
Takmir At-Taqwa mencontoh cara memakmurkan masjid. Bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat pertumbuhan umat dan peradaban.
Tagar.co – Malam belum larut saat rombongan kecil dari Tempeh Lor, Lumajang, memulai perjalanan menuju Sragen, Jawa Tengah, Jumat (1/8/2025).
Sebanyak 15 orang takmir Masjid At-Taqwa Tempeh Lor berangkat pukul 21.00 WIB. Mereka menuju Masjid Al-Falah Sragen, masjid percontohan nasional yang dikenal memiliki sistem manajemen yang baik, program dakwah yang hidup, dan jamaah yang aktif.
”Kami ingin melihat langsung, belajar langsung, bagaimana masjid bisa dikelola dengan baik. Supaya makmur, supaya membawa manfaat luas,” ujar Sugeng, Ketua Takmir Masjid At-Taqwa, pemimpin rombongan.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan manajemen masjid yang digelar oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang sebulan sebelumnya.
Saat itu, PDM menghadirkan Ustaz Kusnadi Ihwani, takmir Masjid Al-Falah Sragen, sebagai narasumber utama.
Gaya bicara Ustaz Kusnadi yang lugas dan penuh semangat rupanya membekas di hati para peserta, termasuk para takmir At-Taqwa.
“Setelah ikut pelatihan itu, kami merasa belum cukup. Perlu datang langsung, menyaksikan sendiri bagaimana sistem itu berjalan. Kami ingin membawa pulang semangat dan praktik baiknya,” ujar Sugeng.
Sesampainya di Sragen, para takmir langsung diajak berkeliling melihat berbagai fasilitas dan sistem yang dijalankan di Masjid Al-Falah.
Mulai dari pengelolaan infak yang transparan, program pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga strategi membangun kedekatan dengan warga sekitar masjid.

Ustaz Muhammad Lutfi Affandi, imam Masjid Al-Falah, turut menyambut rombongan dan membagikan pengalamannya.
Ia menuturkan, sebagian besar pengurus Masjid Al-Falah adalah anak-anak muda. Mereka mengelola masjid dengan semangat dan kreativitas tinggi.
“Sejak masa transisi manajemen tahun 2016, kami melakukan banyak perubahan. Mulai dari sistem manajerial hingga inovasi kegiatan. Itu semua bertahap, tumbuh bersama waktu,” jelas Ustaz Lutfi.
Beberapa program inovatif yang kini rutin digelar antara lain salat Subuh berhadiah, sarapan bersama jemaah, pasar murah, hingga kegiatan olahraga seperti fun run.
Masjid juga memiliki badan usaha sendiri, serta tim SPD: Spesialis Pembaca Doa, yang rutin berkunjung ke jemaah dan donatur. Bahkan membawa oleh-oleh kecil sebagai bentuk perhatian.
“Intinya, buat kegiatan sebanyak-banyaknya. Yang positif dan menarik. Itu akan membuat jemaah datang dengan sendirinya. Dari situ, keuangan masjid pun ikut meningkat,” katanya.
Pendapatan masjid diperoleh dari berbagai sumber, terutama dari infak jemaah yang merasa puas dan terlayani. Masjid juga aktif di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook untuk menjangkau lebih banyak kalangan.
Sugeng mencatat banyak hal yang menurutnya bisa langsung diterapkan di Tempeh Lor. Ia menyebutkan pentingnya konsistensi, komitmen, dan komunikasi antar takmir sebagai kunci utama.
“Kami tidak ingin masjid hanya ramai di Ramadan. Kami ingin masjid menjadi pusat kehidupan umat, setiap hari,” tegasnya.
Ahmad Faisol, salah satu takmir At-Taqwa, turut menyampaikan kesan dan tekadnya. “Kegiatan ini sangat penting dan berharga bagi takmir sebagai dasar dalam melangkah dan perbaikan demi kemakmuran masjid. Bismillah, kami menguatkan komitmen ini untuk segera bertindak dalam perbaikan manajemen di Masjid At-Taqwa Tempeh,” katanya penuh semangat.
Setelah kunjungan ini, pihaknya segera menyusun langkah konkret memulai perubahan di Masjid At-Taqwa. “Apa yang kami lihat, kami rasakan, akan kami bawa pulang. Dan langsung kami eksekusi agar masjid kami bisa menjadi contoh, khususnya di lingkungan Muhammadiyah.”
Bagi Sugeng dan rekan-rekannya, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada semangat perubahan yang dibawa pulang. Ada cita-cita buntuk menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat pertumbuhan umat. Tempat harapan dan peradaban. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












