Feature

8.000 Orang Hadiri Silatnas XII eLKISI: Pesan Persatuan Umat Bergema di Mojokerto

36
×

8.000 Orang Hadiri Silatnas XII eLKISI: Pesan Persatuan Umat Bergema di Mojokerto

Sebarkan artikel ini
Silaturahmi Nasional (Silatnas) XII PPIC eLKISI, ahad 27 Julid 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Silatnas XII PPIC eLKISI tak hanya mengumpulkan ribuan jemaah dari seluruh Nusantara, tapi juga menggelorakan pesan persatuan, pendidikan beradab, dan kepedulian global. Dari sini, cahaya peradaban Islam dipancarkan kembali.

Tagar.co –  Lautan manusia membanjiri kompleks Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI, Mojokerto, Jawa Timur, pada Ahad 27 Juli 2025 pagi yang penuh semangat. Lebih dari 8.000 jemaah datang dari berbagai penjuru Indonesia, melampaui ekspektasi panitia yang sebelumnya memperkirakan hanya 5.000 peserta.

Mereka berdesakan di halaman utama, masjid, kantin, hingga sisi kanan kompleks pesantren. Semua datang untuk satu tujuan: bersilaturahmi, mendengarkan hikmah, dan meneguhkan komitmen perjuangan keumatan dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) XII PPIC eLKISI.

Baca juga: Silatnas Elkisi Diikuti 5000 Orang dari Papua hingga Surabaya

Suasana haru dan hikmat membuka rangkaian acara. Syeikh Ahmad Adhim, ulama terkemuka dari Mesir, membuka sambutan dengan menyebut eLKISI sebagai bagian dari cabang Al-Azhar di Indonesia.

“Saya berharap lembaga ini menjadi jembatan bagi para pemuda-pemudi Indonesia dalam mendalami keilmuan Islam di Universitas Al-Azhar Kairo, dan mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik,” tuturnya dalam pidato kehormatannya.

Sorotan berikutnya datang dari Mudir Ma’had PPIC eLKISI, K.H. Dr. Fathur Rohman, yang juga Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Jawa Timur.

Baca Juga:  Menanti Magrib dari Rooftop Al-Azhar Kairo

Dalam orasi kebangsaannya, ia menyambut hangat kehadiran berbagai tokoh dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Wakil Menteri Agama RI, Wakil Dubes Mesir, serta tokoh-tokoh dari Muhammadiyah, NU, dan MUI.

Dari kiri: Sekretaris DDII Jatim Tom Mas’udi; Muhammad Syafi’i; Fathur Rohman; dan Fathurrahman Kamal (Tagar.co/Istimewa)

“Pondok ini bukan milik pribadi. Hidup dan matinya pondok ini sangat bergantung pada kepercayaan dan dukungan jamaah,” ungkapnya penuh ketawadhu’an. “Saya hanya penggagas bersama para mu’assis lainnya.”

Fathur Rohman juga memaparkan langkah strategis eLKISI dalam meningkatkan kapasitas pengajar. “Saat ini sudah ada tiga asatiz bergelar doktor, dan insyaallah tahun 2026 akan bertambah empat lagi,” ujarnya, menandai komitmen pondok untuk terus meng-upgrade kualitas pendidikan dan dakwah.

Prestasi santri pun tak luput dari sorotan. Sebanyak 15 santri diterima di Universitas Al-Azhar melalui jalur SMA Azhari eLKISI, dan 83 lainnya melalui jalur Markaz Lughoh eLKISI. “Kami juga sedang mengupayakan muadalah dengan Universitas Islam Madinah agar peluang santri semakin terbuka,” jelasnya.

Tak hanya unggul dalam akademik, eLKISI juga menanamkan adab dan karakter lewat program-program seperti kelas kader ulama, sekolah sepak bola berbasis adab, serta pendekatan pendidikan integratif. Semua dirancang untuk mencetak santri yang bukan hanya cerdas, tapi juga beradab dan siap menjadi pemimpin masa depan.

Baca Juga:  Pimpinan PPIC eLKISI Bertemu Rektor Al-Azhar, Perkuat Kerja Sama Pendidikan Internasional”

Wakil Duta Besar Mesir, Syeikh HE Osamah Muhammad Hamdy, turut memberikan apresiasi. Ia mengaku telah beberapa kali mengunjungi eLKISI dan menyaksikan langsung keseriusan pondok dalam mempersiapkan santrinya secara akademik dan spiritual. “eLKISI adalah representasi Al-Azhar di Indonesia,” ujarnya sambil mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga besar pesantren.

Dr. K.H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.A. (Tagar.co/Istimewa)

Jaga Ukhuwah Islamiah

Sementara itu, Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dr. K.H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.A.., dalam pidato inspiratifnya menyoroti pentingnya menjaga ukhuwah Islamiah. Ia bahkan mengaku terkesan dengan sambutan Banser dan Kokam di PPIC eLKISI. “Ini adalah cermin persatuan umat dan kekuatan Indonesia,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahaya narasi perpecahan dan chauvinisme—yang dalam Islam disebut hamiyatal jahiliyah. “Islam tidak melawan kezaliman dengan kezaliman, tapi dengan cahaya – Annur, yaitu ilmu dan keadilan,” tegasnya. “Kalau negeri ini ingin maju, syaratnya dua: adab dan ilmu. Jika itu terpenuhi, siapapun pemimpinnya akan membawa kebaikan.”

Ia pun mengajak hadirin untuk merenungi sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. “Jika sila pertama belum tuntas secara spiritual dan filosofis, maka sila-sila berikutnya tidak akan bekerja sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Baca Juga:  PPIC eLKISI Lepas 272 Dai Muda, Siap Berdakwah hingga Perbatasan dan Mancanegara
Wakil Menteri Agama Dr. H.R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum (Tagar.co/Istimewa)

Puncak acara ditandai dengan pidato Wakil Menteri Agama Dr. H.R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum. Mengutip Presiden Prabowo Subianto, ia menyatakan bahwa “pesantren adalah ibu kandung negeri ini.” Ia menegaskan, sejarah tak bisa memungkiri peran sentral ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Wamenag juga memuji aksi konkret penggalangan dana untuk Palestina yang dilakukan dalam Silatnas ini. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari 60 juta rupiah. “Ini bukti bahwa kepedulian umat terhadap Palestina tetap menyala di tengah kesibukan,” ungkapnya. Ia menyebut langkah ini sebagai pengejawantahan amanat UUD 1945, bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

Ia menutup dengan harapan agar dari rahim pesantren seperti eLKISI akan lahir para pemimpin bangsa yang amanah, adil, dan bijaksana.

Silatnas XII ini pun menjadi penanda: bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga pusat kekuatan moral, kebangsaan, dan peradaban. PPIC eLKISI terus melangkah mantap sebagai pusat kaderisasi ulama dan pemimpin—mereka yang cerdas akalnya, jernih jiwanya, dan kokoh komitmennya untuk umat dan bangsa. (#)

Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni