
Kedatangan mahasiswa ELTE Hungaria ke Lumajang untuk silaturahmi dan melanjutkan penelitian masyarakat terdampak erupsi Gunung Semeru.
Tagar.co – Warkop Senduro kedatangan tamu lagi. Kali ini Hazim Nadjib, S.Sos, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Dia datang bersama Nugroho Dwi Atmoko, salah satu Badan Pengurus Lazismu Lumajang, Sabtu (19/7/2025) sore.
Hazim tiba pukul 18.00 WIB di Kantor Lazismu Lumajang Jln. Diponegoro. Kemudian diajak menikmati malam sambil ngopi di Warkop milik Siswanto di daerah pegurunungan Senduro.
”Mari kita ke warungnya Pak Siswanto di Senduro. Dia ini anggota Majelis Ekonomi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lumajang. Jadi, kalau ada tamu dari pusat atau wilayah, hukumnya wajib kita ajak ke sana,” ucap Nugroho.
Menurut Nugroho, membawa tamu ke Warkop Senduro bagian dari etika ekonomi warga Persyarikatan. ”Supaya ekonomi bisa berputar di lingkungan Muhammadiyah sendiri,” ujarnya.
Hazim Hamid sedang kuliah di Eötvös Loránd University (ELTE) Hungaria. Saat kuliah itu dia pernah menjabat Pimpinan Cabang Isyimewa Muhammadiyah (PCIM) Hungaria periode 2021-2023.
Juga aktif di PCIM Jerman Raya. Periode 2017-2020 dia menduduki Ketua Majelis Pendidikan Kader PCIM Jerman Raya.
Kedatangannya ke Lumajang selain silaturahmi, juga melanjutkan penelitian lapangan tentang masyarakat terdampak erupsi Gunung Semeru. Penelitian ini untuk menyelesaikan disertasi doktornya.
Dia memulai meneliti sejak tahun 2021, tak lama setelah letusan besar menerjang wilayah Candipuro dan Pronojiwo.
”Tiga tahun lalu saya datang untuk riset awal. Sekarang saya kembali untuk melihat bagaimana kehidupan mereka setelah bencana. Pola hidupnya, keseharian mereka sekarang, bagaimana mereka bangkit,” kata Hazim adik kandung almarhum Nadjib Hamid, yang pernah menjadi anggota PWM Jatim.
Setelah diskusi ringan tentang letusan Semeru dan saling bertukar kabar, waktunya makan malam. Di meja makan tersaji hidangan sop iga hangat, penyet tempe, telur kampung yang gurih, dan sambal.
Minuman khasnya ada kopi, susu kambing, dan susu sapi. ”Ada dua jenis kopi kami di sini: robusta dan arabika,” ujar Siswanto sambil menyuguhkan cangkir kopi panas.
”Kopi robusta, kami pilih buahnya yang benar-benar merah saat panen. Itu yang bikin rasa kopinya lebih nikmat. Tapi ada juga yang campuran, belum sepenuhnya masak biasanya untuk kopi biasa,” tuturnya.
Siswanto pengalaman dalam bisnis kopi. Tahun 2021, kopinya masuk 15 besar nasional untuk kategori robusta. Kopi yang disajikan di warungnya terbaik se Jatim. Capaian itu jadi kebanggaan Senduro.
Hazim menikmati malam itu. Obrolan berlanjut hangat. Dari cerita diaspora Muhammadiyah di Eropa, sampai bagaimana kopi bisa jadi medium dakwah ekonomi di kaki Gunung Semeru.
”Ini lebih dari sekadar makan malam,” ucap Hazim, lirih. ”Ini cara Muhammadiyah merawat silaturahmi dan ekonomi sekaligus.”
Di bawah langit Senduro yang dingin, cangkir-cangkir kopi dan gelas susu menutup perjumpaan yang hangatnya terasa sampai hati.
Bagi Hazim, Lumajang tak hanya soal bencana dan penelitian. Tapi juga tentang keteguhan warga pengungsi yang memilih berdiri lagi, tentang ibu-ibu yang kini memasak di dapur rumah hunian tetap, dan anak-anak yang kembali bermain di halaman sendiri bukan lagi di lokasi pengungsian.
Kehadiran Lazismu dan warung-warung seperti Warkop Pak Siswanto menjadi bukti bahwa jaringan kecil Muhammadiyah di daerah tetap hidup. Mereka menjadi jaring pengaman, sekaligus pengikat nilai antara ekonomi dan keimanan, antara silaturahmi dan perjuangan.
Malam itu, Senduro bukan sekadar nama desa. Ia menjelma pelajaran hidup: tentang ketahanan, tentang kopi, dan tentang rasa syukur yang sederhana. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












