
Senja Ramadan di Masjid Darul Falah menghadirkan kajian menyentuh tentang tauhid dan akhlak, menyalakan kembali semangat keluarga sebagai madrasah pertama dalam menanamkan iman dan cinta kasih.
Tagar.co – Jarum jam menunjukkan pukul 17.54 WIB ketika langkah kaki ini menyusuri pelataran Masjid Darul Falah, Pelangwot, Laren, Lamongan, Jawa Timur. Angin sore berembus pelan, membawa harum dedaunan dan suasana yang begitu tenteram. Matahari senja mengguratkan cahaya keemasan di langit barat, memayungi para jemaah yang telah berkumpul dalam diam, menanti azan berbuka puasa.
Mimbar telah disiapkan takmir masjid dengan rapi, terbungkus kain putih bersih, seperti menyambut kesucian niat yang hadir dalam majelis ilmu ini. Lantunan doa mengalun lembut, berpadu dengan gemerisik daun dari pepohonan di halaman masjid. Setiap tarikan napas terasa sakral—seolah waktu ikut memperlambat langkahnya, memberi ruang bagi hati untuk menyerap keheningan yang menyentuh.
Baca juga: Beramal dalam Diam, Kisah Pedangang Buah Mencari Rida Allah
Saya duduk sejenak di mimbar. Tangan menyentuh dinginnya kayu, menenangkan diri, menyiapkan hati. Lalu, salam pembuka pun terucap dengan suara jernih dan penuh ketulusan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Jawaban dari jemaah menggema serempak, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Suara mereka menyatu dalam semangat dan kekhusyukan, menggetarkan dinding-dinding masjid. Udara menjadi hangat, seperti dipeluk oleh ukhuwah yang tak tampak namun sangat terasa.
Di balik pandangan mata jemaah, saya menangkap kerinduan yang sama: rindu akan ilmu, rindu akan kedamaian. Dan pada sore yang penuh berkah itu, saya mengajak mereka menyelami tema, “Menanamkan Tauhid dan Akhlak dalam Keluarga.” Sebuah tema yang terasa begitu relevan—di tengah dunia yang terus bergerak, keluarga menjadi benteng terakhir tempat keimanan dan akhlak diuji setiap hari.
“Tauhid,” saya mulai, “bukan sekadar meyakini keesaan Allah dalam hati. Tapi bagaimana ia hadir dalam ucapan, dalam cara kita mendidik anak, hingga bagaimana kita menyikapi ujian kehidupan.” Beberapa jemaah mengangguk, yang lain menunduk dalam renungan.
“Dan akhlak,” lanjut saya, “adalah cermin dari tauhid itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Allah, tapi masih menyakiti pasangannya? Atau rajin beribadah, tapi kasar kepada anak-anaknya?”
Saya mengangkat mushaf, membuka Surah Lukman 13, dan membacakan wasiat Lukman kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah.”
Jamaah menyimak penuh perhatian. Dalam ayat itu, saya tekankan, terletak landasan pertama dalam membangun keluarga: menanamkan tauhid sejak dini, sebelum mengenalkan huruf, sebelum mengajarkan dunia.
Tauhid, saya katakan, bukan teori. Ia hidup ketika seorang ayah mengajak anaknya salat berjemaah, atau ketika seorang ibu menasihati anaknya agar jujur karena Allah Maha Melihat. Dan akhlak? Ia adalah buah dari pohon iman. Rasulullah Saw. bahkan menyandingkan kesempurnaan iman dengan akhlak mulia.
“Rumah kita adalah madrasah pertama,” ucap saya sambil tersenyum, “tempat di mana meja makan menjadi kelas kesabaran, kamar tidur menjadi ruang latihan kedisiplinan, dan pelukan di pagi hari menjadi praktik kasih sayang ala Rasulullah.”
Saya pun mengibaratkan tauhid dan akhlak sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Satu sisi bertuliskan “Lā ilāha illallāh“, dan sisi lain “Muhammadur rasūlullāh.” Tidak bisa dipisahkan. Mustahil memiliki keimanan sejati tanpa perilaku mulia, atau sebaliknya. “Seperti uang palsu,” ujar saya disambut tawa ringan jemaah, “yang tidak laku di akhirat kelak.”
Suasana kembali hening ketika saya bercerita tentang seorang ayah yang marah saat anaknya bertanya soal salat. Tanpa sadar, sang ayah mengajarkan syirik emosional: mendahulukan amarah daripada ketaatan kepada Allah. Jemaah terdiam, beberapa menunduk. Mungkin mengingat pengalaman yang sama.
Saya menunjuk ke jendela masjid. Senja telah nyaris purna. “Matahari yang sama yang menyinari masjid ini juga menyinari rumah kita. Tauhid yang kita pelajari di sini harus memancar sama terangnya saat kita menyuapi anak, memandikan orang tua, atau memperbaiki silaturahmi yang sempat terputus.”
Sore itu, saya ajak jemaah membuat tekad baru. Menjadikan rumah sebagai taman tauhid, tempat sunnah Nabi hidup dalam setiap sapaan, setiap nasihat lembut, dan setiap senyuman penguat jiwa. Tauhid dan akhlak menjadi “mata uang spiritual” yang kita bawa dari masjid ke pasar, dari kajian ke ruang makan.
Tak terasa, adzan Magrib pun berkumandang. Doa ditutup, takjil disiapkan, dan jemaah berbuka puasa bersama dalam suasana syukur dan kebersamaan. Semoga pesan tauhid dan akhlak yang digaungkan sore itu tak hanya mengendap sebagai pengetahuan, tapi tumbuh sebagai amal nyata dalam setiap detik kehidupan keluarga. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni






