Feature

Satu Desa Satu PAUD: Target Kemendikdasmen dan Kemendes PDT

63
×

Satu Desa Satu PAUD: Target Kemendikdasmen dan Kemendes PDT

Sebarkan artikel ini
Kemendikdasmen Abdul Mu’ti (kanan) dan Kemendes PDT), Yandri Susanto dalam pertemuan Kamis (16/1/25)

Masih banyak desa yang tidak ada PAUD. Padahal PAUD sebagai fondasi pendidikan karakter seperti di banyak negara. Karena itu kedua kementerian ini bersinergi untuk membuat langkah-langkah startegis, di antaranya setiap desa harus ada satu PAUD.

Tagar.co – Masa depan bangsa terletak pada generasi mudanya. Dan pendidikan anak usia dini (PAUD) memegang peranan krusial sebagai peletak dasar pendidikan karakter mereka. Namun, realita di lapangan masih menyisakan keprihatinan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan sebuah fakta yang mengusik nurani: masih banyak desa di Indonesia yang belum memiliki satuan PAUD.

“(Saat ini) kondisinya masih banyak desa yang tidak ada PAUD. Padahal (PAUD) sebagai fondasi pendidikan karakter seperti di banyak negara,” ungkap Menteri Mu’ti dalam audiensi dengan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Yandri Susanto, di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (16/1/25). Pernyataan ini menjadi pembuka diskusi yang hangat dan penuh komitmen untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Baca juga: Aisyiyah dan Kemendikdasmen Bersinergi untuk Pendidikan Inklusif di Indonesia

Baca Juga:  Pesan Subuh Mendikdasmen kepada Santri Gombara

Menteri Yandri tak menampik kenyataan itu. Ia mengakui bahwa ketersediaan sumber daya manusia (SDM) guru PAUD yang mumpuni menjadi kendala utama. “Kita bisa membangun, tapi biasanya problem-nya tidak ada SDM guru,” ucapnya, menggarisbawahi bahwa pembangunan fisik gedung sekolah saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan tenaga pendidik yang berkualitas.

Menyadari urgensi permasalahan ini, kedua kementerian sepakat untuk bersinergi, merumuskan langkah-langkah strategis guna meningkatkan akses dan kualitas PAUD di seluruh desa. Salah satu target ambisius yang ingin dicapai adalah mengangkat martabat profesi guru PAUD, menjadikannya sebuah kebanggaan di tengah masyarakat. Sebuah profesi mulia yang berkontribusi besar dalam membentuk karakter generasi penerus.

Mendikdasmen Mu’ti memaparkan rencana aksi yang akan segera digulirkan. Langkah pertama adalah dengan meresmikan kerja sama melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kemendikdasmen dan Kemendes PDT. MoU ini akan menjadi landasan hukum bagi tiga program utama: pendirian PAUD di desa-desa yang masih belum memiliki, rekrutmen relawan pendidikan dari kalangan muda untuk meningkatkan SDM, serta pengadaan pelatihan bagi para guru PAUD agar semakin profesional.

Baca Juga:  Manhaj Muhammadiyah: Berakar pada Tauhid Murni, Berbuah Amal Saleh

Lebih lanjut, Menteri Mu’ti menegaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada pendirian PAUD baru, tetapi juga akan merevitalisasi kualitas PAUD yang sudah ada. “Tidak harus sekolah negeri, karena jumlah PAUD lebih banyak dikelola oleh swasta,” imbuhnya, menunjukkan komitmen untuk merangkul semua pihak dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini.

Gayung pun bersambut. Mendes PDT, Yandri Susanto, menyambut baik inisiatif ini. Pihaknya berkomitmen untuk segera melakukan sinkronisasi data PAUD di desa dengan Kemendikdasmen dan menetapkan lokasi-lokasi prioritas yang membutuhkan perhatian khusus.

“Kunci Pembangunan negara ada di desa. Ke depan, desa menjadi pilihan berkarir dan hidup, sehingga sekolah di desa, bekerja di desa, menikah di desa, hingga meninggal di desa,” tegas Menteri Yandri, menegaskan visi besarnya untuk membangun desa sebagai pusat kehidupan yang berkualitas, di mana pendidikan menjadi salah satu pilar utamanya.

Sebagai puncak dari komitmen bersama ini, kedua kementerian berencana menggelar “Festival Bangun Desa Bangun Pendidikan”, sebuah acara yang akan menjadi momentum bersejarah dalam upaya menghadirkan PAUD berkualitas di setiap desa.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti: Memahami Al-Qur’an Dimulai dari Membersihkan Hati

Sebuah langkah nyata untuk membangun pondasi bangsa yang kokoh, dimulai dari pendidikan anak usia dini. Semoga dengan sinergi ini, mimpi untuk melihat anak-anak di seluruh pelosok negeri mendapatkan akses pendidikan yang layak dapat segera terwujud. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni