FeatureUtama

Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah Dilarang Berada di Zona Nyaman

39
×

Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah Dilarang Berada di Zona Nyaman

Sebarkan artikel ini
Ketua PWM Jatim Sukadiono saat menyampaikan tausiah dalam pelantikan pimpinan baru Smamsau M. Ali Safa’at/Humas Smamsatu)

Pimpinan amal usaha Muhammadiyah tidak boleh berada di zona nyaman disampaikan oleh Ketua PWM Jatim Sukadiono di Smamsatu Gresik. Kapan dan di mana pun mereka harus ingat dan memikirkan amal usaha.

Tagar.co – Kehadiran Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM) Dr. dr. Sukadiono, M.M. memberi bobot yang kuat di acara Pelantikan Kepala dan Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Babat periode 224-2028.

Acara berlangsung di Aula Matahari Gedung ‘Damar Kurung’ Smamsatu, Kamis (19/12/24).

Dokter Suko, sapaan akrabnya hadir dengan mengenakan kemeja batik dengan kelir dominan hitam dan kuning. Dengan memakai peci hitam dan kaca mata, mantan rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya tiga periode itu menyampaikan pesan-pesan penting pada pimpinan Smamsatu yang baru dilantik.

Baca juga: Pimpinan Baru Smamsatu Dilantik: Ini Janji Mereka

Menurutnya, menjadi pimpinan amal usaha Muhammadiyah (AUM) itu lebih banyak tugasnya dibanding sebagai pemimpin perserikatan Muhammadiyah.

“Kenapa?” tanyanya retoris. Sebab, jawab dia, komitmen pimpinan AUM itu lebih banyak dibandingkan dengan komitmen pimpinan Perserikatan.

Pria kelahiran Jombang Jawa Timur, itu lalu mengupas empat komitmen pimpinan AUM. Pertama, komitmen terhadap Islam. Dokter Suko menyampaikan pimpinan AUM harus bisa mengimplementasikan ajaran ajaran islam dalam kehidupan sehari hari.

“Jangan sampai kemudian kita sebagai pimpinan amal usaha tetapi tidak menjalankan syariat-syariat yang diajarkan oleh islam melalui Al-Qur’an dan As-Sunah,” tegasnya.

Kedua, komitmen terhadap Muhammadiyah. Dia menegaskan apapun yang menjadi aturan di Muhammadiyah wajib diikuti.

Baca Juga:  Safari Ramadan Smamsatu di Spensagres: Tutor Sebaya Tebar Energi Ramadan

Mulai dari anggaran dasar, anggaran rumah tangga, hingga pedoman pengelolaan amal usaha baik yang dibuat oleh PP, PWM, maupun PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah).

“Jadi tidak boleh kemudian pimpinan amal usaha Muhammadiyah itu melanggar aturan-aturan yang telah dibuat oleh pimpinan perserikatan,” ujarnya.

Suko lalu memberi contoh kecil soal ketaatan pada maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tentang penetapan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri atau Idul Adha.

“Maka pimpinan amal usaha wajib taat, samikna waatakna (dengar dan taat),” ujarnya.

Komitmen ini tidak hanya pada PP Muhammadiyah tapi juga pada PWM Jatim membuat SK kepala dan wakil sekolah.

Baca jugaSelamat Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas, Pesan untuk Kepala Smamsatu Nurul Ilmiyah

Komitmen pada perserikatan itu juga menyangkut membangun solidaritas antaramal usaha Muhammadiyah. Menurut Dokter Suko, hal seperti itu penting untuk dilakukan sebagai bagian dari kesatuan ‘tubuh’ Muhammadiyah.

“Sebab biasanya kalau amal usaha itu sudah kaya, mohon maaf, itu lupa. Tidak memperhatikan amal-amal usaha lain yang ‘hidup tak segan mati tak mau’,” tuturnya.

Undangan acara Pelantikan Kepala dan Wakil Kepala SMA Muhammadiyah periode 2024-2028. Pemimpin Amal Usaha Muhammadiyah Dilarang Berada di Zona Nyaman. (M. Ali Safa’at/Humas Smamsatu)

Mengembangkan Amal Usaha

Tugas ketiga pimpinan AUM adalah mengembangkan amal usaha yang menjadi amanahnya.

Menejelaskan komitmen urutan ketiga ini, Dokter Suko membacakan Surat Al-Anfal 27 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Baca Juga:  Bonding Day: Smamsatu Gresik dan KISAS Malaysia Perkuat Jejaring Pendidikan Serumpun

Agar bisa menjalankan amanat dengan baik alias tidak mengkhianatinya, Suko menyampaikan tiga aspek yang harus dilakukan.

Aspek pertama, menjaga amanah sebaik-baiknya. “Menjaga amanat itu penting. Jangan sampai kemunafikan itu ada di dalam diri kita karena menyia-nyiakan atau tidak menjaga amanah itu,” tuturnya. Sebab, menurutnya, tanggung jawab amanat bukan hanya di dunia melainkan dibawa sampai ke akhirat.

Aspek kedua, profesional. Di sini Dokter Suko menjelaskan pengertian profesional adalah menjelaskan amanat dengan sungguh-sungguh.

“Maka pimpinan amal usaha itu tidak boleh berada berada di zona nyaman,” katanya mengingatkan. Sebaliknya pimpinan amal usaha Muhammadiyah, apakah itu sekolah, rumah sakit, atau panti asuhan, jika ingin maju maka harus selalu berada di zona tidak nyaman.

Baca jugaDokumen Penting yang Dibaca Ketua PDM Gresik saat Pelantikan Pimpinan Smamsatu

Salah satu indikator zona tidak nyaman itu, kapan dan di mana pun ingat dan memikirkan amal usaha.

“Mau makan ingat sekolah, mau tidur ingat sekolah. Di mana saja dan kapa saja, maka kita ingat sekolah,” ujarnya menyontohkan. Menurutnya dia bisa mengatakan hal itu karena pernah menjadi memimpin amala usaha sebagai rektor UM Surabaya.

“Kalau kita ini santai-santai saja sebagai pimpinan amal usaha maka akan ketinggalan kereta,” katanya membuat ibarat.

Maka, seorang pemimpin itu harus punya visi (leader has vision). “Bu Nurul empat tahun ke depan ini mau di bawa ke mana SMA Muhammadiyah 1 Gresik ini,” tanyanya retoris pada Kepala Smamsatu Nurul Ilmiyah yang baru saja dilantik, memberi contoh pentingnya visi pemimpin.

Baca Juga:  Karya Tugas Akhir Prodistik ITS Smamsatu Gresik Dipamerkan Terbuka

Menurut dia, meskipun Smamsatu sudah mendapat penghargaan dari Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim sebagai Outstanding School, tetapi pimpinan tetap harus serius memikirkan sekolahnya ke depan.

Itulah pentingnya berada di zona tidak nyaman sehingga selalu muncul ide-ide untuk mengembangkan sekolah.

Selain visi, pemimpin juga harus punya semangat atau gairah (leader has passion). “Nek pemimpine males-malesan, maka anak buahnya juga males-malesan,” ujarnya dalam bahasa Suroboyoan. Sebab, menurutnya pemimpin adalah uswah, suri tauladan, atau model.

Aspek ketiga adalah tanggung jawab, termasuk siap bertanggung jawab dalam audit keuangan oleh pihak eksternal atau kantor akuntan publik.

Menurut Suko pemimpin yang bertanggung jawab tidak takut laporannya keuangannya diaudit, kecuali jika ada penyalahgunaan keuangan.

Membumikan Al-Islam

Komitmen ketiga yang harus dimiliki pimpinan AUM adalah mampu membumikan Al-Isam dan Kemuhammadiyahan.

Suko menegaskan pimpinan AUM harus bisa membumikan Islam menurut pemahaman atau ideologi Muhammadiyah. Krena itu syarat pertama calon pimpinan AUM memiliki nomor baku Muhammadiyah (NBM).

“Harapannya kalau sudah punya MBM itu, tentu, ibadahnya, paham agamanya sudah sesuai dengan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhamadiyah,” kata dia.

Jurnalis Mohammad Nurfatoni