
Puluhan siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 9 Boarding School Sidoarjo mengikuti ANBK 2025 dengan serius. Laboratorium komputer berubah sunyi, sementara sekolah berharap asesmen ini menjadi pijakan penting meningkatkan mutu pendidikan berbasis pesantren.
Tagar.co – Ruang laboratorium komputer SMP Muhammadiyah 9 Boarding School, Tanggulangin, Pondok Pesantren An-Nur Sidoarjo, Jawa Timur, tampak hening pada Rabu pagi, 27 Agustus 2025.
Puluhan siswa kelas VIII berseragam batik biru duduk rapi di depan komputer bermerk Axioo. Siswa putri mengenakan kerudung biru muda, sementara siswa putra berpeci hitam, seluruhnya menatap layar dengan fokus.
Baca juga: Abdul Mu’ti Resmikan Gedung Baru dan Serahkan Hibah Rp 25 Juta untuk SMP Muhammadiyah 9 Tanggulangin
Suasana serius namun tenang itu menjadi tanda dimulainya Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) gelombang 2 yang berlangsung pada 27–28 Agustus 2025.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Faizah Khilmiyah, S.Pd.I., menjelaskan, sejak ditetapkan pada 2021 sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), ANBK hadir bukan sekadar ujian biasa.
Jika UN menitikberatkan pada hasil individu siswa, maka ANBK lebih memotret gambaran utuh kualitas sekolah—mulai dari input, proses, hingga hasil pembelajaran.
“Data yang dihasilkan tidak memengaruhi kelulusan siswa, tetapi menjadi pijakan penting bagi sekolah dan pemerintah dalam merancang program peningkatan mutu pendidikan,” jelasnya
Dia menuturkan pihak sekolah telah melakukan persiapan panjang. “Kami mengadakan simulasi dan gladi bersih agar siswa terbiasa dengan sistem komputer,” ujarnya. Infrastruktur juga dipastikan prima—mulai dari komputer, jaringan internet, hingga pasokan listrik.
Pelaksanaan ujian dibagi dalam tiga sesi: pukul 07.30, 10.00, dan 13.00 WIB. Pembagian ini membuat ruang ujian lebih kondusif sekaligus menjaga kenyamanan siswa. Pendingin ruangan turut mendukung konsentrasi peserta, sehingga mereka bisa mengerjakan soal dengan tenang.
Tiga Komponen Utama
Faizah Khilmiyah menerangkan ANBK mencakup tiga instrumen pokok, yaitu:
-
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM): mengukur literasi membaca dan numerasi siswa.
-
Survei Karakter: menggali nilai, sikap, dan kebiasaan siswa sebagai cerminan profil pelajar Pancasila.
-
Survei Lingkungan Belajar: memotret kualitas input dan proses pembelajaran di sekolah.
“Gabungan ketiganya memberikan gambaran menyeluruh yang akan menjadi bahan evaluasi berharga bagi sekolah,” terangnya.
Antusiasme Siswa
Bagi para siswa, ANBK bukan beban, melainkan pengalaman baru. Ananda Alfian Raysha Yudianto mengaku lebih rileks dibanding menghadapi Ujian Nasional. “Soalnya ini bukan penentu lulus atau tidak. Yang penting dikerjakan jujur dan maksimal,” katanya.
Hal senada disampaikan Binar Marsha Tiana Putri. Ia merasa ANBK memberinya tantangan berbeda. “Ini pertama kalinya ikut asesmen berbasis komputer. Soalnya bervariasi, ada literasi dan numerasi, jadi kita harus berpikir lebih kritis,” tuturnya.
Bagi SMP Muhammadiyah 9 Boarding School, ANBK bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana bercermin. Data hasil asesmen akan dipakai untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperbaiki sarana, dan memperkuat karakter siswa.
“Kami berharap ANBK bisa menjadi tolok ukur akurat. Hasilnya akan kami gunakan untuk menyusun program sesuai kebutuhan siswa dan tantangan zaman. Dengan begitu, kami dapat mewujudkan Merdeka Belajar dan mencetak generasi Qur’ani yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia,” kata Faizah Khilmiyah. (#)
Jurnalsi Widiyanti Penyunting Mohammad Nurfatoni













