
Tak hanya resolusi, Adian juga menyinggung kiprah panjang DDII dalam mencetak dan mengirim para dai ke pelosok negeri, dari kota hingga pulau-pulau terpencil.
“Melalui STID Mohammad Natsir, kami sudah meluluskan lebih dari seribu dai muda. Mereka tidak hanya berdakwah, tapi juga membangun peradaban dari pinggiran,” tuturnya dengan nada bangga.
Di tengah suasana silaturahmi itu, Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc., selaku Ketua Dewan Pembina DDII, mengingatkan para hadirin akan amanah besar umat Islam melalui kutipan surat Fathir 32: “… di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang bersikap pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan… Itulah karunia yang besar.”
Ayat ini menjadi penguat, bahwa misi dakwah bukan hanya tugas mulia, tapi juga warisan Ilahi yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.
Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyambut baik resolusi dari DDII. Baginya, Mosi Integral Natsir adalah bukti nyata bahwa umat Islam punya kontribusi besar dalam sejarah bangsa. “Usulan ini sangat relevan dan layak dikaji lebih lanjut sebagai bagian dari rekonsolidasi sejarah kebangsaan,” ujarnya.

Tak ketinggalan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Pangan, Zulkifli Hasan, turut hadir dan memberikan sambutan. Ia mengenang masa-masa aktifnya sebagai kader Dewan Dakwah. “Saya bukan orang luar. Saya ini bagian dari keluarga besar DDII,” ucapnya dengan senyum lebar disambut tepuk tangan hangat.
Kisah menyentuh datang dari Tamsil Linrung, anggota DPD RI. Ia menceritakan pengalaman salah satu dai DDII asal Pulau Buru, Ustaz Majdi, yang ketika diundang ke Jakarta meminta agar istrinya turut serta. “Permintaan sederhana ini menyentuh hati. Ini tentang cinta, bukan hanya kepada dakwah, tapi juga kepada keluarga dan tanah kelahiran,” kata Tamsil dengan nada haru.
Acara yang dipenuhi semangat ukhuwah ini ditutup dengan doa dan tekad bersama untuk memperkuat kolaborasi dakwah serta menjaga keutuhan NKRI di tengah tantangan zaman. Silaturrahim bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum strategis untuk merawat keimanan, kebangsaan, dan peradaban. (#)
Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












