
Kultum ini mengajak umat Islam tampil indah dengan fashion yang kreatif, sopan, dan syar’i. Menutup aurat, tidak berlebihan, serta menjaga identitas adalah prinsip utamanya.
Kultum Ramadan (Seri 27); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.
Tagar.co – Fashion Muslim yang Artistik dan sesuai Syariat tepat untuk menjadi bahan Kultum Ramadan kali ini. Baca selengkapnya:
اَلْـحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالاِتِّحَادِ وَالاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah menciptakan manusia dengan kecintaan terhadap keindahan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau yang senantiasa mengikuti ajaran Islam.
Pada kesempatan ini, mari kita renungkan tentang fashion muslim yang sedang naik daun. Meskipun belum mampu menggeser fashion konvensional di tingkat global, fashion muslim telah menunjukkan eksistensinya sebagai gaya hidup yang indah dan syar’i.
Baca juga: Kultum Ramadan: Disiplin dan Tertib, Ciri Muslim Sejati
Bagaimana fashion muslim yang artistik namun tetap menjaga nilai-nilai fikih dan ajaran Islam? Dan bagaimana membudayakan tren fashion yang digemari masyarakat, namun tetap sopan dan sesuai sunah?
Keindahan adalah salah satu napas Islam. Dalam semua aspek kehidupan, Islam mendorong keindahan. Keindahan dalam Islam menyangkut dua aspek yang saling terkait, yaitu keindahan fisik dan akhlak. Namun, dalam kesempatan kultum ini, kita akan lebih fokus pada bagaimana memperindah diri dengan pakaian fisik atau fashion. Sedangkan kecantikan akhlak bisa kita bahas di lain waktu.
Banyak konsep keindahan dalam Al-Qur’an, di antaranya firman Allah Swt. dalam Surah Al-A’raf ayat 31:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kita boleh menikmati keindahan dan berhias, tetapi harus menghindari sikap berlebihan (israf). Pakaian yang bagus bukan hanya untuk pesta atau bertemu manusia, tetapi lebih penting lagi saat beribadah. Bukan hanya sekadar menutup aurat, tetapi mencerminkan prioritas kita dalam menghadap Allah Swt.
Model pakaian yang baik bagi komunitas muslim bisa beradaptasi dengan budaya lokal, asalkan memenuhi syarat fikih. Muslim Indonesia sangat sopan dan indah ketika salat mengenakan sarung. Muslim Turki atau di negara Barat senang mengenakan jas karena dianggap pakaian terbaik. Muslim Rusia terbiasa memakai mantel tebal dan penutup kepala dari bulu. Muslim Timur Tengah memakai jubah sebagai pakaian terbaik dalam ibadah.
Selain Al-Qur’an, banyak juga hadis tentang berhias dan menutup aurat sebagai identitas Islam yang indah. Keindahan bukan hanya disukai manusia, tetapi juga disukai Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)
Meskipun keindahan hakiki terletak pada akhlak yang luhur, keindahan pakaian tetap penting. Pakaian menjadi identitas dan kebanggaan muslim saat berinteraksi dengan nonmuslim. Bisa jadi pakaian yang indah menimbulkan kekaguman dan rasa hormat. Islam adalah agama yang estetik, indah, rapi, dan bersih. Islam tidak melarang berhias, selama sesuai dengan syariat.
Berhias adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi harus dilakukan dengan cara yang sesuai syariat. Pakaian harus menutup aurat dan tidak menyerupai lawan jenis. Bagi seorang muslim, pakaian mencerminkan kepribadian. Karena itu, fashion muslim harus menunjukkan kesederhanaan dan kesopanan.
Standar Fashion Muslim yang Artistik dan Syar’i
1. Menutup Aurat
Menutup aurat adalah kewajiban, baik saat ibadah maupun di luar ibadah. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan jangan menampakkan perhiasannya (aurat) kecuali yang biasa tampak darinya.”
Pakaian muslimah sering diserang oleh orientalis sebagai bentuk penindasan. Namun, Islam menjawab bahwa menutup aurat adalah bentuk kebebasan sejati—bebas dari hegemoni media dan standar kecantikan yang terus berubah. Seorang muslim tidak ingin dikenali hanya dari pakaiannya, tetapi dari akhlak, karakter, dan pemikirannya.
2. Tidak Berlebihan (Israf)
Rasulullah Saw. bersabda:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا مَا لَمْ يُخَالِطْهُ إِسْرَافٌ أَوْ مَخِيلَةٌ
“Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah selama tidak berlebihan dan tidak sombong.” (HR. Ibnu Majah)
Keindahan fashion muslim adalah pelengkap akhlak. Tidak perlu berlebihan. Biarkan orang lebih terfokus pada akhlak dan kontribusi kita, bukan sekadar penampilan luar.
3. Tidak Menyerupai Lawan Jenis
Rasulullah Saw. bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (H.R. Abu Dawud)
Namun, kesepakatan adat yang sesuai fikih tetap bisa diterima. Misalnya, di Indonesia jubah dulunya hanya dipakai perempuan, tetapi di Arab Saudi dipakai oleh laki-laki. Yang penting adalah menjaga batasan yang tidak mengaburkan identitas jenis kelamin.
4 Tidak Menyerupai Orang Kafir
Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (H.R. Abu Dawud)
Meniru gaya hidup, simbol, atau pakaian yang menjadi ciri khas orang kafir dilarang karena bisa mencampuradukkan identitas dan akidah. Namun, meniru hal-hal yang bersifat muamalah seperti jas atau jaket, tetap diperbolehkan jika tidak mengandung simbol kekafiran.
Agar fashion muslim diterima global, perlu edukasi dan sosialisasi. Bisa melalui seminar, workshop, dan media sosial. Meski kriteria fikih tetap utama, fashion muslim harus tampil kreatif, menarik, dan tetap syar’i.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 26:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا
“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan.”
Media sosial harus dimanfaatkan untuk menyebarluaskan fashion muslim yang sesuai syariat. Rasulullah Saw. bersabda:
الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
“Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka dialah yang paling berhak atasnya.” (H.R. Tirmizi)
Fashion muslim juga harus diajarkan sejak dini agar identitas ini melekat kuat. Orang tua harus memilihkan pakaian yang sopan dan sesuai syariat untuk anak-anaknya.
Guru mengajak murid mengenakan seragam yang sopan. Masyarakat membiasakan diri memakai pakaian yang sopan dalam berbagai situasi. Pakaian yang sopan adalah bentuk penghormatan kepada sesama.
Marilah kita menjadi muslim yang selalu tampil indah dengan fashion yang sesuai syariat. Dengan menutup aurat, tidak berlebihan, tidak menyerupai lawan jenis, dan tidak menyerupai orang kafir, kita akan menjadi muslim yang berpenampilan indah dan syar’i.
Semoga Allah Swt. memberikan kita kekuatan untuk selalu tampil indah dalam balutan fashion yang sesuai syariat. Amin yarabalalamin. (#)
Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni


