Film

Jumbo, Masih Jadi Magnet Penonton di KCM Menganti

66
×

Jumbo, Masih Jadi Magnet Penonton di KCM Menganti

Sebarkan artikel ini
Sultan Ahmad Ateem berfoto di depan ticket box di gedung bioskop Kota Cinema Mall (KCM) Laban Menganti Gresik, Jawa Timur, 30 Mei 2025 (Tagar.co/Nadhirotu Mawaddah).

Film animasi Jumbo terus menarik penonton di KCM Menganti. Kisah Don, sahabat, dan petualangannya tak hanya menghibur, tapi juga memberi pesan keberanian dan persahabatan.

Tagar.co — Film animasi Jumbo menjadi primadona layar lebar di Kota Cinema Mall (KCM) Menganti, Gresik, Jawa Timur. Sejak tayang perdana pada libur Lebaran lalu, film ini terus menyedot penonton dan hingga Rabu (30/4/2025), kursi-kursi studio hampir tak pernah kosong.

Baca juga: Jumbo, Animasi Lokal dengan Misi Besar Melawan Perundungan

Bukan hanya di kota-kota besar, di Menganti pun Jumbo berhasil mencuri hati penikmat film berbagai usia. Saya sendiri mengalaminya, ketika putra saya, Sultan Ahmad Ateem (7), berkali-kali meminta diajak menonton karya sutradara Ryan Adriandhy itu.

“Ayo, Bunda cepat. Jangan sampai terlambat,” desaknya, tak sabar ingin segera berangkat.

Kami memilih jadwal di hari biasa, berharap suasana lebih lengang. Tapi dugaan itu meleset. Meski bukan akhir pekan atau hari libur, animo penonton tetap tinggi. Suasana di KCM Menganti tak kalah ramai dibandingkan bioskop di pusat-pusat perbelanjaan kota besar.

Baca Juga:  Haedar Nashir Kritik Gaya Pemimpin Panggung

Kisah Jumbo

Jumbo, yang sudah menembus delapan juta penonton di seluruh Indonesia, menghadirkan kisah yang sederhana namun mengena. Film ini mengikuti perjalanan Don, seorang anak yatim piatu bertubuh besar yang sering menjadi sasaran ejekan karena kelihatan lamban.

Meski begitu, Don tidak sendiri. Ia ditemani dua sahabat setianya, Nurman dan Mae. Bersama mereka, Don menemukan kekuatan dalam buku dongeng warisan orang tuanya—sebuah buku penuh ilustrasi dan kisah ajaib tentang seorang kesatria.

Buku itu bukan sekadar kenangan, tapi juga sumber keberanian Don untuk menghadapi dunia yang sering terasa kejam. Ia pun bertekad tampil di pertunjukan bakat, ingin menghidupkan dongeng kesatria itu di atas panggung dan membuktikan bahwa keajaiban bisa nyata.

Namun, jalannya tidak mulus. Selain cemoohan, Don harus menghadapi Atta, anak yang kerap merundungnya dan bahkan mencuri buku kesayangan itu. Beruntung, dukungan dari Oma serta Nurman dan Mae membuat Don tetap teguh.

Saat berusaha merebut kembali bukunya, Don bertemu Meri—gadis dari dunia lain yang juga tengah mencari orang tuanya. Dari situ, dua perjalanan pun bertemu. Don dan Meri sepakat saling membantu: Meri membantu Don mendapatkan kembali bukunya, dan Don membantu Meri menemukan orang tuanya.

Baca Juga:  Fania dan Ketakutan-Ketakutan Kecil

Alur petualangan yang seru, pesan moral tentang keberanian, persahabatan, dan kepercayaan diri disajikan tanpa berlebihan. Anak-anak mudah larut dalam kisahnya, sementara orang dewasa bisa menangkap makna yang lebih dalam.

“Seru sekali filmnya, aku suka,” ujar Sultan antusias saat keluar dari gedung bioskop.

Bagi penonton cilik seperti Sultan, Jumbo bukan hanya tontonan. Ia menjadi cerita tentang harapan, perjuangan, dan pentingnya memiliki teman sejati. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni