Feature

Subuh yang Menyentuh di Kaki Gunung Penanggungan: Empat Jalan Menangkal Kerugian

23
×

Subuh yang Menyentuh di Kaki Gunung Penanggungan: Empat Jalan Menangkal Kerugian

Sebarkan artikel ini
Suasana salat Subuh berjemaah di acara family gathering kader sang surya di Blessing Hill, Trawas, Ahad, 29 Juni 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Di tengah sejuknya udara Trawas, azan Subuh menggema dari suara remaja 14 tahun, menggerakkan ratusan peserta menuju lapangan. Bukan hanya salat berjemaah, tapi juga renungan mendalam tentang surat Al-Asr

Tagar.co – Blessing Hill, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (29/6/25) menjadi saksi ketika suara azan Subuh yang merdu menggema, menggugah ratusan peserta Family Gathering (Famghet) Ke-13 Keluarga Sang Surya dari dalam kamar masing-masing.

Di antara udara pegunungan yang sejuk dan suasana keakraban, suara itu mengalun lirih namun kuat dari seorang remaja bernama Rusdion Muhammad Amin (14). Suaranya yang mendayu menuntun para peserta menuju lapangan untuk salat berjemaah.

Baca juga: Abdul Mu’ti: Tafsir Al-Maun Harus Bergerak dari Santunan ke Pemberdayaan

“Seketika pemandangan terlihat seperti salat Idulfitri atau salat Iduladha,” ujar seorang peserta. Suasana pagi itu memang berbeda: penuh semangat, tertib, dan khidmat.

Salat Subuh dipimpin oleh Koko Susanto, S.Ag., M.Si., kader senior Muhammadiyah dari Surabaya yang kali ini hadir untuk pertama kalinya bersama istri dan ketiga anaknya. Usai salat, peserta tetap bertahan di tempat untuk mengikuti kuliah Subuh yang disampaikan oleh Ustaz Tsalis Rifai, Ketua PDM Batu.

Baca Juga:  Gagal Menikah Dua Kali

Dengan gaya khas yang ringan dan penuh canda, Ustaz Tsalis membuka ceramahnya, “Yang menarik dari famgeth ini adalah: senior tetaplah senior. Maka sebagai kader, kita harus taat kepada senior karena mereka yang membimbing.”

Ia lalu mengangkat pesan dari Surah Al-Asr yang menurutnya merupakan surat penting dalam perjuangan K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. “Selama kurang lebih enam hingga tujuh bulan, surat ini disampaikan oleh K.H. A. Dahlan,” ujarnya.

“Ada empat hal yang pasti dan sungguh akan merugi, kecuali satu: orang beriman,” lanjutnya. Ia berharap para peserta tidak hanya memanfaatkan kegiatan ini sebagai ajang rekreasi, tetapi juga sebagai sarana mempererat silaturahmi dan menyiapkan generasi penerus Muhammadiyah.

“Menyiapkan kader itu penting,” tegasnya.

Tak hanya itu, Ustaz Tsalis menekankan pentingnya terus melakukan amal saleh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran. Ia menyambut baik kontinuitas famgeth sebagai praktik nyata kebaikan berjemaah.

“Maka dalam famgeth harus mengajak siapapun. Barangkali ada yang sebelumnya tidak ikut, kita pastikan bisa ikut kembali,” pesannya. “Kaderisasi harus dilakukan terus-menerus, dan dakwah harus dilakukan dengan sabar dan pikiran yang positif.”

Baca Juga:  Rintik Hujan Mengiringi Tarawih Perdana di Baitul Hasanah Ambarawa

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap selama kegiatan, terutama soal kenyamanan fasilitas. “Nggak kebagian kamar, kamar tidak ber-AC, dan lain-lain, jangan mengeluh kepada panitia. Panitia juga jangan mengeluh. Biasa saja,” ujarnya sambil tersenyum.

“Nggak boleh ngersulo. Tahun depan gantian, jadi bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi panitia,” candanya, yang disambut tawa para peserta.

Mengakhiri ceramah, ia menyampaikan harapan agar semua tetap istiqamah memperjuangkan cita-cita K.H. Ahmad Dahlan. “Mudah-mudahan kita semua bisa istikamah memperjuangkan apa yang dimimpikan, apa yang diajarkan oleh KH. A. Dahlan, dan menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang menggembirakan dan menyenangkan,” ujarnya.

Kegiatan famgeth tahun ini terasa istimewa. Dari hanya sekitar 30 peserta di awal kegiatan beberapa tahun lalu, kini jumlahnya telah melebihi 500 orang. “Seperti retret ala keluarga Sang Surya,” ungkap Muhammad Mirdas, Ketua LHKP PWM Jatim sekaligus salah satu panitia.

Menurut Mirdas, setiap tahun famgeth selalu menghadirkan cerita baru dan keunikan tersendiri. Salah satunya adalah apresiasi kepada anak-anak yang ikut salat Subuh berjemaah. Tahun ini, 14 anak menerima hadiah dengan wajah berseri-seri.

Baca Juga:  Ramadan Datang, Hati Senang: KB-TK IT Handayani Sambut Bulan Suci dengan Berbagi dan Dongeng

“Bisa bertemu dengan keluarga, melihat anak-anak dari keluarga besar Muhammadiyah tampil di atas panggung—betapa bahagianya,” kata Mirdas. “Bahagia, senang, mudah-mudahan menjadi virus kebahagiaan.”

Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi sumber kekuatan sosial internal sekaligus teladan positif bagi masyarakat. Sebab, dari kegiatan keluarga inilah nilai-nilai kebersamaan, kaderisasi, dan semangat dakwah ditumbuhkan dengan cara yang menyenangkan. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni