Feature

Tradisi Makan Ambeng Rajut Kebersamaan di Iduladha

45
×

Tradisi Makan Ambeng Rajut Kebersamaan di Iduladha

Sebarkan artikel ini
Tradisi makan ambeng terwujud di Masjid At-Taqwa Hasan Jatinom, Blitar, merayakan Iduladha. Agenda ini sukses menyatukan jemaah dalam kebersamaan, gotong royong, dan menjaga tradisi luhur.
Makan Ambeng saat Idul Adha di Masjid At-Taqwa Hasan Jatinom Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar pada hari Jum’at (6/6/2025). (Tagar.co/Agus Fawaid)

Tradisi makan ambeng terwujud di Masjid At-Taqwa Hasan Jatinom, Blitar, merayakan Iduladha. Agenda ini sukses menyatukan jemaah dalam kebersamaan, gotong royong, dan menjaga tradisi luhur.

Tagar.co – Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti serambi dan halaman Masjid At-Taqwa Hasan Jatinom. Lokasinya di Dusun Jatinom RT. 03 RW. 02, Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Jumat pagi (6/6/2025) itu, usai pelaksanaan salat Iduladha, jemaah tak lantas beranjak pulang. Mereka justru berkumpul, mengikuti tradisi tasyakuran dengan sarapan ambeng bersama, agenda rutin yang penuh makna.

Kegiatan ini Panitia Kurban dan Takmir Masjid At-Taqwa Hasan Jatinom gagas sebagai wujud syukur dan ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Ambeng, hidangan khas tradisional Jawa, tersaji dalam talam besar.

Sekitar 4-5 jemaah menyantap bersama. Mereka duduk melingkar. Kebersamaan yang kental dengan nilai budaya dan spiritual pun terasa.

Filosofi di Balik Nampan Besar

“Makan ambeng ini bukan sekadar sarapan. Ini adalah cara kami merayakan kebersamaan dan menjaga tradisi luhur yang diwariskan sejak lama,” tutur Ustaz Ali Zaenal Abidin, Ketua Takmir Masjid yang akrab disapa Ustaz Zen.

Baca Juga:  Perkedel Bergizi, Ikhtiar Mahasiswa Stikes Maboro Cegah Stunting

Kemudian, seluruh jemaah, takmir masjid, serta panitia kurban mengikutinya. Mereka duduk berdampingan tanpa sekat, menyantap nasi putih dan kuning lengkap dengan ayam, serundeng, mi goreng, sambal, dan telur rebus. Semua tersaji dalam satu nampan besar yang melambangkan persatuan.

Sejalan dengannya, Ustaz Muhammad Akhi Kelana Jaya, Ketua Panitia Kurban yang akrab dipanggil Ustaz Kelana, juga menyampaikan pesan dalam kesempatan ini.

“Kegiatan ini sudah menjadi tradisi kami, dilaksanakan setiap selesai salat Idulfitri maupun Iduladha. Semangat gotong royong dan kesederhanaan yang terkandung dalam makan ambeng adalah cerminan nilai Islam itu sendiri,” ujarnya.

Tradisi Penjaga Ukhuwah

Adapun tradisi ambeng memang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, termasuk di Indonesia, Malaysia, Singapura. Biasanya berlangsung saat kenduri, tahlilan, atau perayaan keagamaan.

Namun, lebih dari itu, makan ambeng mengajarkan nilai luhur. Yakni meliputi gotong royong dalam menyiapkan makanan, kebersamaan tanpa membedakan status, serta sikap saling menghormati dalam berbagi rezeki.

Dengan duduk bersama dan makan nasi dari talam yang sama, masyarakat membuktikan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang harus mereka tinggalkan. Melainkan mereka jaga dan jadikan jembatan untuk memperkuat ukhuwah dan kebersamaan.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Akhirnya, hari itu, bukan hanya perut yang kenyang, hati pun terasa penuh oleh hangatnya silaturahmi dan indahnya persaudaraan. (#)

Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Sayyidah Nuriyah