Feature

Pecahnya Kode Diam: Ibu, Adik, dan Folder Beracun: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

34
×

Pecahnya Kode Diam: Ibu, Adik, dan Folder Beracun: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

Sebarkan artikel ini
Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri 6): Pecahnya Kode Diam: Ibu, Adik, dan Folder BeracunCerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Ilustrasi AI

Ketika folder beracun dibuka, konspirasi terungkap. Arfan di Phnom Penh, Bu Marni di Toya Wening, dan Ayu di Mapolda: semua menghadapi pilihan—membungkam kebenaran, atau membayar mahal untuk mengungkapnya.

Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri 6): Pecahnya Kode Diam: Ibu, Adik, dan Folder Beracun

Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Folder itu masih terbuka. Nama-nama dalam daftar beberapa di antaranya bahkan pejabat tinggi berderet rapi dengan bukti video, rekaman suara, dan transaksi digital yang tak bisa dibantah. Di sudut layar laptop Arfan Wicaksono, pop-up notifikasi dari VPN internasional menandakan bahwa koneksinya masih tersamar. Tapi pikirannya tidak lagi terlindungi.

Di Phnom Penh, di apartemen sempit berlantai tiga yang menghadap pasar tradisional, Arfan menatap foto ibunya yang terpajang di dompet lusuhnya. Foto itu sudah buram, tapi sorot mata Bu Marni tetap sama mengandung doa dan tuntutan diam yang tidak bisa ia abaikan.

Baca Lima Seri SebelumnyaSkandal Pinjol Seragam Cokelat

Ia lalu membuka satu folder lain: “Surat dari Doni.” Isinya sudah ia baca berulang kali, tapi pagi ini terasa berbeda. Kalimat terakhir adiknya itu membekas:

“Bang, aku rela dipenjara asal Bang Arfan bisa pulang. Tapi jangan jadikan kesalahanku sebagai tameng. Kalau Bang Arfan masih punya sedikit saja rasa sayang ke Ibu… kabarkan kebenaran itu, walau sakit.”

Baca Juga:  Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

Arfan menunduk. Air matanya menetes. Satu pesan baru muncul di layar dari nomor berbeda:

“Waktumu 24 jam. Setelah itu, semua berkas yang kau simpan akan kami hapus secara paksa. Kami tahu backup-nya di mana.”

Ia tahu itu bukan gertakan. Ia tahu siapa mereka.

Di Toya Wening, Bu Marni menerima tamu tak terduga: seorang gadis bernama Alya, mantan pacar Doni yang dulu menjauh karena malu diselingkuhi oleh Doni saat masih aktif jadi polisi. Alya datang membawa satu rekaman suara dari Doni yang diselundupkan melalui seorang petugas Lapas.

Rekaman itu mengejutkan.

“Ibu, kalau dengar ini, berarti aku belum bisa pulang. Tapi aku titip Alya. Dia saksi. Dia tahu bahwa Bang Arfan bukan pelaku tunggal. Mereka jebak Bang Arfan sejak dari masa pelatihan. Semua berawal dari satu koperasi yang katanya bantu anggota padahal itu pintu masuk mereka.”

Bu Marni menggenggam tangan Alya erat. “Kau tahu lebih dari yang lain?” tanyanya.

Alya mengangguk. Ia dulunya bagian dari tim dokumentasi untuk pelatihan kepolisian dan pernah memotret rapat-rapat koperasi “Panji Integritas Nusantara.” Di satu foto, terlihat Arfan duduk bersisian dengan seorang berpangkat Komisaris Besar yang kini menjabat di bagian keuangan Mabes.

Di Jawakarta, Della sedang menghadapi dilema besar. Tim editorial medianya mengancam akan menarik seluruh laporan investigasi jika ia memuat nama-nama besar yang diduga terlibat. Tapi malam itu, email masuk dari alamat tak dikenal dengan subjek: “Pecah atau Pecah.”

Baca Juga:  Hisab Seorang Istri

Isinya satu kalimat:

“Kami tidak peduli siapa jurnalisnya. Tapi kami tahu siapa yang duduk di meja redaksi. Satu langkah salah, karirmu selesai.”

Tapi yang membuat Della gemetar bukan ancaman itu melainkan file terlampir: rekaman CCTV saat ia dan Ayu Maharani makan siang di sebuah restoran di Solo dua pekan lalu. Artinya, mereka sedang diawasi, bukan hanya secara digital, tapi fisik.

Sementara itu, di Mapolda Jateng, AKBP Ayu Maharani mendapati hasil analisis baru dari Kompol Yudha. Mereka berhasil mengidentifikasi data recovery dari salah satu akun yang sempat aktif di aplikasi pinjol ilegal. Dalam folder yang dipulihkan, ada satu video berdurasi 2 menit 37 detik.

Dalam video itu terlihat empat orang berpakaian dinas, wajah sebagian tertutup masker, sedang membagi-bagi uang dalam koper besar sambil menyebutkan pembagian berdasarkan peran dan jalur pengamanan. Suara salah satu dari mereka sangat dikenali Ayu suara eks atasannya, Kombes Hartawan.

Yudha menatap Ayu. “Ini bukti kunci. Tapi kalau ini kita angkat, kita tak cuma seret anak-anak muda. Kita sedang tarik selimut jenderal.”

Ayu menjawab datar, “Sudah waktunya rakyat tahu siapa yang selama ini tidur dengan seragam dan bangun dengan lembaran rupiah.”

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Merawat Cinta setelah Ramadan

Malam itu di Phnom Penh, Arfan mengambil keputusan. Ia mengaktifkan protokol pengiriman otomatis melalui jaringan Onion. Ia unggah semua file dalam folder “Laporan Pertama” dan “Surat Doni” ke lima jurnalis investigatif dan dua lembaga HAM internasional.

Ia tahu itu mungkin tiket satu arah menuju pemburuan internasional, atau mungkin juga menuju pembebasan adiknya dan keselamatan ibunya. Tapi sebelum menekan tombol “send”, ia tulis satu kalimat terakhir dalam email:

“Saya bukan pahlawan. Tapi saya sudah terlalu lama jadi pengecut.”

Klik.

File dikirim.

Keesokan harinya, dunia maya gempar. Laporan investigasi gabungan menyebutkan nama-nama tak terduga: satu jenderal aktif, dua mantan pejabat OJK, satu petinggi koperasi nasional, dan… nama yang mengejutkan Ayu sendiri: Brigjen Pol (Purn.) Handoko Nugroho, mantan Kapolda yang dulu pernah menjadi dosen tamu di akademinya.

Lebih mengejutkan lagi: nama Kompol Yudha juga muncul di daftar itu.

Ayu terpaku. Semua laporan yang disusupi, semua arahan penyidikan yang diarahkan pada pion kecil ternyata bagian dari skenario yang lebih besar. Yudha masuk ke ruangannya sambil tersenyum.

“Tak semua kode bisa dibaca, Bu Ayu. Kadang diam juga bagian dari strategi,” katanya pelan.

Ayu menatapnya lekat-lekat. Tak menyangka, pengkhianatan ada tepat di meja sebelahnya selama ini. Bersambung seri ke-7: “Pengkhianat di Dalam Tim Penyidik” 

Penyunting Mohammad Nurfatoni