Feature

Pemimpin Sejati Adalah Pelayan: Refleksi dari Ujian Disertasi Fahriyah

33
×

Pemimpin Sejati Adalah Pelayan: Refleksi dari Ujian Disertasi Fahriyah

Sebarkan artikel ini
Fahriyah (duduk kiri) bersama tim penguji dalam Ujian Akhir Disertasi Program Doktor Ilmu Administrasi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang, Senin (3/11/2025). Disertasinya mengangkat tema Kepemimpinan Sektor Publik dalam Perspektif Servant Leadership. (Tagar.co/Istimewa)

Kepemimpinan sejati bukan tentang kuasa, tetapi pelayanan. Gagasan servant leadership menegaskan bahwa pemimpin ideal adalah mereka yang berempati, rendah hati, menumbuhkan orang lain, dan memimpin dengan hati demi kemajuan bangsa.

Oleh Ulul Albab: Akademisi Universitas Dr. Soetomo; Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Senin, 3 November 2025, saya mendapat kehormatan lagi—untuk kesekian kalinya—menjadi penguji eksternal pada ujian disertasi doktor di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya (FIA UB). Promovenda yang berbahagia kali ini adalah Ibu Fahriyah, dosen FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Judul disertasinya menarik sekaligus relevan dengan konteks birokrasi kita hari ini: “Kepemimpinan Sektor Publik dalam Perspektif Servant Leadership.”

Baca juga: Disertasi Ardie Kurniawan: Mengikis Silo Mentality, Membangun Tata Kelola Kolaboratif

Dari ruang ujian yang hangat dan penuh semangat ilmiah itu, saya terinspirasi untuk mengembangkan gagasan disertasi tersebut dalam konteks yang lebih luas, yaitu: bagaimana model kepemimpinan yang ideal bagi Indonesia hari ini?

Apakah gaya kepemimpinan ala Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dapat dikategorikan dalam model servant leadership, atau justru mencerminkan model yang berbeda?

Pelayan atau Penguasa

Istilah servant leadership pertama kali diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf pada 1970. Gagasan dasarnya sederhana, tetapi revolusioner: seorang pemimpin sejati pada awalnya adalah pelayan terlebih dahulu, baru kemudian memimpin.

Baca Juga:  Merawat Silaturahmi, Menjaga Cahaya Ramadan

Ia memimpin bukan untuk berkuasa, tetapi untuk mengabdi. Model ini menekankan empati, kemampuan mendengarkan, membangun kepercayaan, dan memberdayakan orang lain. Bukan pemimpin yang menaklukkan, tetapi pemimpin yang menumbuhkan.

Dalam konteks birokrasi publik, model ini sangat relevan dengan semangat ASN Berakhlak—akrinim berorientasi pelayanan, akuntabel, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif—sebagaimana kini menjadi semangat birokrasi di BUMN. Di sinilah kekuatan disertasi Ibu Fahriyah menemukan maknanya, yaitu menggugah kesadaran bahwa birokrasi yang modern bukan hanya harus efisien, tetapi juga penuh welas asih.

Prabowo dan Gaya Kepemimpinan “Protektif”

Presiden Prabowo Subianto menunjukkan gaya kepemimpinan yang tegas, cepat mengambil keputusan, dan protektif terhadap rakyatnya. Dalam banyak hal, ia adalah sosok transformational leader yang menggerakkan dengan visi besar, narasi kebangsaan, dan energi moral yang kuat.

Namun, di sisi lain, Prabowo juga menampilkan elemen servant: ia berulang kali menyatakan siap berkorban demi rakyat, dan dalam beberapa momen publik ia memperlihatkan empati yang tulus kepada masyarakat kecil. \Maka dapat dikatakan, gaya Prabowo adalah perpaduan antara kepemimpinan transformasional dan pelayanan, yakni pemimpin yang ingin mengubah, tetapi tetap merasa dirinya pelayan rakyat.

Baca Juga:  Kesibukan Kehidupan Modern: Bahaya Menunda Salat

Purbaya: Rasional, Efisien, dan Tenang

Sementara Purbaya Yudhi Sadewa lebih menonjol sebagai pemimpin teknokratik, berpikir dengan logika data, efisiensi, dan akuntabilitas fiskal. Gaya seperti ini dekat dengan konsep authentic leadership, yaitu pemimpin yang jujur, konsisten antara ucapan dan tindakan, serta terbuka terhadap kritik.

Kepemimpinan seperti ini penting bagi stabilitas kebijakan ekonomi dan integritas kelembagaan. Namun agar tidak kehilangan sisi kemanusiaan, model ini tetap memerlukan sentuhan servant spirit, kerendahan hati, dan orientasi pelayanan yang tulus.

Nilai-Nilai Islam dan Servant Leadership

Jika ditarik ke akar spiritual, servant leadership sejatinya berakar kuat dalam nilai-nilai Islam. Nabi Muhammad Saw. adalah teladan tertinggi: beliau memimpin dengan kasih sayang, bukan dengan menebar ketakutan. Beliau menjahit bajunya sendiri, menyapu rumahnya sendiri, dan selalu mendahulukan kepentingan umatnya.

Al-Qur’an menyebut: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS Al-Furqan: 63). Inilah hakikat kepemimpinan Islami: rendah hati tanpa kehilangan wibawa, dan berwibawa tanpa kehilangan kasih.

Model Ideal untuk Indonesia

Indonesia saat ini membutuhkan model kepemimpinan hibrida: servant–transformational leadership. Pemimpin yang tidak hanya berempati dan melayani, tetapi juga mampu mentransformasi sistem, menegakkan disiplin, dan menciptakan perubahan nyata.

Baca Juga:  Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Model seperti ini bukan hanya cocok untuk birokrasi, tetapi juga untuk politik, ekonomi, dan pendidikan. Sebuah gaya yang memadukan hati dan strategi, antara kemanusiaan dan hasil.

Apresiasi dan Harapan

Sebagai penguji, saya merasa bangga sekaligus bersyukur melihat semangat akademik yang tumbuh di FIA Universitas Brawijaya, kampus yang konsisten menjadi laboratorium kepemimpinan publik Indonesia. Terima kasih kepada pimpinan fakultas, para promotor, dan seluruh sivitas akademika yang terus menjaga mutu akademik dan integritas ilmiah.

Kepada Dr. Fahriyah, saya ucapkan selamat yang sebesar-besarnya. Semoga gelar doktor ini tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga amanah moral untuk terus menebar manfaat melalui ilmu dan pengabdian.

Semoga penelitian tentang servant leadership ini menginspirasi lahirnya generasi pemimpin yang melayani dengan hati, membimbing dengan teladan, dan memimpin dengan kasih sayang.

Dan semoga Indonesia senantiasa dianugerahi pemimpin yang bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga tulus melayani. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni