
Tagar.co – Ratusan siswa MA Muhammadiyah 9 yang bernaung di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur tampak antusias mengikuti Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Dalam kegiatan yang digelar di masjid pesantren, Kamis (23/10/25), ini Indri Cahya Ningrum, fasilitator SPAB Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Lamongan, mengajak para peserta memahami pentingnya mengenal kebencanaan sejak dini.
Baca juga: MDMC Lamongan Tanamkan Budaya Siaga Bencana di MA Muhammadiyah 9 Al-Mizan
“Pengetahuan tentang kebencanaan adalah bekal dasar untuk membangun masyarakat yang tangguh,” ujar Indri membuka materinya bertajuk Pengenalan Kebencanaan.
Ia menjelaskan bahwa bencana bukan hanya soal gempa, banjir, atau gunung meletus, tetapi juga mencakup wabah penyakit, kegagalan teknologi, hingga konflik sosial.
Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana merupakan peristiwa yang mengancam kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik akibat faktor alam, non-alam, maupun sosial.
“Setiap jenis bencana punya dampak luas—mulai dari kerugian ekonomi, sosial, hingga kerusakan lingkungan. Karena itu, memahami kebencanaan sejak dini sangat penting, termasuk bagi pelajar,” tegasnya.
Tiga Tahapan Penanggulangan Bencana
Indri kemudian memaparkan tiga tahapan utama dalam penanggulangan bencana: mitigasi, kedaruratan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Tahap mitigasi, katanya, merupakan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan seperti menjaga lingkungan, membuat jalur evakuasi, dan menyiapkan sumber daya agar risiko bencana dapat dikurangi.
“Ketika bencana terjadi, fokus utama kita bergeser ke penyelamatan jiwa dan pertolongan pertama,” jelasnya. “Sedangkan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan setelah situasi terkendali—untuk memulihkan kehidupan masyarakat, baik secara fisik maupun psikologis.”
Dalam sesi berikutnya, Indri menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana. Sinergi antar-lembaga, menurutnya, menjadi kunci agar penanganan berjalan efektif dan berkelanjutan.
“MDMC Muhammadiyah punya tim kesehatan, tim SAR, dan tim psikososial yang bekerja sama dengan BNPB dan BPBD daerah. Semua bergerak bersama demi kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menutup materinya dengan pesan reflektif. “Bencana bukan hanya urusan pemerintah. Ini tanggung jawab bersama. Kalau kita paham dasar kebencanaan, kita bisa lebih siap, tanggap, dan saling membantu ketika musibah datang.”
Melalui kegiatan ini, MDMC Lamongan berharap para pelajar tak sekadar memahami teori, tetapi juga tumbuh kesadarannya untuk berperan aktif menjaga keselamatan diri, teman, dan lingkungan. Dari langkah kecil memahami bencana, lahir generasi yang tangguh dan siap menghadapi segala kemungkinan. (#)
Jurnalis Afan Alfian Penyunting Mohammad Nurfatoni












