
Paduan Suara harukan suasana malam tirakatan HUT RI ke-80 warga RW 03 Desa Jatinom Kecamatan Kanigoro Blitar. Mereka membawakan lagu-lagu nasional secara penuh penghayatan
Tagar.co – Warga RW 03 Desa Jatinom Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, menggelar malam tirakatan yang penuh makna dan kebersamaan pada hari Sabtu malam (16/8/2025). Malam tirakatan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 dimulai pukul 19.30 WIB.
Acara yang rutin digelar setiap tahun ini mengusung tema Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju. Lokasinya di halaman rumah Mbah Yaminah, juga merupakan rumah Ketua RT 04 yang beralamat di Dusun Jatinom RT 04 RW 03 Desa Jatinom Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar Jawa Timur.
Seluruh warga RW 03 hadir dengan antusias. Mengikuti rangkaian kegiatan yang dimulai dengan doa bersama, makan bersama, hingga menyimak sejarah kemerdekaan Indonesia.
Yang menarik perhatian malam itu adalah penampilan grup Paduan Suara Wanita dari RT 04 yang membawakan lagu-lagu nasional secara penuh penghayatan. Suara merdu mereka menggetarkan suasana. Apalagi ketika warga yang hadir ikut menyanyikan lagu-lagu tersebut bersama-sama.
Lagu-lagu nasional yang dinyanyikan malam itu menjadi sarana menumbuhkan rasa cinta tanah air. Banyak warga tampak terharu saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu perjuangan lainnya.
Partisipasi Aneka Lomba
“Saya merasa haru dan bangga. Semangat gotong royong dan nasionalisme masih begitu kuat di lingkungan kita,” ujar Ketua RW 03, Imam Supardi, yang akrab disapa Pardi. Dia juga menyampaikan rasa syukur, dan terima kasih kepada seluruh warga yang turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan menyambut kemerdekaan.
Selain malam tirakatan, RW 03 juga menggelar serangkaian kegiatan lainnya. Diantaranya ikut kejuaraan sepak bola yang diadakan oleh Bima Putra se-Desa Jatinom, jalan sehat, lomba-lomba di tingkat RT, senam bersama berhadiah, dan lomba mancing.
“Kami mohon seluruh warga ikut memeriahkan dan berpartisipasi. Ini bukan sekadar lomba, tapi juga bentuk syukur kita atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan,” ajak Pardi.
Proklamasi saat Ramadan
Ustadz Nailul Author yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan sejarah singkat kemerdekaan Indonesia dengan penuh semangat. Dia mengingatkan, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 Hijriyah.
“Ini adalah momen suci dan bersejarah. Saat itu bangsa kita sedang berada di bulan ramadan, namun tetap bangkit dan menyatakan kemerdekaannya,” jelasnya. Dia juga menyinggung penderitaan rakyat di masa penjajahan. Kerja paksa tanpa upah, dan berbagai bentuk penindasan dari penjajah yang datang dari berbagai negara.
“Jika masih ada warga yang belum sejahtera, itu menjadi tanggung jawab bersama. RT dan RW tidak bisa lepas tangan. Merdeka juga berarti bebas dari kemiskinan dan ketidakadilan,” tegasnya.
Nailul Author mengajak warga untuk merenungkan hakikat kemerdekaan sejati, termasuk melawan hawa nafsu.
Jalan Membangun Bangsa
Hadits tentang jihad melawan hawa nafsu:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ. قِيلَ: وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ النَّفْسِ
Artinya: Dari Jabir berkata, Kami baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Lalu ditanya, apakah jihad besar itu? Rasul menjawab, melawan hawa nafsu. (HR. Baihaqi).
“Jika belum mampu melawan hawa nafsu, maka belum sepenuhnya merdeka,” tambah Nailul.
Dia juga menyampaikan, kemerdekaan adalah jalan untuk membangun bangsa, dan keberagaman adalah rahmat.
Ayat Al-Qur’an tentang persatuan dalam keberagaman ada di Surat Al-Hujurat ayat 13.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Di akhir acara, warga memanjatkan doa agar diberi rezeki yang berkah dan cukup. Acara tirakatan ini bukan hanya menjadi momen mengenang sejarah, tetapi juga sebagai upaya mempererat kebersamaan dan menumbuhkan kesadaran warga akan pentingnya semangat kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari. (#)
Jurnalis Agus Fawaid. Penyunting Sugiran.












