
Perang dengan setan selepas Ramadan menjadi medan yang sangat menggelincirkan, karena mereka sudah lepas dari belenggu, sehingga bisa menyerang dari arah mana saja.
Oleh Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur.
Tagar.co – Ramadan telah berlalu. Ia pergi tidak sekadar sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai laboratorium spiritual yang paling indah bagi setiap mukmin.
Di dalamnya, Allah memberi kita sebuah kondisi yang tidak ditemukan di bulan-bulan lain, yaitu setan-setan dibelenggu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Apabila datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar tentang ajaran teologis. Tetapi juga penyingkap realitas manusia. Bahwa selama Ramadan, pengaruh eksternal yang paling destruktif (yakni godaan setan) diminimalisir.
Maka jika di bulan itu kita masih bergulat dengan kemalasan, amarah, atau bahkan maksiat, sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan satu musuh yang jauh lebih dekat, yaitu diri kita sendiri, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai nafsu ammarah.
Dijelaskan dalam surah Yusuf: 53
اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىۡ ؕ
Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku.
Di sinilah Ramadan menjadi cermin. Ketika setan ditahan, kita dipertemukan dengan wajah asli jiwa kita. Menariknya, sebagian besar dari kita justru mampu meningkatkan ibadah, yakni: salat lebih khusyuk, sedekah lebih ringan, tilawah lebih intens. Ini adalah bukti yang tidak terbantahkan, bahwa manusia sejatinya mampu taat.
Namun Ramadan juga menyisakan pertanyaan rahasia, yaitu: jika kita mampu dan ringan melakukan ibadah selama sebulan, mengapa setelah Ramadan sering kali kita goyah dan merasa berat atau malas beribadah?
Jawabannya sederhana, namun tidak ringan, yaitu: karena setelah Ramadan, medan ujian kembali utuh.
Setan tidak lagi dibelenggu. Ia kembali menjalankan sumpahnya yang diabadikan Al-Qur’an surah Al-A’raf: 16-17.
قَالَ فَبِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ لَاَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَاطَكَ الۡمُسۡتَقِيۡمَۙ ثُمَّ لَاَتِيَنَّهُمۡ مِّنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ اَيۡمَانِهِمۡ وَعَنۡ شَمَآٮِٕلِهِمۡؕ
(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka.
Kini godaan itu menjadi berlapis: eksternal dari setan, dan internal dari nafsu. Jika di Ramadan kita hanya menghadapi satu godaan dari sisi internal diri sendiri yaitu hawa nafsu, maka di luar Ramadan kita menghadapi dua sekaligus. Di sinilah letak perang yang sebenarnya.
Allah telah mengingatkan: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6)
Masalahnya, banyak di antara kita yang gagal membaca peta perang ini. Kita merindukan suasana Ramadan, tetapi lupa membawa nilai Ramadan. Kita mengagungkan ibadah di bulan itu, tetapi tidak menyiapkan strategi untuk mempertahankannya setelah Ramadan pergi.
Padahal, esensi Ramadan bukanlah pada tanggalnya, melainkan pada transformasi dirinya. Ramadan mengajarkan bahwa ketaatan bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia hanya membutuhkan kesadaran, latihan, dan keberanian untuk melawan diri sendiri.
Maka pasca Ramadan, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa meriah kita merayakan Idulfitri, tetapi seberapa kuat kita menjaga istikamah. Sebab kemenangan sejati bukan pada menahan lapar dan dahaga, melainkan pada kemampuan mengendalikan jiwa.
Al-Qur’an menutupnya dengan sebuah prinsip abadi:
قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا ؕ
Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 9–10)
Di titik ini, kita harus berkomitmen keras pada diri sendiri. Bahwa Ramadan telah membuktikan kita bisa. Maka pasca Ramadan pergi meninggalkan kita, tidak ada lagi alasan untuk tidak melanjutkan. Karena sesungguhnya, yang pergi adalah Ramadan. Tetapi yang seharusnya tetap tinggal adalah ruh ketaatan itu sendiri.
Kini ketika setan kembali dilepas, pertanyaannya bukan lagi: seberapa kuat godaan itu? Melainkan: seberapa siap kita melawannya? (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












