Muzdalifah

Muzdalifah bukan hanya tempat mabit bagi jemaah haji, tapi juga simbol pertemuan manusia pertama dan pelajaran abadi untuk menghadapi ego dan setan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh: Amirsyah Tambunan; Sekjen MUI; Anggota Amirul Hajj Indonesia
Tagar.co – Rangkaian perjalanan jemaah haji Indonesia melalui Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sejak 9 Zulhijah telah berjalan lancar, termasuk pelaksanaan wukuf di Arafah. Meskipun terdapat sejumlah catatan penting, seperti keterlambatan sebagian jemaah memasuki Arafah, namun wukuf tetap sah selama dilakukan sebelum terbit fajar. Setelah wukuf di Arafah, jemaah kemudian bergerak menuju Muzdalifah.
Muzdalifah adalah kawasan terbuka yang terletak di antara Arafah dan Mina, Arab Saudi. Tempat ini memiliki kedudukan penting dalam ibadah haji. Jemaah diwajibkan untuk bermalam (mabit) di sini, meskipun hanya sejenak, setelah menyelesaikan wukuf di Arafah.
Secara etimologis, Muzdalifah berasal dari kata al-izdilaf, yang berarti berkumpul (ijtimak). Menurut sejumlah riwayat, tempat ini dipercaya sebagai lokasi berkumpulnya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah terpisah sekian lama, menjadikannya bagian penting dari Tanah Haram (Masyair Haram).
Mengapa jemaah haji melakukan mabit di Muzdalifah? Karena tempat ini dipandang sakral setelah wukuf di Arafah, dimulai dari malam 9 Zulhijah hingga menjelang fajar 10 Zulhijah. Selama berada di sini, jemaah dapat melakukan salat Magrib dan Isya secara jamak dan qasar. Salat ini sering kali telah dilakukan sebelumnya di Arafah. Di Muzdalifah pula jemaah mulai mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina.
Muzdalifah: Titik Perjumpaan Kemanusiaan
Muzdalifah merupakan tempat suci yang menjadi lokasi bermalam Rasulullah Saw. saat berhaji, sekaligus menjadi bagian dari napak tilas perjalanan spiritual Nabi Adam dan Siti Hawa. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Muzdalifah adalah tempat mereka dipertemukan kembali oleh kasih sayang Allah Swt. setelah terpisah sekian lama. Lebih dari 14 abad setelahnya, risalah Nabi Muhammad Saw. terus meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan dalam ibadah haji.
Dari segi hukum, mabit di Muzdalifah merupakan salah satu kewajiban haji. Bahkan jika tidak memungkinkan turun dari kendaraan, jemaah dapat menjalankan mabit dengan metode murur, yaitu melintas tanpa turun dari kendaraan sambil berdzikir dan berniat mabit. Pendekatan ini, berdasarkan qaul jadid, merupakan solusi untuk mempercepat pergerakan jemaah dari Arafah menuju Mina tanpa kehilangan makna ibadah.
Mabit atau murur di Muzdalifah mengajarkan kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi godaan dan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari. Simbolismenya sangat kuat: setelah perjumpaan dan rekonsiliasi dengan diri dan Tuhan di Arafah dan Muzdalifah, manusia melanjutkan perjalanan menuju Mina. Di sana mereka melempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap iblis.
Melontar jumrah merupakan rukun wajib dalam ibadah haji yang dilaksanakan di Mina dengan melemparkan kerikil kecil ke tiga tiang batu yang disebut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Ritual ini dilakukan pada hari Nahar (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11–13 Zulhijah).
Semoga seluruh rangkaian ibadah haji jemaah Indonesia diterima Allah dan menghasilkan haji yang mabrur. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












