
Salat tarawih bukan sekadar ibadah malam, tapi juga “fitnes Ramadan” yang menyehatkan. Dari keseimbangan hingga fleksibilitas, setiap gerakannya memberi manfaat fisik dan spiritual. Jangan buru-buru, nikmati setiap rakaatnya sembari istiraha!
Opini oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis
Tagar.co – Bulan Ramadan kini masuk hari ketujuh! Selain aroma kurma dan kolak yang menggoda, satu ibadah yang selalu dilaksanakan adalah salat tarawih. Tapi, pernahkah Anda berpikir, mengapa disebut “tarawih”? Apa ada hubungannya dengan istirahat di malam hari? Juga olahraga?
Mari kita bongkar istilahnya. “Salat” jelas kita tahu artinya: ibadah yang menghubungkan manusia dengan Allah Swt. Nah, “tarawih” adalah kata jamak dari tarwihah, yang berasal dari kata Arab, yang berarti istirahat atau bersantai.
Baca juga: Kutiba: Jejak Purba di Balik Perintah Puasa
Mengapa bersantai? Ya, karena pada zaman sahabat dahulu, umat Islam melaksanakan salat ini dengan sangat panjang dan khusyuk, sehingga setiap selesai empat rakaat, mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan. Di Masjidilharam, hal ini masih berlangsung.
Bayangkan betapa lamanya durasi salat mereka, sampai perlu ada sesi istirahat! Ini karena, tak jarang imam membacakan ayat suci al-Qur’an sampai tamat satu juz. Namun, di masa sekarang, banyak yang lebih memilih tarawih versi “kilat” daripada yang “slow motion” ala generasi awal.
Rasulullah ﷺ sendiri melaksanakan salat di malam Ramadan itu. Awalnya, beliau salat secara berjemaah di masjid, tapi setelah melihat banyaknya orang yang ikut serta, beliau berhenti keluar rumah karena khawatir umat menganggap tarawih itu ibadah wajib, bukan sunnah.
Namun, di era Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat orang-orang salat sendiri-sendiri di masjid, lalu memutuskan untuk menyatukan mereka dalam satu jamaah dengan imam tetap, Ubay bin Ka‘b. Dari sinilah tarawih berjamaah yang kita kenal sekarang bermula.
Bagi yang rajin tarawih setiap malam, sadar atau tidak, mereka sedang menjalankan program “fitnes Ramadan” yang cukup efektif. Bagaimana tidak? Coba perhatikan pola gerakan salat tarawih. Dalam tarawih, kita berdiri lama (qiyam). Ini melatih ketahanan tubuh dan keseimbangan.
Seperti salat pada umumnya, kita juga melakukan rukuk, yang akan melenturkan otot punggung dan mengurangi ketegangan pada tulang belakang. Selanjutnya, kita sujud, yang akan memaksimalkan aliran darah ke otak, mengurangi stres, dan meningkatkan fokus.
Berikutnya, dalam salat, kita duduk di antara dua sujud. Ini juga akan melatih fleksibilitas sendi dan otot paha. Sedangkan gerakan berulang selama 8 hingga 20 rakaat dalam salat tarawih, itu mirip dengan latihan aerobik ringan yang membantu peredaran darah.
Tak aneh jika, menurut penelitian, gerakan salat yang dilakukan berulang-ulang bisa meningkatkan fleksibilitas tubuh dan membantu sistem kardiovaskular. Ini menyehatkan. Apalagi, seperti dalam tarawih, salat dilakukan berulang sampai 8 hingga 20 kali.
Bahkan, bagi yang sulit tidur, tarawih bisa menjadi solusi alami untuk mendapatkan tidur yang lebih nyenyak. Bayangkan, setelah salat tarawih, tubuh terasa menjadi rileks, otot lentur, aliran darah lancar, pikiran tenang, dan akhirnya tidur pun lebih berkualitas.
Selain manfaat fisiknya, tarawih juga memberi efek psikologis yang luar biasa. Ada sesuatu yang unik dalam salat ini: kebersamaan. Kita merasakan solidaritas dengan sesama muslim, mendengarkan bacaan imam yang indah, dan laku refleksi spiritual setelah seharian berpuasa.
Salat tarawih itu ibadah yang tak hanya menyehatkan ruhani, tapi juga jasmani. Dan karena ini “salat istirahat”, mungkin sebaiknya kita tidak terburu-buru dalam melaksanakannya. Tarawih perlu jadi momen menikmati Ramadan, bukan ajang balapan menuju salam terakhir. (#)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 7 Maret 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












