
Semester genap di SD Almadany tidak diawali dengan tumpukan materi pelajaran, melainkan dengan menata hati, ruang kelas, komitmen, dan tujuan belajar siswa melalui pendekatan 4R.
Tagar.co — Hari pertama masuk sekolah kerap menjadi penentu suasana belajar sepanjang semester. Menyadari hal itu, SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur, mengawali semester genap tahun pelajaran 2025/2026 dengan pendekatan pembelajaran yang hangat, kreatif, dan menyenangkan.
Baca juga: Apel Pagi dan Senam Sambut Hari Pertama Semester Genap di SD Almadany
Sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2026, seluruh satuan pendidikan—mulai PAUD hingga SMA/SMK—diinstruksikan memulai semester genap melalui kegiatan Pagi Ceria dan upacara bendera yang dilaksanakan pukul 07.00 waktu setempat. Tujuannya sederhana namun bermakna: menyiapkan hati, pikiran, dan semangat belajar peserta didik sejak hari pertama.
Suasana itu terasa jelas di SD Almadany pada Selasa (6/1/2026). Usai mengikuti senam pagi dan upacara bendera, siswa kelas VI tidak langsung tenggelam dalam rutinitas pelajaran. Mereka justru diajak mengikuti rangkaian kegiatan reflektif dan menyenangkan bertajuk 4R: Reconnecting, Refreshing, Resetting, dan Refocusing.
Reconnecting: Merajut Kembali Kebersamaan
Pada tahap ini, siswa diajak menuliskan pengalaman liburan mereka secara singkat di kertas sticky notes, lalu membacakannya di depan kelas. Kegiatan ini membuka ruang ekspresi sekaligus memperkuat ikatan emosional antarsiswa.
“Saya senang bisa berlibur bersama keluarga, meskipun saya juga merindukan kawan-kawan,” tutur Arya Gibran Al Ghifari, disambut senyum dan anggukan teman-temannya. Catatan kecil mereka kemudian ditempel di papan tulis sebagai simbol kembalinya kebersamaan di ruang kelas.
Refreshing: Menyegarkan Suasana Belajar
Agar kelas terasa benar-benar baru, siswa mengubah tata ruang: memindahkan almari, mengatur ulang loker, hingga mengganti denah tempat duduk yang sebelumnya terpisah antara laki-laki dan perempuan menjadi selang-seling. Dekorasi kelas juga diperbarui; pajangan lama dilepas, materi baru dipasang, dan papan reward–punishment diganti sesuai semangat semester genap.
“Suasana kelas jadi beda dan tidak bosan,” ujar Azzah Rona Al Fairuz penuh antusias.
Resetting: Menata Ulang Komitmen
Tahap berikutnya dipimpin langsung oleh Ketua Kelas VI, Dayana Batrisya Sujatmiko. Ia mengajak teman-temannya meninjau kembali kesepakatan kelas: apakah perlu diubah atau tetap dipertahankan.
Farel Khalif Atharizzi mengusulkan agar aturan tetap seperti semula, namun komitmen pelaksanaannya yang perlu diperkuat.
“Kesepakatan sudah bagus sejak awal. Yang perlu diubah itu sikap kita. Percuma aturan diubah kalau masih malas piket dan buang sampah sembarangan,” katanya lugas.
Usulan itu disambut anggukan dan persetujuan hampir seluruh kelas.
Refocusing: Menajamkan Tujuan Belajar
Sebagai penutup, siswa menulis “Surat untuk Diri Sendiri”—berisi target yang ingin dicapai serta kebiasaan buruk yang ingin dikurangi selama semester ini. Satu per satu siswa maju membacakan suratnya.
“Saya ingin lebih mandiri, berani mengambil risiko jika salah, dan membanggakan Rena dan Rama,” ucap Abraham Yazdan Zaini. Ia juga menuliskan niat untuk mengurangi malas bergerak dan lebih rajin menjaga kebersihan diri selama libur.
Belajar Dimulai dari Hati
Kepala SD Almadany Lilik Isnawai, M.Pd, mengatakan program 4R ini dirancang untuk memberi pengalaman awal yang menyenangkan, karena menurut para pendidik di SD Almadany, pembelajaran efektif bermula dari kenyamanan batin siswa.
“Ketika anak merasa diterima, nyaman, dan bahagia, maka pelajaran seberat apa pun akan lebih mudah masuk ke pikiran mereka,” ujarnya.
Menurutnya, dengan pendekatan ini, SD Almadany tidak sekadar membuka semester genap, tetapi menanamkan kembali makna belajar sebagai proses membangun diri, kebersamaan, dan masa depan. (#)
Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni












