
Pelayan umat yang menyambungkan kasih antara para donatur dengan mereka yang membutuhkan.
Oleh Kuswantoro, Amil Fundraising Lazismu Lumajang
Tagar.co – Menjadi amil Lazismu bukan sekadar mengelola zakat, infak, dan sedekah. Ini adalah tugas dakwah dan pengabdian, tempat seseorang mengabdi untuk umat sekaligus berjuang di jalan Allah.
Karena itu, seorang amil dituntut memiliki kepekaan sosial yang tinggi mampu membaca situasi di sekitar, tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, dan tidak harus menunggu perintah untuk bergerak.
Sikap tanggap dan inisiatif ini tercermin dalam firman Allah:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ
Maka berlomba-lombalah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan. (QS Al-Baqarah: 148)
Seorang amil harus hadir lebih dulu sebelum diminta, menjadi penyambung kasih antara para donatur dan mereka yang membutuhkan.
Ia harus cekatan, bertindak cepat namun tepat, serta menghadirkan pelayanan yang ramah dan manusiawi. Inilah wujud nyata bahwa amil adalah pelayan umat sekaligus ujung tombak dakwah kemanusiaan.
Namun, tugas seorang amil tidak berhenti sampai di situ. Ia juga adalah kader Muhammadiyah, yakni pelangsung, penerus, dan penyempurna cita-cita besar Persyarikatan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.
Cita-cita itu adalah membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya masyarakat yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan peduli pada sesama.
Sejarah Muhammadiyah sendiri adalah kisah panjang perjuangan membebaskan umat dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.
Sejak awal, Muhammadiyah hadir bukan hanya untuk berdakwah secara lisan, tetapi juga membuktikan dakwah dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan layanan sosial lainnya.
Kini, melalui Lazismu, Muhammadiyah melanjutkan perjuangannya dengan mendistribusikan kebaikan dan keadilan sosial melalui dana zakat, infak, dan sedekah.
Dalam menjalankan tugasnya, amil harus menjunjung tinggi amanah, integritas, dan profesionalisme. Ia harus kuat secara spiritual, peka secara sosial, dan cerdas dalam mengelola program.
Ia tidak hanya menjadi pegawai lembaga, tetapi pejuang ideologi Islam berkemajuan. Ia tidak hanya mengantarkan bantuan, tetapi membawa harapan dan perubahan.
Allah Swt mengingatkan kita
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ ۗ
Dan apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. (QS Al-Baqarah: 110)
Ayat ini menjadi motivasi bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan seorang amil mengantar sembako, mengunjungi rumah dhuafa, membantu anak yatim sekolah semua akan dicatat sebagai amal jariyah yang kekal.
Maka menjadi amil Lazismu bukanlah pekerjaan biasa. Ini adalah jalan perjuangan. Di pundaknya tertitip kepercayaan umat dan amanah dakwah.
Melalui kerja-kerja yang tulus dan responsif, amil Lazismu ikut menegakkan panji Muhammadiyah, mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, dan menjadi bagian dari sejarah besar perubahan umat. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












