikutnya, tapi umpan. Setelah laporan demi laporan masuk, Provost bekerja sama dengan Reskrim untuk mengungkap praktik manipulatif Doni. Della, yang ternyata anggota jaringan relawan anti-kekerasan digital, dipasangi alat perekam suara dan kamera tersembunyi.
Doni dibawa ke ruang pemeriksaan. Saat dibuka isi ponselnya, terbongkarlah puluhan chat dengan berbagai perempuan, beberapa di antaranya masih di bawah umur secara hukum.
Namun kisah belum selesai.
Saat Doni ditanya soal motifnya, ia menatap lantai dan menjawab dengan suara pelan:
“Saya hanya ingin cepat kaya… agar bisa bayar utang kakak saya yang kabur ke Malaysia. Semua ini buat keluarga.”
Penyidik tertegun. Investigasi diperluas. Ternyata benar, kakaknya terlibat dalam sindikat pinjol ilegal lintas negara. Doni hanyalah ‘tameng’ sengaja dibiarkan tenggelam demi menutup jejak keluarga yang lebih besar.
Namun pengakuan itu tak cukup menyelamatkan. Ia tetap dijatuhi sanksi kode etik berat, dimutasi ke tugas administratif, dan menghadapi tuntutan pidana karena penipuan dan pelecehan etika profesi.
Para korban? Beberapa memilih bungkam karena malu. Satu di antaranya, Fitri, malah mengaku masih mencintainya.
“Saya tahu dia salah, tapi entah kenapa… saya kasihan,” ucapnya dengan mata sembab.
Sementara Rina dan suaminya kini memilih pindah ke kota lain, berharap bisa membangun kembali kepercayaan dan pernikahan yang nyaris hancur.
Doni kini bukan lagi Bripda teladan. Ia menjadi simbol kegagalan integritas, dan contoh nyata betapa gaji kecil, ambisi besar, serta lemahnya pengawasan bisa merusak wibawa institusi.
Namun, bagi Doni, ini belum akhir. Dalam ruang tahanan sementara, ia menulis di secarik kertas:
“Mereka pikir aku pemangsa. Tapi aku hanya korban dari utang yang bukan milikku. Jika waktu bisa kuputar…” (#) Bersambung seri ke-2: “Jeratan Uang, Luka yang Menganga”
Penyunting Mohammad Nurfatoni







