Feature

Tangis Haru dan Semangat Baru di Malam Keakraban Guru Muhammadiyah Ujungpangkah

35
×

Tangis Haru dan Semangat Baru di Malam Keakraban Guru Muhammadiyah Ujungpangkah

Sebarkan artikel ini

 Isak tangis memenuhi Aula Hotel Arumdalu, Kota Batu, pada kegiatan “Malam Keakraban”. Para guru mengangkat tangan sambil memegang secarik kertas berisi harapan dan komitmen mereka sebagai pendidik. (Tagar.co/Nur Adhimah)

Tangis haru pecah di Aula Hotel Arumdalu, Batu, saat malam keakraban guru Muhammadiyah Ujungpangkah. Selain momen refleksi, kegiatan ini menjadi ruang membangun semangat baru, kekeluargaan, dan komitmen mendidik siswa dengan sepenuh hati.

Tagar.co – Isak tangis pecah di Aula Hotel Arumdalu, Kota Batu, Jawa Timur saat berlangsung malam keakraban, Senin (15/12/2025). Kala itu para guru Muhammadiyah se- Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, mengangkat tangan sambil menggenggam secarik kertas berisi harapan dan komitmen sebagai pendidik. Sebagian menunduk dengan mata terpejam, sebagian lain menyeka air mata.

Malam keakraban itu menjadi ruang refleksi—tentang lelah yang jarang diungkap, tentang ikhlas yang terus diperjuangkan, dan tekad untuk tetap mendidik dengan sepenuh hati.

Suasana hening menegaskan ikatan batin antarpeserta, sementara tangis yang hadir menguatkan kebersamaan dan pengalaman panjang para guru di ruang kelas.

Baca juga: Perkuat Ideologi Pendidikan Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen PNF PCM Ujungpangkah Gelar Pembinaan

Malam keakraban ini merupakan bagian dari acara Pembinaan Kepala Sekolah/Madrasah, Guru, dan Tenaga Kependidikan Muhammadiyah se-Kecamatan Ujungpangkah yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PCM Ujungpangkah.

Baca Juga:  Rumah Minim Kehangatan Picu Masalah Anak, SD Al Islam Gaungkan Parenting Berbasis Cinta

Kegiatan yang digelar di Aula Hotel Arumdalu Batu pukul 19.00–21.00 WIB ini sebagai rangkaian pembinaan dua hari Senin-Selasa (15-16/12/25), yang diikuti 122 pendidik dan tenaga kependidikan dari 11 perguruan Muhammadiyah.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Dikdasmen PNF PCM Ujungpangkah H. Muafiq, M.Pd.; Sekretaris Pusat Studi Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Sobrun Jamil, S.Si., M.P. sebagai pemateri; Ketua Paniti Muhammad Wasil, serta para kepala sekolah, guru, serta tenaga kependidikan Muhammadiyah se-Kecamatan Ujungpangkah.

Afif Hidayatullah memimpin refleksi dalam malam keakraban kepala sekolah, guru, dan karyawan Muhammadiyah se-Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, di Hotel Arumdalu Kota Batu, Senin (15/12/25) (Tagar.co/Nur Adhimah)

Refleksi Diri

Sesi refleksi dalam malam keakraban itu dipandu oleh Afif Hidayatullah, SE., SPd., M.Ak., CHt., CNNLP, motivator nasional.

Dia memaparkan kepada para guru Muhammadiyah Ujungpangkah tentang pentingnya menghitung keberhasilan dalam gerak dan langkah, bukan dalam bentuk uang.

“Sebagai guru, jangan pernah kita hitung kuantitas dalam bentuk materi. Hitunglah gerak dan langkah kita,” tegas Afif.

Afif menekankan pentingnya kekeluargaan di lingkungan sekolah. “Saya ingin sekolah Muhammadiyah Ujungpangkah bersatu dan kuat. Kita di sini bukan sekadar rekan kerja, tetapi keluarga. Kalau kita tidak punya apa-apa untuk diberikan, setidaknya kita punya saudara. Kepala sekolah wajib menghafal ulang tahun gurunya, meski yang bisa diberikan hanya ucapan dan doa,” ujarnya memberi saran.

Baca Juga:  Kajian PCM Ujungpangkah Tekankan Amalan Pembawa Berkah Rumah Tangga

Menurut Afif, kehilangan semangat mengajar bagi seorang guru lebih berbahaya daripada kehilangan gaji selama satu tahun. Kekuatan sebuah sekolah terletak pada rasa memiliki yang tinggi. Guru yang menjadikan siswanya sebagai sumber pahala akan menjadikan pekerjaannya sebagai ibadah. “Allah tidak bertanya tentang jumlah siswa, tetapi proses mendidik dan membimbing siswa,” tambahnya.

Dalam bekerja, Afif menekankan pentingnya menjadi pribadi yang memiliki nilai dan dibutuhkan, serta mampu mengubah hal negatif menjadi positif. Semua warga sekolah harus saling mendukung karena sekolah Muhammadiyah adalah milik Allah.

“Mengajar karena Allah berarti peduli dan empati terhadap satu sama lain,” katanya.

Afif juga menekankan agar guru tidak terlalu fokus pada kekurangan, baik pada diri sendiri maupun siswa, karena hal itu dapat menimbulkan sakit hati. Jika dibiarkan berlarut-larut, bisa berdampak fisik, seperti sakit lambung atau stroke. Sekolah akan berkembang dengan baik jika tercipta kenyamanan dan kekeluargaan antarwarga sekolah.

“Kita harus mampu menciptakan sekolah yang nyaman bagi para siswa,” ujarnya.

Afif menambahkan, hampir 90 persen anak bermasalah karena kurangnya kehidupan di rumah. Ayah dan ibu mereka tidak bisa dirasakan kehadirannya, pasangan tidak menjadi tempat curhat. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi ‘rumah terbaik’ untuk pekerjaan kita, tempat siswa merasa nyaman, sehingga tercipta kepercayaan. Saat kepercayaan terbentuk, mencari siswa baru pun tidak akan sulit.

Baca Juga:  MJHS Expo 2026 Mimsix, Membuka Peta Masa Depan Pendidikan Siswa Kelas VI

Untuk membangun sinergi yang kuat, Afif menekankan beberapa langkah: membangun mental keluarga, menyamakan gelombang, menguatkan rasa memiliki, menciptakan komunikasi efektif dan terbuka, menyusun visi misi bersama yang jelas, serta meniatkan bekerja sebagai ibadah.

Ia juga mengingatkan tentang ayat Al-Qur’an yang relevan, yaitu Surat Al-Insyirah ayat 5–6: “Inna maal usri yusra. Fainna maal-usri yusra.” Artinya, “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”

Dia juga menginatkan kalimat yang diulang-ulang dalam Surah Ar-Rahman: “Fabiayi ala irabbikuma tukaziban.” Artinya, “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan.”

Afif menutup pesannya dengan menekankan pentingnya niat dan kerja sama. “Tetap mantapkan niat kita, tingkatkan kinerja. Maju sendiri itu biasa, tetapi maju bersama-sama itu luar biasa.”

Jurnalis Nur Adhimah Penyunting Mohammad Nurfatoni