Feature

16 Parikan Ustaz Soedjono: Tawa yang Menyentuh Iman

94
×

16 Parikan Ustaz Soedjono: Tawa yang Menyentuh Iman

Sebarkan artikel ini
Ustaz Soedjono dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa, Wisma Sidojangkung Indah, Gresik, Jawa Timur, Ahad, 6 Juli 2025. (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Ceramah Ustaz Soedjono di Masjid At-Taqwa Menganti Gresik bukan sekadar pengajian. Lewat 16 parikan, ia menyampaikan pesan cinta kepada Allah dengan gaya rakyat yang lucu tapi menyentuh, membuat jemaah tertawa sekaligus tersadar.

Tagar.co — Pagi belum sepenuhnya benderang ketika satu per satu jemaah mulai berdatangan ke Masjid At-Taqwa, Wisma Sidojangkung Indah, Gresik, Jawa Timur, Ahad, 6 Juli 2025, untuk memgikuti Pengajian Ahad Pagi.

Namun, bukan hanya udara sejuk yang membuat suasana pagi di masjid yang dikelilingi sawah itu terasa berbeda. Hari itu, seorang dai yang tak biasa dijadwalkan mengisi ceramah: Ustaz Soedjono, M.Pd., sang “Dai Segudang Parikan”.

Baca juga: Hidup Hanya Sekali, Sayang bila Tak Berarti

Bukan tanpa alasan julukan itu disematkan padanya. Selama lebih dari satu jam, Soedjono menyampaikan ceramah dengan selipan 16 parikan—pantun khas Jawa dengan rima dan irama rakyat yang kocak tapi mengandung makna.

Dari awal ia sudah memancing gelombang tawa. Belum semua jemaah menjawab salamnya, ia langsung menegur dengan parikan:

Ngowo talam ngadahi gedang sak cengkeh, sing gak jawab salam berarti utange akeh. (1)

Seketika suasana mencair. Ia menyapa jemaah laki-laki dan perempuan dengan pantun ringan, seolah menyiapkan ruang hati sebelum pesan-pesan besar disampaikan:

Ketumbar dimakan burung gelatik, apa kabar ibu-ibu yang cantik? (2)
Ketumbar di atas nampan, bagaimana kabar bapak-bapak yang tampan? (3)

Baca Juga:  Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

Pembukaan itu disambut hangat. Tapi Soedjono tak berlama-lama dalam gurauan. Ia segera mengalihkan ke tema utama: introspeksi diri di tahun baru Hijriah.

Katanya, usia itu bukan bertambah, tapi justru berkurang. Maka ia pun menyelipkan ucapan tahun baru dengan gaya khas:

Cah turu ojo disiram, selamat tahun baru 1 Muharam. (4)

Saat membahas semangat datang ke masjid meski cuaca sejuk dan kantuk menyerang, Soedjono tetap tak kehabisan bahan:

Gedang klutuk jemblem diwadahi berkat, mripate ngantuk hawane adem, tapi tetep semangat. (5)

Dia juga mendoakan jemaah melalui parikan:

Sego digawe teko beras, tukune nang Pasar Hulaan, mugo-mugo seng teko saiki, awake seger waras. (6)

Tak berselang lama, tema berubah ke refleksi usia tua. Ia menghidupkan kenangan masa muda dengan parikan khas nostalgia:

Zamane enom sregep nang diskotik, wis tuwek sregep nang apotek. (7)
Biyen sering gandeng renteng karo perawan, saiki karo perawat. (8)
Biyen mlaku-mlaku karo gadis manis, saiki dikonc kencing manis. (9)

Saat suasana mulai hening dan sebagian jemaah tampak menguap, Ustaz Soedjono dengan sigap menyentil mereka. Ia tahu kapan harus menghidupkan kembali semangat yang mulai lunglai.

Baca Juga:  Salat sebagai Energi Perubahan Sosial, Pesan Isra Mikraj dari Menganti

Dengan gaya khasnya, ia melempar parikan yang langsung mengundang tawa dan malu-malu dari yang merasa tersindir:

Sing penting gedang klutuk dirubung laler, lek sampeyan ngantuk ojo sampek ngiler. (10)

Gedang klutuk wohé sak cengkeh, wong ngantuk biasane lambene ndoweh. (11)

Tawa pun pecah. Bukan karena jamaah tak tahu diri, tapi karena disentil dengan humor lebih mengena daripada dimarahi. Parikan itu menyentuh tanpa merendahkan, membuat jemaah kembali segar tanpa merasa disalahkan.

Setelah tawa pecah Soedjono langsung menukik ke pesan utama: cinta kepada Allah tidak cukup diucap di bibir. Harus ada bukti. Ia menyindir mereka yang beragama hanya di KTP:

Pak Totok gak klompenan, kapur barus sak lemari. Ngomong tok gak temenan, nggedabrus gak mari-mari. (12)

Bukti cinta kepada Allah, katanya, ada empat: selalu ingat (zikrullah), setia, rela berkorban, dan cemburu jika Islam dilecehkan. Setiap poin ia sampaikan dengan contoh nyata dan guyonan kontekstual.

Ketika membahas soal pengorbanan, Soedjono menyemangati jemaah yang sudah hadir sejak pagi. Bagi dia, kehadiran mereka adalah bukti cinta, dan pantas dihargai:

Kembang waru dirubung laler, godong simbukan digawe jamu lan ombenan. Ketimbang turu olehe mung iler, luwih becik melok pengajian oleh ilmu lan ganjaran. (13)

Baca Juga:  Tiga Syukur yang Jarang Diucapkan Manusia

Ceramah pun makin dalam. Ia menyampaikan “tombo ati” (obat hati) seperti salat malam, membaca Al-Qur’an dengan maknanya, zikir, berkumpul dengan orang saleh, dan puasa sunah.

Menjelang akhir, Ustaz Soedjono mulai menutup ceramah. Tapi gaya penutupnya tak kalah jenaka:

Cuci tangan sampai bersih, cukup sekian dan terima kasih. (14)
Garuda Pancasila lambange negoro, menawi wonten ingkang salah kulo nyuwun ngapuro. (15)
Mlaku-mlaku kesandung watu, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (16)

Namun, tawa belum usai. Ia baru sadar belum berdoa, dan berkata, “Lho, durung dungo, lali gara-gara parikan.” Jemaah pun tertawa lagi, sebelum ia memimpin doa penuh harap dan haru.

“Ngajinya ringan, tapi menusuk,” kata Siti Rondiyah, jemaah dari Blok L. “Lucu, tapi habis itu rasanya pengin istigfar.”

Tak berlebihan jika Soedjono disebut Dai Segudang Parikan. Dalam satu ceramah saja, 13 parikan mengalir dengan alami, bukan tempelan. Ia tidak menjadikan parikan sebagai hiasan, tapi sebagai jalan masuk iman—jembatan antara pesan langit dan telinga rakyat.

Di tangan Soedjono, ceramah bukan hanya ritual, melainkan ruang tawa yang menyadarkan: bahwa iman bisa tumbuh dari kelakar, bila yang berbicara memang tulus menyentuh hati. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni