
Di hadapan orang tua dan guru Smamda, Prof. Biyanto menegaskan TKA tidak akan menjadi momok seperti Ujian Nasional, melainkan sahabat bagi anak-anak dan guru.
Tagar.co – Pagi cerah itu, Sabtu (27/9/2025), Auditorium AR Fachruddin SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda) dipenuhi wajah-wajah penuh perhatian.
Orang tua wali murid kelas XII dan para guru duduk rapi, menyimak sosok yang tak asing di dunia pendidikan: Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen.
Ia hadir dalam Seminar Parenting bertajuk “Pendampingan Orang Tua Sukses TKA”. Tampil sederhana namun berwibawa, Biyanto mengenakan batik bernuansa cokelat dengan motif etnik berpadu peci hitam yang menegaskan karakternya. Ekspresi serius namun tatapannya penuh ketulusan, membuat hadirin merasa ia berbicara langsung dari hati.
Baca juga: Penjelasan Mendikdasmen soal Tes Kemampuan Akademik
Namun, kehadirannya bukan sekadar untuk memberi paparan teknis. Dengan tutur yang tenang, ia menjalin kisah panjang lahirnya Tes Kemampuan Akademik (TKA), kebijakan baru yang kini menyita perhatian banyak pihak.
“Kami tidak ingin TKA menjadi momok seperti Unas dulu. Ia lahir dari percakapan panjang: kementerian, dinas, guru, sampai ormas penyelenggara pendidikan. Kami merindukan ujian yang terstandar secara nasional, tapi tidak menimbulkan beban dan cemas di hati anak-anak, guru, maupun orang tua,” ucap Biyanto, yang segera disambut senyum lega dan tawa ringan hadirin.

Jejak Ujian Nasional dan Lahirnya TKA
Biyanto lalu menyingkap kembali perjalanan ujian di Indonesia. Ujian Nasional berhenti pada 2020 ketika pandemi mengguncang, lalu diganti dengan Asesmen Nasional (AN) pada 2021. Tetapi, menurutnya, AN hanya memberi potret sekolah, bukan wajah murid.
“Yang dinilai AN itu lembaganya, bukan anaknya. Padahal, yang kita butuhkan adalah cermin bagi setiap murid, agar mereka tahu sejauh mana langkahnya dalam menempuh pendidikan,” katanya, seolah mengingatkan bahwa pendidikan tak boleh berhenti pada angka dan grafik belaka.
TKA, lanjutnya, hadir untuk menjembatani rapor sekolah yang kadang dinilai subjektif dengan standar nasional yang lebih objektif. “Guru memberi rapor dengan jiwa mendidik, pemerintah memberi TKA sebagai penimbang yang adil. Keduanya saling menaut, menjadi pelita agar anak-anak tidak berjalan dalam kabut,” jelasnya.
Di luar soal regulasi, Biyanto menyentuh nadi lain pendidikan: kebiasaan membaca. Dengan gaya berkelakar, ia berkata, “Anak-anak kita sekarang lebih rajin membaca WA daripada buku. Coba cek di rumah, lebih banyak buku atau ‘bolo pecahnya’? Kalau lebih banyak bolo pecahnya, di situlah letak rendahnya literasi kita.” Candaan itu memantik gelak tawa, namun juga menyalakan kesadaran.
Ujian sebagai Sahabat
Bagi Biyanto, TKA bukan semata ujian berbasis komputer yang menghasilkan skor. Ia menyebutnya sebagai jalan sunyi menuju pendidikan yang lebih berimbang, memberi kesempatan tiap anak dikenali potensinya tanpa rasa takut, sekaligus menopang guru agar tak lagi sendirian memikul beban penilaian.
“Kami ingin ujian ini menjadi sahabat, bukan ancaman. Menjadi alat yang menuntun, bukan beban yang menekan. Kami ingin anak-anak memandangnya sebagai pijakan untuk melangkah lebih tinggi,” tuturnya menutup dengan senyum hangat.
Pagi itu, para guru dan orang tua pulang dengan secercah optimisme: bahwa pendidikan bukan hanya soal kebijakan dari atas, tetapi tentang jiwa yang dipelihara bersama, agar anak-anak tumbuh dengan langkah yang lebih ringan dan penuh harapan. (#)
Jurnalis Naimul Hajar Penyunting Mohammad Nurfatoni












