Feature

Diskusi Pelecehan Seksual, Memaknai Ulang Tradisi Diam

50
×

Diskusi Pelecehan Seksual, Memaknai Ulang Tradisi Diam

Sebarkan artikel ini
Diskusi ini juga menyoroti ungkapan orang Madura: Lebih baik putih tulang daripada menanggung malu yang membuat kasus kekerasan seksual tak terungkap.
Liset Ayuni memberi sambutan pada diskusi ruang aman literasi IPM Sumenep. (Tagar.co/Selly)

Diskusi ini juga menyoroti ungkapan orang Madura: Lebih baik putih tulang daripada menanggung malu yang membuat kasus pelecahan seksual tak terungkap.

Tagar.co – Di tanean (pendapa) kecil nan tenang di jantung kota Sumenep, PD IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Sumenep menggelar forum literasi dan diskusi mengenai pelecehan seksual dalam lingkup pelajar.

Suasana diskusi Ruang Aman Literasi itu tidak mewah, namun hangat dan penuh keberanian.

Hadir Sekretaris Umum PW IPM Jawa Timur, Liset Ayuni, yang menyampaikan sambutan reflektif. Ia datang bukan sebagai pemateri. Tapi sebagai seseorang yang pernah berada di ruang-ruang mendengarkan luka, dan kini menyuarakan keberanian untuk tidak mendiamkannya.

”Saya bukan pemateri hari ini. Datang sebagai teman, sebagai seseorang yang pernah mendengar cerita-cerita yang tidak sempat dilisankan karena takut dianggap aib,” ujarnya di hadapan peserta.

Diskusi ini hadir sebagai respon atas budaya diam yang masih kuat di Madura. Konsep menjaga harga diri begitu dijunjung tinggi hingga sering kali, korban pelecehan seksual justru memilih bungkam agar tak mempermalukan keluarga.

”Lebih baik putih tulang daripada menanggung malu” ungkapan ini menggambarkan betapa dalamnya nilai harga diri dalam masyarakat Madura. Namun, Liset secara hati-hati mengajak kader untuk memaknai ulang nilai tersebut.

Baca Juga:  Di Samping Menara Pisa, PRNA Suci Dampingi Kader IPM Belajar Jurnalistik

”Kita semua bangga dengan nilai luhur menjaga martabat. Tapi jika itu membuat korban terus diam dan menyimpan trauma, maka kita sedang mewariskan luka yang tak selesai,” katanya.

Karena dalam banyak kasus, sambung dia, luka yang didiamkan justru menyimpan bom waktu dalam diri remaja. Maka, penting untuk melihat persoalan ini juga dari kacamata psikologi perkembangan agar kita tahu mengapa usia remaja menjadi fase yang paling rentan menghadapi pelecehan seksual, dan mengapa mereka butuh didengar, bukan dihakimi.

Eksplorasi Identitas

Liset menjelaskan, masa remaja adalah fase eksplorasi identitas. Mereka sangat rentan mencari penerimaan, perhatian, dan rasa aman dari lingkungannya.

Ketika mereka menjadi korban, dan tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan atau didengar, luka itu bisa tumbuh menjadi trauma jangka panjang.

”Menurut teori kebutuhan Maslow, setelah kebutuhan dasar seperti makan dan tidur, manusia akan mencari rasa aman. Aman bukan hanya dari kekerasan, tapi juga dari penghakiman. Ketika remaja dilecehkan tapi tak punya ruang untuk mengadu, maka yang rusak bukan hanya tubuhnya, tapi juga jiwanya,” tegas Liset.

Baca Juga:  Berbagi Pengalaman Pimpinan DPRD di Pelatihan Taruna Melati

Ia juga menyampaikan bahwa pelecehan seksual tidak selalu soal sentuhan fisik. Tatapan mengobjektifikasi tubuh, komentar dengan imajinasi seksual, atau bahkan menyebarkan gosip cabul pun sudah termasuk bentuk pelecehan yang merusak martabat seseorang.

Dalam momen tersebut, Liset mengajak seluruh kader IPM untuk membangun budaya baru di lingkungan masing-masing dengan budaya yang tidak menyalahkan korban, yang membuka telinga sebelum membuka mulut, dan yang memahami bahwa tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan diam.

“Saya percaya IPM bukan cuma wadah berkegiatan. Tapi IPM bisa jadi rumah kedua. Dan rumah itu seharusnya aman, nyaman, dan tidak membuat orang takut jadi dirinya sendiri,” katanya penuh harap.

Bagi IPM, forum seperti ini bukan sekadar kegiatan. Ia adalah wujud nyata dari misi organisasi sebagai gerakan dakwah pelajar Muhammadiyah yang membawa nilai Islam berkemajuan.

Sebab dakwah tak hanya soal podium dan seruan, tapi juga tentang mengulurkan tangan kepada mereka yang kehilangan suara.

Sebagai penutup sambutannya, Liset membacakan kutipan dari Jalaluddin Rumi yang memekarkan hening pagi itu: ”Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”

Baca Juga:  IPM dalam Arus Politik Praktis

Kalimat itu tidak hanya puitis, tapi juga membebaskan. Ia menyampaikan bahwa luka tidak selamanya aib. Luka juga bisa menjadi pintu bagi cahaya, jika kita tidak membungkamnya.

Keberanian Bersuara

Ketua Umum PD IPM Sumenep, Aura Intan, juga menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk keseriusan IPM di daerah untuk berdiri bersama korban, bukan sekadar berteori tentang keadilan.

“Ini adalah bentuk tindak nyata kami dalam mendukung rekan sebaya kami untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran dengan berani,” ujarnya.

Bagi Aura dan teman-temannya, keadilan bukan sekadar wacana organisasi, tapi juga keberanian kolektif untuk berkata: kamu aman di sini.

PD IPM Sumenep telah memulai langkah kecil yang bermakna dengan acara diskusi itu. Di tanean sederhana itu, satu demi satu suara mulai berani keluar bercerita tentang kasus yang terjadi di sekitarnya. (#)

Jurnalis Almasy Tsalisa  Penyunting Sugeng Purwanto