Feature

SMK Bukan Pencetak Pengangguran

38
×

SMK Bukan Pencetak Pengangguran

Sebarkan artikel ini
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat (tengah)

Kemendikdasmen menepis asumsi bahwa SMK dianggap sebagai penyumbang angka pengangguran.

Tagar.co — Dalam kunjungannya ke SMK 1 Negeri Karawang, Jawa Barat, Kamis (28/11/24), Wakil Menteri Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, memaparkan SMK juga harus mampu bersaing dalam memberikan kualitas sumber daya yang berkualitas bagi Indonesia di masa depan.

Ia pun memperkenalkan kembali program Asta Cita yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Atip menyatakan kekhawatirannya tentang asumsi yang ditemukan di masyarakat mengenai bagaimana SMK dianggap sebagai penyumbang angka pengangguran.

Ia menegaskan ini adalah asumsi yang tidak sepenuhnya benar. Angka pengangguran yang saat ini ditemukan, terindikasi dari ketidakmampuan sumber daya manusia untuk bersaing. Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen melalui program Asta Cita untuk memberikan fasilitas bagi sekolah, termasuk sekolah kejuruan, agar tidak ditemukan lagi sekolah dalam kondisi yang memprihatinkan, serta mencetak lulusan berdaya saing tinggi dan dapat diterima di universitas terbaik dunia.

“Komitmen ini akan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan, implementasi tanggung jawab peradaban atau profesi, yang di dalamnya meliputi pemanfaatan kegiatan pramuka, upacara hari Senin, peningkatan literasi dan sains,” urainya.

Baca Juga:  Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah Atasi Kekurangan Guru

Pentingnya Pendidikan Karakter

Selain itu, merujuk pada arahan Presiden, Atip menegaskan akan pentingnya pendidikan karakter, yang meliputi kebiasaan bangun pagi, beribadah, sarapan pagi, olahraga, membaca, bermasyarakat dengan baik, serta tidur cepat.

“Harapannya kebiasaan ini mampu menjadi landasan nilai-nilai yang mampu ditanamkan kepada siswa sejak dini, karena karakter yang kuat akan menjadikan bangsa yang kuat,” lanjut Atip, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Ahada (1/12/24)

Dalam sesi diskusi, dia menyampaikan rincian implementasi pendidikan karakter yang meliputi:

Pertama, integrasi ke dalam kurikulum dengan menanamkan nilai karakter dalam setiap mata pelajaran;

Kedua, pembinaan oleh guru dan tenaga kependidikan, dengan menjadikan guru sebagai role model dan fasilitator dalam pendidikan berkarakter.

Ketiga, keterlibatan orang tua serta masyarakat untuk berperan aktif dalam mendidik anak

Keempat, pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai tempat belajar yang kondusif untuk pembentukan karakter.

Selain itu, pemanfaatan teknologi juga menjadi sorotan. Wamen Atip menyampaikan komitmen Presiden untuk meningkatkan kualitas pendidikan, selain dari karakter siswa dan kualitas tenaga pendidik yang perlu dibangun, pemanfaatan teknologi yang bijak dalam dunia pendidikan juga perlu dipersiapkan untuk menghadirkan meaningful learning (pembelajaran yang penuh makna), mindful learning (pembelajaran yang penuh kesadaran), dan joyful learning (pembelajaran yang menyenangkan).

Baca Juga:  Pendaftaran TKA untuk SD–SMP 2026 Dibuka, Jadi Dasar Jalur Prestasi SPMB

Kepala Program Studi Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan, Hikmat Zakky Almubaroq, turut hadir dalam kunjungan tersebut.

Ia menyampaikan bahwa Indonesia dengan segala kekayaannya tentu saja mengundang ancaman dari berbagai sisi, sehingga keamanan adalah kebutuhan yang mutlak.

Oleh karena itu, ia menyatakan dukungannya terhadap program Mendikdasmen dalam mengusung penguatan pendidikan karakter.

“Karakter anak muda yang kuat di masa depan itu sangat dibutuhkan untuk persaingan internasional kelak,” ucapnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni