Feature

Pesantren Harus Kuasai Bahasa Digital untuk Jawab Tantangan Zaman

32
×

Pesantren Harus Kuasai Bahasa Digital untuk Jawab Tantangan Zaman

Sebarkan artikel ini
Menko PMK Pratikno
Menko PMK Pratikno

Dalam kunjungannya ke Ponpes Al-Ishlahiyah, Menko PMK Pratikno menekankan pentingnya penguasaan bahasa, termasuk bahasa digital, sebagai bekal utama pesantren dalam melahirkan SDM unggul dan siap menghadapi masa depan.

Tagar.co – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa upaya melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul harus dimulai dari penguasaan bahasa dan literasi digital. Penegasan ini ia sampaikan saat mengunjungi Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (14/7/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Pratikno menyoroti pentingnya bahasa sebagai gerbang utama untuk mengakses ilmu pengetahuan. Ia menekankan bahwa selain menguasai bahasa internasional seperti Inggris dan Arab, generasi muda juga perlu memahami bahasa digital sebagai keterampilan kunci di era teknologi saat ini.

Baca juga: Santri Bisa Kuliah dari Pesantren, Menko PMK Dorong Akses Pendidikan Tinggi Digital

“Penguasaan ilmu pengetahuan membutuhkan media komunikasi, yaitu bahasa. Saat ini, bahasa digital menjadi bagian penting yang harus dikuasai,” ujarnya.

Pratikno juga mengingatkan bahwa sejarah keilmuan dunia tidak bisa dilepaskan dari kontribusi besar peradaban Islam. Tokoh-tokoh seperti Al-Jabbar, Ibnu Sina, Al-Zahrawi, dan Jabir ibn Hayyan merupakan pelopor ilmu dasar modern seperti matematika, kedokteran, bedah, dan kimia.

“Pemimpin Islam pada masa lalu adalah pencetus utama berbagai cabang ilmu yang mendasari kemajuan dunia modern. Sedangkan peradaban saat ini dipimpin oleh orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, peran pesantren menjadi sangat penting dalam menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

Lebih jauh, Pratikno menyampaikan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam mencetak SDM unggul—yakni pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak, sehat secara jasmani dan rohani, serta memiliki daya saing global. Dengan jumlah santri mencapai sekitar 11,5 juta, pesantren menjadi potensi besar dalam membangun karakter bangsa yang siap menghadapi masa depan.

Menko PMK dan santri Ponpes Al-Ishlahiyah yang peserta Salut

Sebagai bagian dari transformasi pendidikan pesantren, pemerintah kini mendorong pengembangan pembelajaran digital melalui pendirian Sentra Layanan Universitas Terbuka (Salut) berbasis pesantren.

Melalui sistem pendidikan jarak jauh yang diinisiasi oleh Universitas Terbuka, para santri tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tanpa harus meninggalkan peran pengabdiannya di lingkungan pesantren.

Lebih dari itu, kehadiran Salut di pesantren diharapkan mampu mendorong modernisasi tata kelola pesantren serta membuka akses pendidikan tinggi yang lebih inklusif.

“Salut akan menjadi langkah penting untuk melahirkan lulusan pesantren yang bisa berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan,” ujar Pratikno.

Dengan penguatan nilai-nilai agama, akses pendidikan tinggi yang terbuka, serta kecakapan digital yang mumpuni, pemerintah berharap lahirnya generasi santri yang unggul, kompetitif secara global, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Turut hadir dalam kunjungan ini Wakil Bupati Malang Latifah Shohib, Direktur UT Malang Lilik Sulistyowati, Pengasuh Ponpes Al-Ishlahiyah Nyai Hj Anisah Mahfud, Ketua Yayasan Al-Ishlahiyah K.H. Hasib Mahfud, dan Ketua Salut Al-Ishlahiyah Gus Ahsani Fathur Rohman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni