
Setelah bermalam di Muzdalifah, jutaan jemaah haji bergerak menuju Mina untuk melaksanakan lempar jumrah. Ritual ini dikoordinasikan dengan sistem keamanan dan teknologi canggih.
Tagar.co – Pada Jumat (6/6/25) dini hari, jutaan jemaah haji mulai bergerak dari Muzdalifah menuju Mina untuk melaksanakan salah satu ritual paling simbolik dalam ibadah haji: melempar jumrah. Ritual ini merupakan peringatan atas penolakan Nabi Ibrahim terhadap bujuk rayu setan.
Setelah bermalam di Muzdalifah untuk beribadah dan beristirahat—seraya menjamak dan meng-qasar salat Magrib dan Isya serta mengumpulkan batu kerikil untuk prosesi—jemaah mulai bergerak menuju Mina tak lama setelah tengah malam. Sebagian jemaah bermalam di Muzdalifah sampai Subuh.
Baca juga: Muzdalifah: Refleksi Kemanusiaan Adam dan Hawa
Seperti dilaporkan Arab News, Pemerintah Arab Saudi mengatur pergerakan ini dengan sangat cermat. Para jemaah diarahkan dalam gelombang-gelombang terstruktur untuk mencegah penumpukan massa. Jalur-jalur khusus telah dipetakan sebelumnya oleh Kementerian Haji dan Umrah bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri.
Di sepanjang rute, petugas keamanan, satuan pengendali kerumunan, dan para relawan berjaga untuk memastikan perjalanan jemaah—banyak di antaranya lanjut usia atau kelelahan secara fisik—berjalan aman.
Transportasi disediakan melalui armada bus yang beroperasi sesuai jadwal ketat. Sebagian jemaah juga memanfaatkan kereta api khusus haji, Al-Mashaaer Al-Mugaddassah Metro, yang menghubungkan Mina, Arafah, dan Muzdalifah.
Jalur dengan sembilan stasiun ini mampu mengangkut hingga 72.000 penumpang per jam. Menurut Saudi Press Agency, sistem ini secara signifikan mengurangi kepadatan lalu lintas permukaan dan mendukung strategi haji yang aman dan berkelanjutan.
Setibanya di Mina, jemaah langsung menuju Jembatan Jamarat—struktur bertingkat khusus yang dirancang untuk menampung jutaan jemaah saat melempar jumrah.
Setiap jemaah melempar tujuh batu kerikil ke arah Jamrat Aqabah sebagai simbol penolakan terhadap kejahatan. Ritual ini akan diulang dalam dua hari berikutnya di tiga pilar jamarat: Ula, Wusta, dan Aqabah.
Jutaan batu kerikil tersebut jatuh ke bagian bawah Jamarat yang memiliki kedalaman 15 meter. Batu-batu itu kemudian dikumpulkan melalui ban berjalan, disaring, dicuci untuk menghilangkan kotoran, lalu dipindahkan ke kendaraan penyimpanan.
Menurut Ahmed Al-Subhi, perwakilan dari Kidana Development Co. yang mengelola situs-situs suci, batu kerikil dalam kantong-kantong khusus telah disiapkan sebelumnya dan dibagikan di lebih dari 300 titik distribusi di Muzdalifah dan Mina.
Seluruh proses ini merupakan bagian dari sistem besar yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus menjaga makna spiritual dari ritual tersebut.
Untuk kelancaran prosesi di Jamarat, jembatan ini dilengkapi sistem pengawasan canggih, unit ventilasi, jalur evakuasi darurat, serta jalur terpisah bagi kelompok dan individu.
Akses masuk dan keluar dikendalikan melalui kartu Nusuk berbasis RFID dan sistem pelacak kerumunan digital yang dioperasikan oleh Otoritas Data dan Kecerdasan Buatan Saudi (SDAIA).
Menurut Otoritas Umum Statistik Arab Saudi, jumlah jemaah haji tahun ini mencapai 1.673.230 orang, dengan sekitar 1.506.576 di antaranya berasal dari luar negeri. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












