OpiniUtama

Berdikari di Era America First

74
×

Berdikari di Era America First

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Di tengah kebijakan proteksionis dunia, terutama dari AS, Indonesia harus kembali ke semangat berdikari. Gagasan Bung Karno ini kini jadi kunci menjaga kedaulatan ekonomi dan martabat bangsa.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Kata berdikari pertama kali disampaikan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1964. Berdikari adalah akronim dari berdiri di kaki sendiri. Bung Karno menyampaikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mandiri, yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Namun, berdikari tidak pernah dimaksudkan agar bangsa dan negara kita menjadi anti terhadap segala sesuatu yang “berbau” asing atau dari luar. Bukan berarti anti modal asing, bukan berarti anti kehadiran ahli-ahli asing, bukan pula anti terhadap ilmu dan teknologi luar.

Berdikari yang dimaksud Bung Karno adalah sikap nasionalisme yang berwawasan luas dan maju dalam menyelenggarakan kehidupan ekonomi bangsa.

Dalam konteks yang lebih luas, berdikari dapat diartikan sebagai kemampuan untuk:

  • Mengambil keputusan sendiri

  • Mengatur diri sendiri

  • Bertanggung jawab atas tindakan sendiri

  • Mandiri dalam menghadapi tantangan dan kesulitan

Baca Juga:  Mengelola Kekuasaan: Antara Amanah dan Godaan

Dengan demikian, konsep berdikari adalah nilai penting dalam pembangunan karakter individu sekaligus fondasi negara yang kuat dan mandiri.

Situasi Dunia Sekarang

Di tengah ketidakstabilan global, kita menyaksikan bagaimana kebijakan Presiden Donald Trump memberi dampak besar, khususnya terhadap negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Amerika Serikat.

Trump datang dengan jargon politik yang sangat jelas: “America First.”

Sikap politik ini menempatkan kepentingan warga dan negara Amerika di atas segalanya. Ia melahirkan pendekatan luar negeri yang kental dengan nasionalisme, unilateralisme, proteksionisme, bahkan isolasionisme.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kebijakan Trump juga berdampak pada Indonesia. Salah satunya melalui penerapan tarif resiprocal (timbal balik) atas barang-barang impor asal Indonesia yang masuk ke pasar AS.
Tarif tersebut mencapai 32 persen. Artinya, bila sebuah barang dari Indonesia dijual seharga Rp100, maka di pasar Amerika akan menjadi Rp132 akibat beban pajak.

Kondisi ini memicu hambatan dalam perdagangan dan potensi penurunan ekspor Indonesia ke AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar bahkan bisa terdorong hingga Rp17.000.

Baca Juga:  Menelisik Resep Kemajuan Cina: Catatan Perjalanan ke Shenzhen

Namun, situasi ini seharusnya tidak menjadi ratapan. Justru, inilah saatnya bangsa Indonesia menjadikannya sebagai tantangan untuk menghidupkan kembali semangat berdikari.
Langkah yang diperlukan adalah upaya berdikari secara ekonomi, politik, dan teknologi. Pimpinan dan rakyat Indonesia perlu menumbuhkan rasa percaya diri pada potensi dalam negeri untuk menghadapi tekanan global ini.

Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap luar negeri masih tinggi—baik di bidang ekonomi, politik, sumber daya manusia, maupun teknologi.

Sudah waktunya barang-barang produksi dalam negeri diprioritaskan untuk pasar lokal maupun negara tujuan ekspor selain Amerika. Dan bahan baku dari luar negeri harus mulai diupayakan bisa diproduksi sendiri. Bila perlu, Indonesia pun menetapkan tarif resiprocal kepada negara-negara asing.

Dengan cara ini, ketergantungan terhadap negara lain akan berkurang, dan kemandirian bangsa bisa terwujud secara nyata.

Penutup

Indonesia adalah negara besar yang berdaulat. Maka sudah sepatutnya kita mampu berdiri di kaki sendiriberdikari.

Komitmen pemimpin menjadi kekuatan utama untuk mendorong terciptanya kemandirian bangsa.
Sementara masyarakat perlu dilatih dan dididik untuk bisa hidup berdikari sebagai bagian dari jati diri, baik secara pribadi maupun keluarga.

Baca Juga:  Ingin Damai tapi Mengajak Perang

Kita tetap menjalin kerja sama dengan semua pihak di dunia, tapi kita harus berdiri dengan kepala tegak. “Bersama-sama, Indonesia Bisa.”

Banjarmasin, 10 April 2025

Penyunting Mohammaf Nurfatoni