
Alika begitu bersemangat merayakan ulang tahunnya di sekolah. Namun, kebahagiaan itu mendadak sirna saat acara tiba-tiba dibubarkan. Mampukah ia tetap merayakan hari istimewanya dengan kebahagiaan?
Cerpen Oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur.
Tagar.co – Alika menatap kalender di dinding kamarnya. Satu bulan lagi dia berulang tahun yang ketujuh. Ia membayangkan pesta ulang tahun yang meriah bersama orang-orang terkasih. Nenek dan tantenya datang dari luar kota membawa segudang rindu karena lama tidak berjumpa.
Sebentar lagi dia akan lulus dari taman kanak-kanak. Selama ini ulang tahunnya tidak pernah dirayakan karena selalu bertepatan dengan bulan Ramadan. “Apa salahnya kali ini aku meminta Mama mengadakan pesta ulang tahun,” gumam Alika.
“Alika kenapa?” tanya Mama penasaran melihat putrinya terpaku menatap kalender.
“Satu bulan lagi Alika ulang tahun, Ma. Bisa tidak ulang tahunku dirayakan?” pinta Alika dengan penuh harap.
Cerpen lainnya” Kado Terakhir untuk Kakek
Alika ingin ulang tahunnya kali ini dirayakan dengan mengundang teman-teman sekolah, tetangga, dan anak-anak panti asuhan.
“Boleh ya, Ma, Pa. Sekali ini saja,” katanya memohon saat Papa masuk ke kamar.
“Coba nanti Papa dan Mama tanyakan ke Ibu Guru di sekolah ya, boleh atau tidak merayakan ulang tahun di sana,” jawab Mama.
Jawaban itu membuat hati Alika berbunga-bunga. Ia membayangkan betapa meriahnya pesta ulang tahunnya nanti.
Namun, keesokan harinya, harapannya sedikit meredup saat Mama menyampaikan jawaban dari kepala sekolah.
“Mohon maaf ya, Ma, aturan di sekolah tidak memperbolehkan pesta ulang tahun. Kalau hanya berbagi makanan dengan teman-teman tidak masalah, tapi untuk mengadakan pesta, mohon maaf kami belum bisa mengizinkan,” kata kepala sekolah.
“Sebetulnya kami hanya ingin mengadakan tasyakuran saja, Bunda. Bukan pesta besar-besaran. Kami berencana mengundang pendongeng Islami dan berbagi dengan anak-anak panti asuhan,” ujar Mama Alika.
“Guru kami ada yang memiliki panti asuhan, Ma. Bagaimana kalau acara tasyakurannya di sana?” usul kepala sekolah.
“Betulkah, Bunda? Baik, nanti saya diskusikan dulu dengan suami saya,” sahut Mama.
Setelah berdiskusi, akhirnya Mama Alika dan Bu Mawar, pemilik panti asuhan sekaligus guru kelas Alika, menyepakati bahwa acara tasyakuran akan diadakan di sekolah saja. Lokasi panti asuhan yang jauh menjadi pertimbangan utama.
Dua hari sebelum acara, Mama Alika kembali menemui kepala sekolah.
“Mohon maaf, Bunda. Saya dan Bu Mawar sepakat untuk mengadakan acara tasyakuran di sekolah saja. Setelah saya survei, letak panti asuhan terlalu jauh. Kasihan teman-teman Alika kalau harus datang ke sana. Jadi kami memutuskan mengadakannya di sekolah,” terang Mama Alika.
“Acaranya tidak di jam belajar, Bunda. Waktunya sore hari setelah Ashar,” tambahnya.
Karena undangan sudah tersebar, kepala sekolah akhirnya memberikan izin dengan beberapa syarat.
“Ada beberapa aturan, Ma. Mohon kiranya bisa dipatuhi,” kata kepala sekolah.
“Karena kegiatan ini sebenarnya dilarang oleh yayasan, maka acara tasyakuran Alika tidak boleh ada tiup lilin. Semua tamu yang diundang harus memakai baju Muslim, sedangkan yang non-Muslim memakai pakaian sopan dan tertutup,” pinta kepala sekolah.
Ia berharap acara ini bisa menjadi contoh bahwa ulang tahun tidak harus dirayakan dengan pesta berlebihan. Di lingkungan sekitar, perayaan ulang tahun sering diisi dengan hiburan mewah dan kemeriahan yang kurang mendidik.
##
Hari yang dinanti pun tiba. Usai sekolah, Mama Alika dibantu beberapa teman menata ruang kelas. Balon warna-warni dipasang untuk mempercantik ruangan. Kepala sekolah sempat meninjau sebelum akhirnya pulang.
Namun, sekitar pukul 14.30 WIB, sebuah telepon mengejutkan kepala sekolah.
“Sebaiknya Bunda segera datang ke sekolah. Acara ulang tahun Alika dibubarkan,” ujar suara di seberang.
Tanpa sempat berganti baju, kepala sekolah bergegas ke sekolah. Setibanya di sana, semua dekorasi sudah dibereskan. Balon-balon sudah dilepas, dan aneka makanan kembali dimasukkan ke dalam kardus-kardus besar.
Di wajah Mama dan Papa Alika tergambar kesedihan dan kekecewaan. Rencana memberikan kenangan indah bagi buah hati mereka berubah menjadi kekecewaan mendalam. Kepala sekolah hanya bisa terdiam, terlambat untuk mencegah kejadian ini.
Di tengah suasana muram, seorang teman Alika menawarkan tempat di rumah makannya.
Tanpa dikomando, teman-teman Alika bergerak membantu memindahkan semua dekorasi ke rumah makan tersebut. Mereka bekerja sama memasang kembali hiasan-hiasan ulang tahun untuk memeriahkan acara.
Air mata sedih berubah menjadi kebahagiaan. Begitu banyak orang yang peduli dan ingin membantu.
Ketika pendongeng tiba, anak-anak segera duduk dan mendengarkan kisah kelahiran Nabi Muhammad dengan penuh antusias.
Hari istimewa Alika yang nyaris berakhir dengan kekecewaan justru berubah menjadi momen penuh makna. Kebersamaan dan keikhlasan teman-temannya membuat hari ulang tahunnya menjadi lebih berkesan.
“Barakallah fi umrik, Alika. Semoga Allah selalu menjagamu dan mengabulkan doa-doamu.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












