OpiniUtama

Membaca dan Menulis sebagai Syariat Akademik

28
×

Membaca dan Menulis sebagai Syariat Akademik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Di balik megahnya gedung kampus, budaya membaca dan menulis pelan-pelan luruh jadi kewajiban administratif semata. Membaca dan menulis bukan sekadar tugas kuliah, melainkan syariat akademik yang sakral dan memanusiakan.

Oleh Triyo Supriyatno Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Di tengah derasnya arus informasi digital, aktivitas membaca dan menulis di kalangan akademisi kita justru mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan.

Kampus, yang semestinya menjadi taman gagasan dan ruang dialektika pemikiran, perlahan menjelma menjadi institusi administratif belaka. Membaca hanya menjadi ritual pengumpulan referensi, dan menulis tak lebih dari kewajiban administratif demi angka kredit atau akreditasi.

Baca juga: Jemaah Haji Pulang: Ini Harapan Kita pada Mereka

Nilai luhur dari aktivitas ilmiah ini nyaris kehilangan makna, seakan kita lupa bahwa membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan syariat akademik—laku intelektual yang sakral dalam tradisi keilmuan.

Tradisi Ilmu yang Luruh

Sejak dahulu, peradaban besar lahir dari budaya membaca dan menulis yang kuat. Dalam sejarah Islam, ayat pertama yang diturunkan bahkan berbunyi iqra — bacalah.

Baca Juga:  Iktikaf: Reset Spiritual di Tengah Kegelisahan Zaman

Itu bukan sekadar perintah membaca teks, tetapi membaca realitas, peristiwa, dan kehidupan. Para ulama klasik seperti Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, hingga Imam Syafi’i membangun peradaban ilmiah melalui membaca secara kritis dan menulis sebagai bentuk pertanggungjawaban intelektual.

Namun kini, kampus-kampus kita justru menjauh dari semangat tersebut. Banyak mahasiswa membaca sekadar untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk memahami. Lebih ironis lagi, banyak dosen sibuk mengejar angka kredit penelitian tanpa gairah membaca karya terbaru di bidangnya.

Artikel ilmiah pun ditulis bukan untuk mencerahkan wacana publik atau menawarkan solusi atas persoalan bangsa, melainkan hanya demi memenuhi kewajiban administrasi akademik. Inilah kemerosotan intelektual yang nyata, ketika membaca dan menulis kehilangan makna spiritual dan moralnya.

Syariat Akademik yang Terabaikan

Membaca dan menulis, dalam tradisi akademik yang sehat, bukanlah aktivitas mekanis. Keduanya adalah syariat akademik—seperangkat nilai moral yang mengikat insan kampus untuk terus haus pengetahuan dan bertanggung jawab atas gagasan yang ditulisnya.

Syariat ini menuntut seorang akademisi tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga menyumbangkan pikiran bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Antara AI, Guru, dan Masa Depan Nalar: Menjaga Api Berpikir Kritis di Era Society 5.0

Di Indonesia, syariat ini terabaikan. Budaya literasi di perguruan tinggi masih rendah. Data Unesco menyebut minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001; artinya, dari seribu orang, hanya satu yang gemar membaca.

Di kalangan mahasiswa dan dosen pun, budaya membaca kritis masih jarang ditemui. Seminar ilmiah yang semestinya menjadi ruang adu gagasan lebih banyak diisi basa-basi akademik tanpa perdebatan substansial.

Menulis pun tak kalah suram. Banyak skripsi, tesis, dan disertasi hanya menjadi syarat kelulusan, bukan karya yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan.

Publikasi jurnal pun sering kali diisi tulisan daur ulang, tanpa ide segar atau keberanian membantah teori mapan. Dalam situasi ini, dunia kampus kehilangan wataknya sebagai benteng intelektual yang kritis dan progresif.

Saatnya Mengembalikan Martabat Intelektual

Sudah saatnya kampus-kampus di Indonesia kembali menegakkan syariat akademik membaca dan menulis. Membaca harus menjadi laku harian, bukan sekadar saat menyusun proposal penelitian.

Kampus perlu membangun budaya diskusi berbasis bacaan, bukan hanya seminar seremonial tanpa substansi. Dosen wajib menjadi teladan dalam membaca karya-karya terbaru dan membagikan wawasannya kepada mahasiswa, bukan sekadar menyodorkan diktat fotokopian warisan seniornya.

Baca Juga:  Kesenjangan Pendidikan Karakter dan Praktik Evaluasi Belajar

Menulis pun harus ditempatkan sebagai ibadah intelektual, bukan sekadar tugas administratif. Setiap tulisan akademik idealnya menawarkan gagasan baru, mendorong lahirnya perspektif alternatif, dan berani menyentuh isu-isu aktual masyarakat. Skripsi dan disertasi seharusnya tidak hanya menumpuk di perpustakaan, tetapi didorong menjadi artikel populer, buku, atau opini media yang bisa diakses publik luas.

Membaca dan Menulis, Laku Peradaban

Peradaban besar lahir dari kebiasaan membaca yang reflektif dan menulis yang jujur. Kampus tanpa budaya membaca dan menulis sejatinya hanyalah institusi kosong tanpa jiwa. Oleh karena itu, membaca dan menulis harus dimaknai sebagai syariat akademik—laku intelektual yang tidak hanya mendewasakan akal, tetapi juga memanusiakan manusia.

Bangsa ini membutuhkan akademisi yang bukan hanya pandai membaca buku, tetapi juga membaca nasib bangsanya. Bukan sekadar menulis jurnal bereputasi, tetapi juga menulis sejarah peradaban yang bermartabat. Sudah saatnya kita kembali merawat syariat akademik ini, sebelum sekolah, madrasah, ataupun kampus benar-benar kehilangan rohnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni