
Subuh di Masjid Namira menjadi titik hening penuh makna bagi tiga guru dari Gresik. Di tengah tugas pendidikan, roh mereka kembali tersambung dengan langit.
Tagar.co – Senin, 9 September 2025. Di saat kebanyakan orang masih terlelap, tiga orang pendidik Muhammadiyah memulai langkahnya dari Gresik menuju Trawas. Tepat pukul tiga dini hari, Moh. Madhim (Kepala MI Muhammadiyah Sidokumpul), Syaifuddin (Kepala MTs Muhammadiyah Weru), dan penulis.
Kami bergerak dari gedung madrasah yang hening menuju agenda penting: Workshop Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diadakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur.
Baca juga: Cinta Orang Tua yang Sering Terlupakan
Perjalanan dini hari melintasi jalanan lengang menjadi momentum kontemplatif. Dalam heningnya malam, lampu jalan berkelip, angin membelai wajah, dan sunyi menjadi teman seperjalanan. Ketika waktu Subuh mendekat, langkah mereka berhenti di Masjid Namira, ikon spiritual Kota Lamongan.
Masjid Namira berdiri megah menyambut kedatangan para musafir ilmu. Di masjid itulah, mereka bersujud dan menyatu dalam barisan salat Subuh. Imam pagi itu adalah Ustaz Ir. Haris Bangun Samudra, yang datang dari Surabaya.
Bacaan salatnya tenang dan tertata, membawa jamaah pada ketenangan yang langka ditemukan dalam riuh dunia pendidikan dan kesibukan sehari-hari.
Usai salat, Ustaz Haris menyampaikan nasihat tentang hari-hari Tasyrik—tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah—sebagai hari-hari yang dimuliakan dalam Islam. Hari ketika langit terbuka dan doa-doa diangkat tanpa penghalang.
“Jangan biarkan lisanmu diam. Jangan biarkan hatimu lengah. Berdoalah, karena di hari-hari ini Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan,” pesannya lembut namun tegas.
Ia mengutip doa yang dianjurkan dibaca oleh para sahabat Nabi di hari-hari tasyrik:
“Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘ażāban-nār.”
Pesan itu menancap dalam, menyadarkan kembali bahwa perjalanan bukan sekadar fisik, tetapi juga ruhani. Workshop di Trawas memang tujuan utama, tetapi singgah di Namira menjadi titik penting yang memberi makna lebih dalam.
Dalam satu Subuh, satu saf, dan satu nasihat, ketiganya menemukan kembali bahwa perjalanan ilmu tidak akan lengkap tanpa menghidupkan ruh yang kadang terlelap oleh rutinitas. Dan di Masjid Namira, ruh itu terjaga kembali. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












