
Anak-anak MI Muhammadiyah 6 Sekapuk (Mimsix) Gresik menyambut pemeriksaan kesehatan gratis dari Puskesmas Sekapuk dengan penuh semangat. Bahkan dua dokter cilik ikut tampil memimpin penyuluhan hidup sehat.
Tagar.co – Mentari pagi yang menyapa Rabu (10/09/2025) membawa semangat tersendiri bagi warga MI Muhammadiyah 6 (Mimsix) Sekapuk, Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur. Hari itu, ruang kelas lima berubah menjadi pusat kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis (PKG) yang diselenggarakan Puskesmas Sekapuk sebagai bagian dari program nasional.
Sasarannya tak main-main: seluruh siswa kelas I hingga kelas VI ikut serta dalam kegiatan ini. Pemeriksaan dilakukan berjenjang, dimulai dari kelas I dan II, sementara kelas lain menunggu giliran di luar.
Menariknya, tak ada satu pun siswa yang rewel atau menangis. Sebaliknya, mereka tampak bersemangat menanti giliran diperiksa.
Dokter Cilik Turut Ambil Bagian
Dua siswa Mimsix, Rizqa Azzahratun Najwa dan Marvel Raditya Putra Andianto, dipercaya Puskesmas Sekapuk menjadi dokter cilik.
Dengan seragam UKS yang mereka kenakan, keduanya tampil percaya diri menerangkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan, mulai dari pengecekan berat badan, tinggi badan, mata, tekanan darah, hingga gigi, mulut, dan telinga. Aksi mereka pun sempat direkam oleh pihak puskesmas.
Sebelum pemeriksaan, para petugas menyampaikan penyuluhan singkat tentang pentingnya kebersihan diri, pola hidup sehat, serta bahaya narkoba. Suasana menjadi lebih hidup ketika seluruh siswa serentak meneriakkan salam UKS yang dipimpin Azza dan Marvel:
“Sehat dimulai dari saya, merokok no, narkoba no, prestasi oke, UKS yes yes yes action!”

Edukasi Perilaku Hidup Sehat
Fety Nurhayati, SKM, promotor kesehatan Puskesmas Sekapuk, menjelaskan bahwa pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi dini risiko masalah kesehatan, baik penyakit menular maupun tidak menular. Dengan begitu, potensi komplikasi bisa dicegah sejak awal.
Lebih jauh, Fety menekankan pentingnya menanamkan kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak dini. “Kebiasaan sederhana seperti sarapan sebelum berangkat sekolah, menggosok gigi minimal dua kali sehari, cuci tangan pakai sabun, makan makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan istirahat cukup harus ditanamkan sejak anak-anak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan siswa agar menjauhi kebiasaan buruk seperti jajan sembarangan, tidur terlalu malam, atau terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji. Semua itu, kata Fety, bisa berdampak pada kesehatan sekaligus prestasi belajar.

Kesan Positif dan Catatan Perbaikan
Pemeriksaan tidak berhenti pada kesehatan tubuh siswa saja. Petugas juga meninjau fasilitas sekolah, termasuk toilet. Fety mengaku terkesan dengan kondisi Mimsix. Tempat sampah sudah terpilah dan tertutup, wastafel CTPS tersedia lengkap dengan sabun, kamar mandi bersih tanpa jentik, ruang kelas cukup luas, dan budaya kebersihan diri siswa terjaga.
Namun, ia juga memberikan beberapa masukan. Salah satunya peningkatan pencahayaan di ruang kelas. “Standar penerangan minimal ruang kelas di Indonesia adalah 250 lux. Cahaya yang cukup akan mendukung suasana belajar yang lebih baik,” katanya.
Selain itu, ia mendorong penambahan fasilitas seperti wastafel tambahan, ruang UKS yang lebih memadai, serta edukasi PHBS yang bisa dilakukan rutin saat apel atau melalui media poster. Ia juga menyarankan adanya pembinaan lebih lanjut bagi dokter kecil atau kader UKS di sekolah.
Kegiatan pemeriksaan kesehatan ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar rutinitas medis. Ia berubah menjadi ruang belajar bersama tentang arti penting menjaga kebersihan, kesehatan, dan pola hidup yang baik—modal utama bagi tumbuh kembang sekaligus prestasi anak-anak Mimsix. (#)
Jurnalis Nur Adhimah Penyunting Mohammad Nurfatoni












