Cerpen

Termos Es Pak Syakur

97
×

Termos Es Pak Syakur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di balik termos es sederhana milik Pak Syakur, tersembunyi pelajaran hidup tentang kejujuran, kerja keras, dan rezeki yang halal—pelajaran yang tetap hangat dikenang di tengah dunia yang makin hiruk-pikuk.

Cerpen oleh Qosdus Sabil

Tagar.coPray for Sumatra. Pada 25 November 2025, kabar duka kembali datang ketika banjir bandang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Hujan lebat yang tak kunjung reda selama beberapa hari membuat banjir makin parah, merendam banyak kawasan, dan meninggalkan kerusakan yang tak terkira.

Namun, siang ini langit Jakarta justru terasa panas menyengat. Dalam terik seperti ini, rasanya aku ingin sekali mendengar suara penjual es goyang jadul melewati depan rumah. Ah, betapa nikmatnya.

Favoritku sejak dulu tak pernah berubah: kacang hijau atau ketan hitam. Rasanya nyaris sama—meski mungkin pabriknya jelas berbeda.

Dulu, es goyang di desa kami berasal dari pabrik di Pare, Kediri. Dikirim dalam termos-termos seng berlapis kaca yang ditutup rapat agar tetap dingin. Termos-termos itu setiap hari dijajakan ke berbagai wilayah. Ada agennya hingga ke desa-desa. Dan di desa kami, pemilik agennya adalah Pak Syakur.

Baca juga cerpen: Cahaya dari Senyum Abah

**

Pak Syakur adalah guru yang dihormati. Sikapnya tegas, disiplin, tapi kerap menyisipkan humor dan dongeng yang membuat kelas selalu hangat. Ia mengajar Al-Qur’an Hadis, Pramuka, bahasa Jawa, dan menulis halus.

Saat di madrasah ibtidaiyah, selain menghafal surat-surat pendek, kami juga mulai belajar hadis. Setoran hafalan terasa menyenangkan. Tidak ada target berlebihan atau tekanan mental. Yang terpenting, kami memahami makna ayat dan hadis yang kami hafalkan.

Baca Juga:  Akhlak Bermuhammadiyah: Berani Dikritik, Teguh Menjaga Adab

Jika tidak hafal, memang ada hukuman—tapi anehnya, kami justru menantikannya. Hukuman itu adalah mengisi bak wudu masjid di kompleks sekolah. Hukuman yang membuat kami justru mendapat pahala: menyediakan air untuk bersuci bagi mereka yang akan beribadah di masjid.

Kami harus mengerek timba dari sumur dan menuangkannya ke bak, karena saat itu belum ada listrik maupun pompa air.

Desa kami sebenarnya dekat stasiun dan pasar kecamatan, tapi listrik tak kunjung masuk. Alasannya sederhana: Golkar sering kalah di desa kami. Listrik menjadi bagian dari alat politik kekuasaan. Listrik menjadi hadiah politik bagi daerah-daerah yang “patuh”.

Saat menimba air, kami justru bersukaria. Bisa sejenak keluar kelas, bermain air, menyegarkan wajah yang gerah—hukuman itu terasa seperti hiburan kecil yang sarat makna.

**

Selain menjadi guru negeri yang ditugaskan di madrasah kami, Pak Syakur juga bertani, menjadi agen es batu, dan distributor es goyang yang pelanggan setianya tak pernah habis. Beliau tidak hanya memberi pelajaran di sekolah, tapi juga menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini bagi kami.

Sebelum berangkat sekolah, kami mengambil termos es goyang untuk dijual di kelas. Kami cukup meletakkannya di samping pintu kelas. Teman-teman membeli sendiri dan memasukkan uang ke kotak yang disediakan—semacam kantin kejujuran jauh sebelum istilah itu populer.

Keuntungan penjualan es kami bagi bersama teman-teman yang bertugas. Sebagian disisihkan untuk kas koperasi sekolah. Kami sangat bergembira menerima bagiannya. Sering kali kami berlarian saling mengejar sambil membawa termos kosong kembali ke agen.

Baca Juga:  Zada yang Tak Pernah Diam

Kadang, lapisan kaca tipis di dalam termos pecah karena perubahan panas ekstrem, tiba-tiba seperti meledak begitu saja. Atau pecah karena benturan saat kami kurang hati-hati membawanya. Tapi Pak Syakur tak pernah marah. Beliau hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kekonyolan kami.

Sebagian teman menjajakan es goyang sepulang sekolah di bus-bus yang berhenti di pasar. Dua kakak kelas kami—Yanto dan Udin—bahkan naik turun bus yang masih berjalan, menjual es hingga ke pemberhentian berikutnya, lalu kembali dengan bus dari arah sebaliknya.

Ada juga yang mangkal di depan stasiun. Satu dua jam berjualan cukup. Setelah terdengar seruan azan asar, kami bergegas salat berjemaah, lalu main bola bersama.

Tidak ada gengsi. Kami hanya ingin menambah uang jajan—atau meringankan orang tua kami yang hidup sederhana.

Pak Syakur selalu berkata:
“Rezeki halal itu mulia. Belajar dan bekerja yang giat. Jangan malu berusaha.”

Kini, Yanto menjadi pengusaha penyedia suku cadang mesin-mesin pabrik di Ibu Kota.
Udin membuka rumah makan khas Lamongan dengan banyak cabang di Kalimantan.

**

Beberapa warga desa menjual es krim putar. Mereka mengambil balok es dari Pak Syakur sebelum azan subuh. Adonan cair dimasukkan ke tabung seng dan dibalut remahan es batu bercampur garam agar suhu dingin tetap stabil. Diputar pelan-pelan hingga mengental, lembut, dan membeku.

Baca Juga:  Manusia di Balik Linimasa

Jika masih tersisa, mereka berkeliling kampung menjajakannya. Kadang kami dapat jatah gratis. Rasanya bahagia—bukan semata karena gratisnya, tapi karena ada rasa saling berbagi dalam hidup kami yang serba sederhana.

**

Kini…

Saat melihat lemari pendingin penuh es krim dari berbagai merek di minimarket desa, aku justru terhenyak.

Potensi bisnis es goyang ternyata begitu besar hingga raksasa industri pun menirunya sebagai varian nostalgia. Sayangnya, industri besar sering mengambil jalan pintas: gula berlebih, zat pewarna, perasa sintetis, dan pengawet.

Anak-anak kini lebih akrab dengan minuman sachet penuh gula. Pedagang minuman jujur yang memakai gula asli tanpa pengawet kalah oleh produk dengan iklan yang bombastis.

Akibatnya, banyak anak kecil terkena radang tenggorokan, amandel, bahkan gagal ginjal hingga risiko diabetes.

Keserakahan—dalam bentuk yang berbeda—kembali menunjukkan wajahnya.

Sama seperti para penjarah hutan yang membabat pepohonan demi perluasan perkebunan sawit atau area tambang. Musim hujan membawa banjir, musim kemarau membawa kekeringan. Kita seperti tak pernah belajar.

Karena pada akhirnya, takaran yang bisa kita makan tak pernah lebih dari tiga piring sehari. Tidak lebih besar dari isi termos es Pak Syakur.

Tapi manusia…
Entahlah.

**

Tung… tung… tung… tung…

Sayup terdengar suara gong kecil dari gerobak es goyang jadul. Keluar masuk gang-gang kampung, memanggil masa lalu yang sederhana, jujur, dan apa adanya.

Seperti termos es Pak Syakur—yang tak pernah berubah…

Ciputat, 8 Jumadilakhir 1447/29 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…