Feature

Perkedel Bergizi, Ikhtiar Mahasiswa Stikes Maboro Cegah Stunting

40
×

Perkedel Bergizi, Ikhtiar Mahasiswa Stikes Maboro Cegah Stunting

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Gizi Stikes Maboro dan Bidan Desa Karangsono berkolaborasi menggelar Kelas Balita untuk mengedukasi ibu tentang gizi seimbang, pencegahan stunting, serta praktik memasak menu sehat lokal.
Mahasiswa Gizi Stikes Maboro dan Bidan Desa Karangsono berkolaborasi menggelar Kelas Balita. (Tagar.co/Akbar Fikri Alfiansyah)

Mahasiswa Gizi Stikes Maboro dan Bidan Desa Karangsono berkolaborasi menggelar Kelas Balita untuk mengedukasi ibu tentang gizi seimbang, pencegahan stunting, serta praktik memasak menu sehat lokal.

Tagar.co — Stunting bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi masa depan generasi Desa Karangsono. Menyadari risiko besar tersebut, Balai Desa Karangsono di Kecamatan Dander, Bojonegoro, seketika berubah menjadi pusat gerakan kesehatan, Kamis, 22 Januari 2026.

Di sana, puluhan ibu bukan sekadar datang untuk menimbang berat badan anak, melainkan untuk “mempersenjatai” diri dengan ilmu gizi dalam Kelas Balita. Agenda ini terselenggara atas inisiatif mahasiswa KKN Program Studi Gizi Stikes Muhammadiyah Bojonegoro (Maboro) bersama bidan desa setempat.

Bidan Desa Karangsono, Dina Susanti, membuka sesi dengan peringatan lembut namun tegas: kesehatan seorang anak tidak bermula saat ia menghirup udara pertama di dunia, melainkan sejak berada di dalam kegelapan rahim. Dina mengupas tuntas pentingnya pemeriksaan kehamilan secara berkala untuk mendeteksi dini risiko komplikasi yang sering kali terabaikan.

Baca Juga:  Dari Subuh hingga Syuruk, Kajian Saroja Merawat Iman Jemaah Masjid Al-Ghifari

“Pemeriksaan kehamilan yang rutin sangat penting agar risiko bisa tertangani sejak dini,” ujar Dina dengan nada mengayomi di hadapan para peserta yang menyimak dengan saksama.

Ia menyoroti, anemia pada ibu hamil adalah “pintu masuk” bagi stunting pada anak. Kelas ini pun menjadi ruang diskusi dua arah yang hangat. Para ibu tak lagi sungkan bertanya mengenai keluhan fisik hingga pola asuh. Dina menekankan bahwa deteksi dini kunci utama agar pertumbuhan anak tidak terhambat bahkan sebelum mereka lahir ke dunia.

Baca Juga: Sinergi Mahasiswa Stikes Maboro dengan Puskesmas: Ibu PKK Bisa Cek Kesehatan Gratis

Menakar Gizi dalam Piring Anak

Setelah wawasan medis dari bidan, Widya Puspitasari, mahasiswa Program Studi Gizi Stikes Maboro, mengambil alih panggung. Ia membawa misi besar: meruntuhkan stigma makanan bergizi itu mahal dan rumit. Widya menjelaskan dengan bahasa yang membumi bahwa zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak harus bersinergi dengan zat gizi mikro dalam setiap suapan anak.

Baca Juga:  Empat Nakhoda Sekolah Muhammadiyah GKB Ikuti Kajian Ramadan PWM Jatim

“Protein hewani dan nabati memiliki peran vital untuk mendukung pertumbuhan jaringan tubuh serta perkembangan otak balita,” jelas Widya.

Kemudian, ia merinci peran krusial zat besi, kalsium, asam folat, dan vitamin A yang sering kali terlupakan dalam menu harian warga desa. Tak berhenti pada teori, Widya membedah pola makan ideal sesuai jenjang usia. Ia memaparkan detail frekuensi makan hingga variasi menu agar balita tidak mengalami trauma makan atau picky eating.

Fokus utamanya adalah memberdayakan para ibu untuk memanfaatkan bahan pangan lokal yang melimpah di sekitar Karangsono. Dina mengungkap, jika bahan lokal diolah dengan benar, memiliki nilai gizi setara dengan produk olahan pabrik yang mahal.

Demonstrasi Lezat Perkedel Bergizi

Suasana semakin hidup saat aroma gurih mulai menyeruak di dalam ruangan. Para mahasiswa memulai demonstrasi memasak perkedel, menu merakyat yang mereka sulap menjadi “bom gizi” bagi balita. Mereka menunjukkan teknik mengolah bahan agar kandungan nutrisi tidak rusak oleh suhu panas, sekaligus memastikan standar kebersihan makanan tetap terjaga dari dapur hingga ke piring anak.

Baca Juga:  PPL Terbimbing hingga Mandiri, Umsura Menyiapkan Guru PPG Profesional

Langkah praktis ini, kata Widya, bertujuan agar para ibu memiliki referensi menu sehat yang berkelanjutan dan tidak membosankan. “Melalui cara ini, kami ingin membuktikan mencegah stunting bisa dimulai dari langkah sederhana di dapur rumah masing-masing,” ujar Widya.

Puji Astutik, salah satu peserta, mengaku sangat terkesan dengan pendekatan ini. Ia merasa mendapatkan jawaban atas kebingungannya selama ini dalam mengatur menu makan anak.

“Ilmunya bisa langsung saya praktikkan, terutama soal pilihan makanan untuk anak agar tidak pilih-pilih makan,” ungkap Puji sembari mencicipi hasil masakan.

Sinergi ini menjadi bukti edukasi di tingkat akar rumput adalah senjata paling ampuh untuk mencetak generasi Bojonegoro yang tangguh dan bebas stunting. (#)

Jurnalis Akbar Fikri Alfiansyah Penyunting Sayyidah Nuriyah