Feature

Sekolah Tarjih Muhammadiyah Dibuka di Tulungagung

52
×

Sekolah Tarjih Muhammadiyah Dibuka di Tulungagung

Sebarkan artikel ini
Sekolah Tarjih diikuti peserta dari utusan PCM, Ortom, perguruan tinggi, IMM, PDPM, dan Naisyatul Aisyiyah.
Ustaz Dr Aji Damanuri mengajar peserta Sekolah Tarjih Muhamamdiyah Tulungagung di Masjid Ahmad Dahlan Jepun. (Tagar.co/Hendra Pornama)

Sekolah Tarjih diikuti peserta dari utusan PCM, Ortom, perguruan tinggi, IMM, PDPM, dan Naisyatul Aisyiyah.

Tagar.co – Sebanyak 50 murid khusus itu rutin datang di Masjid Ahmad Dahlan Jepun, Tulungagung setiap Ahad ketiga.

Mereka belajar cara memahami agama Islam lewat hukum-hukum yang diterangkan dalam Al-Quran dan hadis.

Itulah kegiatan Sekolah Tarjih Muhammadiyah yang diadakan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung.

Program ini sudah berjalan mulai Mei 2025. Bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Tulungagung.

Pesertanya kader-kader muda dengan bimbingan Ustaz Dr Aji Damanuri, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung.

Peserta berasal dari utusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Ortom, perguruan tinggi, IMM, PDPM, dan Naisyatul Aisyiyah.

Lazismu Tulungagung mendukung sekolah ini dengan memberikan alat tulis dan buku Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang diterbitkan oleh PP Muhammadiyah kepada peserta.

Ustaz Aji Damanuri, pengasuh program Sekolah Tarjih, berharap program ini melahirkan kader-kader Muhammadiyah Tulungagung yang mampu menyebarkan paham keislaman demi kelangsungan dakwah berkemajuan.

Menurut dia, pemahaman terhadap Manhaj Tarjih Muhammadiyah bagi para kader Muhammadiyah sangat penting. Manhaj Tarjih bukan sekadar teori, tapi alat untuk menjaga kemurnian sekaligus dinamika gerakan.

”Tanpa pemahaman ini, kader rentan kehilangan arah atau terjebak dalam pemikiran yang tidak sejalan dengan prinsip Muhammadiyah. Muhammadiyah itu bukan sekadar organisasi, tapi gerakan berbasis ilmu dan metodologi yang jelas,” katanya.

Enam Alasan

Dia menjelaskan, kader Muhammadiyah harus memahami manhaj tarjih Muhammadiyah dengan beberapa alasan.

Baca Juga:  Salat Jumat di Hari Raya Idulfitri dan Iduladha Tetap Dianjurkan

Pertama, Manhaj Tarjih adalah metodologi yang digunakan Muhammadiyah dalam menggali hukum Islam (istinbath) berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad yang relevan dengan konteks zaman.

Dengan memahami Manhaj Tarjih, kader dapat menjaga konsistensi pemikiran dan amaliah Muhammadiyah agar tetap berpegang pada prinsip al-ruju‘ ila al-Qur’an wa al-Sunnah al-shahihah (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih).

”Pulang kampung saat mudik saja butuh map (peta, Google map) yang jelas, apalagi kembali pada nas, tentu butuh alat dan road map yang lebih jelas,” ujarnya.

Kedua, Muhammadiyah menekankan pentingnya berijtihad dan tidak sekadar mengikuti pendapat ulama masa lalu tanpa dalil yang kuat.

Pemahaman Manhaj Tarjih membantu kader untuk kritis dalam beragama, tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran ekstrem atau bid‘ah, sekaligus tidak terjebak dalam liberalisme tanpa dasar.

Muhammadiyah konsisten mengusung wajah islam wasatiyah, berkemajuan dalam menyelamatkan semesta.

Ketiga, dunia terus berubah, dan masalah baru muncul (seperti teknologi, bioetika, ekonomi digital). Manhaj Tarjih memberikan kerangka metodologis untuk berijtihad secara sistematis, sehingga kader Muhammadiyah bisa memberikan solusi keagamaan yang relevan namun tetap berlandaskan syariah.

Jika kader malas belajar maka akan digilas zaman. Jangan sampai Muhammadiyah tinggal nama dan tulisan sejarah, wama muhammadiyyatun illa ismuha wa rasmuha.

Keempat, Dengan memahami Manhaj Tarjih, perbedaan pendapat di internal Muhammadiyah dapat dikelola secara sehat karena semua kader memiliki pedoman yang sama dalam mengambil keputusan.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Ini mencegah perpecahan dan memastikan bahwa kebijakan organisasi tetap sejalan dengan khittah Muhammadiyah. Tergodanya kader dengan manhaj tetangga lebih banyak disebabkan ketidakfahamannya terhadap manhaj sendiri.

Kelima, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menekankan pemurnian (tashfiyah) dan pengembangan (tathwir).

Kader yang menguasai Manhaj Tarjih akan lebih efektif dalam menyampaikan dakwah berbasis ilmu, bukan sekadar emosi atau tradisi.

Sejak kelahirannya Muhammadiyah ingin membebaskan umat dari taklid buta, dan itu hanya bisa diwujudkan ketika para kader menguasai agama dengan baik, dengan ilmu yang mumpuni yang diperoleh dengan sistem belajar tuntas.

Keenam, Banyak kelompok Islam di Indonesia dengan metode berbeda (seperti literalisme Salafi, tradisionalisme NU, atau liberalisme).

Keunikan

Pemahaman Manhaj Tarjih membantu kader menjelaskan keunikan Muhammadiyah yang moderat (tawassuth), progresif, namun tetap berpegang pada dalil yang sahih.

Ketidakmampuan kader dalam mendakwahkan Islam dengan pemahaman Muhammadiyah membuat banyak kader justru terseret pada manhaj lain yang dianggap lebih progresif dan tesponsif.

Karena itulah, sambung dia, Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung menyusun materi sekolah tarjih ini berdasar pada ragam kemampuan peserta.

Pada pertemuan pertama, sebelum mendalami lebih lanjut tentang manhaj tarjih, Ustadz Aji Damanuri menyampaikan apa saja yang harus dikuasai kader agar memahami Muhammadiyah secara utuh, agar para kader mermiliki ideologi yang kokoh dan mantab dalam menjalankan agama sesuai pemahaman Muhammadiyah.

Pada gelombang pertama ini Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung mentargetkan peserta Sekolah Tarjih menguasai; manhaj tarjih sebagai sebuah metodologi dan ideologi, mabadi’ al khomsah, dasar-dasar ilmu al Qur’an dan Al Hadis dengan pendekatan Tarjih, memahami konsep bayani, burhani, irfani, dan qiyas, menjelaskan logika dan kriteria ketarjihan, dasar-dasar ushul fiqh, perkembangan fikih klasik dan kontemporer dan bagaimana manhaj Tarjih Muhammadiyah mensikapinya, pengembangan wawasan islam moderat (wasatiyah) yang otentik, kepemimpinan, organisasi, dan semangat perjuangan dalam Persyarikatan Muhammadiyah, juga memahami gerakan-gerakan Islam kontemporer.

Baca Juga:  Salat Jumat di Hari Raya Idulfitri dan Iduladha Tetap Dianjurkan

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung, Arief Sudjono Pribadi dalam sambutannya berpesan agar beberapa persoalan khilafiyah juga dibahas supaya para kader bisa menjadi corong untuk menjelaskan kepada ummat kususnya warga Muhammadiyah.

”Meskipun hal hal tersebut juga sudah banyak difatwakan atau dijawab oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah pusat, namun banyak yang tidak sempat membacanya,” ujarnya.

Merespon permintaan ketua PDM tersebut, Sekolah Tarjih akan menghidupkan dakwah digital pada media sosial yang telah dimiliki majelis tarjih Tulungagung.

Peserta Sekolah Tarjih menyebarkan putusan-putusan tarjih dalam buku tanya jawab agama yang telah terbit sampai jilid ke 9 melalui media Instagram, tiktok, reels, facebook dan media lainnya. Dengan cara ini diharapkan mempermudah warga untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan agama dengan mudah.

Sekolah Tarjih ini diharapkan berjalan dengan baik seperti yel-yel yang selalu dipekikkan “Sekolah Tarjih”!!! “Semangat”, “Sekolah Tarjih”!!! “Istikamah”. (#)

Jurnalis Hendra Pornama Penyunting Sugeng Purwanto