
Apa yang membuat Rasulullah Saw. memuji cuka sebagai lauk terbaik? Pelajaran mendalam ini bisa mengubah cara kita memandang makanan dan makna syukur.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tagar.co – Salah satu pelajaran paling mendalam dari kehidupan Rasulullah Saw. adalah sikap beliau terhadap makanan. Dalam sebuah riwayat sahih dari Imam Muslim, dikisahkan bahwa Nabi memuji cuka sebagai lauk terbaik, meskipun cuka bukanlah makanan mewah.
Dari sinilah umat Islam belajar bahwa kebaikan makanan tidak diukur dari mahalnya harga atau mewahnya penyajian, melainkan dari rasa syukur atas pemberian Allah serta akhlak dalam menikmatinya.
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ، فَقَالُوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ، فَدَعَا بِهِ، فَجَعَلَ يَأْكُلُ، وَيَقُولُ: نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ، نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ
“Dari Jabir raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah meminta lauk kepada istri-istrinya. Mereka menjawab, ‘Kami tidak memiliki apa-apa selain cuka.’ Maka beliau memintanya, lalu memakannya sambil bersabda: ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.’” (H.R. Muslim)
Baca juga: Rahasia Husnul Khatimah
Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak pernah meremehkan makanan, sekecil atau sesederhana apa pun. Beliau justru memuji apa yang tersedia, menampilkan sikap qana’ah (lapang dada) dan menghargai nikmat yang ada. Ini sangat kontras dengan sebagian orang yang mudah mencela makanan, mengeluh jika lauk tak sesuai selera, bahkan tak jarang membuang makanan hanya karena tampilan atau rasa yang kurang berkenan.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (Al-Baqarah: 168)
Ayat ini tidak menyebut makanan harus mewah atau mahal, tetapi halal dan tayib (baik). Cuka, meskipun sederhana, adalah makanan tayib, apalagi bila dimakan dengan niat yang baik dan penuh rasa syukur. Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai nikmal udumu al-khall—sebaik-baik lauk adalah cuka.
Dalam hadis lain, Rasulullah juga mengajarkan adab terhadap makanan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ.
“Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak, beliau meninggalkannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Akhlak luhur ini patut diteladani. Kita tidak diajarkan untuk menjadi penikmat makanan dalam arti mengejar kenikmatan semata, tetapi menjadi pribadi yang bersyukur atas apa yang diberikan Allah. Bahkan, makan bisa menjadi ladang ibadah jika diniatkan dengan benar dan disikapi secara tepat.
Sikap memuji makanan, sekecil atau sesederhana apa pun, membentuk jiwa yang tenang dan hati yang lembut. Di tengah budaya konsumtif dan hedonis saat ini—di mana orang berlomba memamerkan kuliner di media sosial—Rasulullah mengajarkan kita kembali pada kesederhanaan yang membahagiakan. Tidak semua yang mahal itu membawa berkah, dan tidak semua yang sederhana itu hina. Justru dalam kesederhanaan yang disyukuri terdapat ketenangan dan keberkahan sejati.
Para ulama menekankan pentingnya menjaga lisan ketika makan. Imam an-Nawawi dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn menyebut mencela makanan sebagai perbuatan yang dibenci dalam Islam. Jika tidak menyukai suatu makanan, cukup diam atau tinggalkan tanpa menyakiti hati orang yang menyajikannya. Rasulullah pun pernah menolak makanan karena tidak terbiasa, bukan karena makanan itu haram atau buruk:
إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي، وَلَكِنِّي لَا أُحَرِّمُهُ
“Ini bukan makanan yang biasa aku makan, tetapi aku tidak mengharamkannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari kisah cuka itu, kita belajar bahwa memuji makanan bukanlah basa-basi. Ia adalah latihan hati untuk merasa cukup. Ia adalah zikir dalam bentuk pujian atas nikmat yang diberikan Allah.
Rasulullah juga mengaitkan adab makan dengan spiritualitas. Beliau memulai makan dengan basmalah, dan menutupnya dengan doa:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا، وَرَزَقَنِيهِ، مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku makan ini dan memberikannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Saudaraku, memuji makanan adalah amalan ringan namun bernilai besar. Ia mencerminkan kebersihan hati, penghargaan terhadap nikmat Allah, dan penghormatan kepada sesama, khususnya kepada yang menyajikannya. Mari jaga lisan, didik hati, dan perbaiki adab di meja makan. Bisa jadi, kesungguhan kita dalam mensyukuri sesuap makanan menjadi sebab lunaknya hati dan turunnya keberkahan hidup. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












