
Belajar sejarah, merapikan administrasi, hingga memahami tugas pokok bidang: Sekolah Teknokrat jadi ruang bertumbuhnya kepedulian kolektif kader IMM Teknokrat. Dari ruang kelas, gerakan sosial pun disusun rapi.
Tagar.co – Ruang kelas D3.15 hingga D3.17 di Kampus Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Ahad (15/6/2025), tampak lebih hidup dari biasanya. Di sana, puluhan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Teknokrat Fakultas Teknik UMG berkumpul untuk satu tujuan: memperdalam pemahaman, menajamkan kepedulian, dan merajut gerakan bersama melalui Sekolah Teknokrat.
Mengusung tema “Dari Pemahaman Lahir Kepedulian, Satukan Gerakan IMM Teknokrat”, kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi para kader muda untuk menyegarkan kembali ideologi dan menata struktur gerakan di tingkat komisariat.
“Kegiatan ini adalah langkah awal membangun basis gerakan IMM Teknokrat yang kokoh. Di sini kita tidak hanya belajar ideologi, tetapi juga administrasi dan tanggung jawab tiap bidang,” ujar Rifki, Ketua Pelaksana, membuka sesi dengan penuh keyakinan.
Suasana semakin hangat saat Diky Syaputra, Ketua Komisariat IMM Teknokrat, menegaskan jati diri IMM di hadapan para peserta.
“IMM bukan sekadar organisasi kampus. Ia rumah ideologis, lahan bertumbuhnya kepedulian sosial. Gerakan kita harus lahir dari pemahaman yang mendalam,” tandasnya.
Semangat itu kian membara saat Egie Febriyota Y., Ketua Pimpinan Cabang IMM Gresik, secara resmi membuka acara. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi antusiasme para kader.
“Kader IMM harus terus belajar dan bergerak. Hanya dengan wawasan dan aksi nyata kita bisa menjawab tantangan zaman,” pesannya.
Mas Aldi, Koordinator Komisariat IMM Universitas Muhammadiyah Gresik, juga hadir memotivasi peserta. Baginya, Teknokrat harus tampil di garda depan membawa panji IMM UMG ke arah yang berkemajuan.
“Teknokrat harus jadi ujung tombak. Ini rumah kita, mari jaga bersama,” serunya.
Merawat Akar, Menyusun Rencana
Sekolah Teknikrat kali ini dikemas dalam tiga sesi materi. Sesi pertama mengajak peserta menelusuri jejak IMM sejak lahir pada 1964—sebagai jawaban atas kebutuhan mahasiswa Islam untuk berkiprah di ranah intelektual, spiritual, dan sosial.
Dinamika Sejarah IMM dibedah, mulai dari pergolakan era Orde Lama, lika-liku di masa Orde Baru, hingga tantangan era reformasi. Peserta juga diajak merefleksikan posisi IMM sebagai penyangga idealisme mahasiswa di tengah arus pragmatisme dan kapitalisasi pendidikan.
Materi kedua membahas Administrasi Organisasi. Sesi ini menekankan pentingnya ketertiban dalam surat-menyurat, pengarsipan, hingga penyusunan program kerja dan laporan pertanggungjawaban. Beberapa peserta terlihat antusias mengajukan pertanyaan, membedah detail tata kelola organisasi yang rapi dan profesional.
“Administrasi itu pondasi. Organisasi hebat lahir dari sistem yang rapi,” ujar salah satu pemateri menegaskan.
Di sesi pamungkas, para kader diajak membedah Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) setiap bidang di struktur IMM. Mulai bidang Kaderisasi, Hikmah, Immawati, Tabligh, Media dan Komunikasi, hingga bidang-bidang pendukung lainnya. Pesan utamanya sederhana namun mendasar: setiap kader mesti paham posisi dan tanggung jawabnya, agar gerak organisasi terarah dan saling bersinergi.
Satu Jargon, Satu Tekad
Menjelang penutupan, suasana berubah syahdu. Para peserta membentuk lingkaran kecil, menunduk merefleksikan rangkaian materi yang telah diserap. Di ujung refleksi, satu jargon mereka kumandangkan bersama: Elit mayority —sebuah mantra sederhana yang merangkum semangat untuk menjadi kader unggul di tengah arus mayoritas.
Sekolah Teknikrat bukan sekadar pelatihan sehari. Ia menjadi penanda bahwa di balik nama Teknokrat, IMM Komisariat Universitas Muhammadiyah Gresik menyiapkan generasi tangguh, berintegritas, dan siap bergerak untuk masyarakat.
Dengan tema “Dari Pemahaman Lahir Kepedulian, Satukan Gerakan”, benih harapan itu kini mulai bertunas di dada para kader muda IMM Teknokrat. (#)
Penulis Ilham Novian Ramadani Penyunting Mohammad Nurfatoni












