Cerpen

Nurma

48
×

Nurma

Sebarkan artikel ini
Nurma
Ilustrasi cerpen Nurma (Al)

Nurma pun mengawali kehidupan baru di pendidikan. Tapi, ada hal yang membuat dia gusar dan tidak tenang. Kedua orang tuanya pun membantu menenangkan hatinya.

Cerpen oleh Kamas Tontowi, Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani PDM Trenggalek dan guru bahasa Inggris MTsN 3 Trenggalek

Tagar.co –  Jumat 28 November 2025, Nurma mondar-mondar gelisah. Aku, ayahnya berusaha menenangkan hatinya. Ibunya berkali-kali memberikan semangat dan yakin diterima.

Meski demikian, gejolak kegelisahan di hatinya tiada henti. Nurma benar-benar takut gagal dalam mengikuti tes masuk ke pondok.

Yah, lek aku gagal pie yah, ojo nesu yo, jangan marah sama aku. Aku takut kalau aku tidak diterima,” ujar Nihad kepada ayah dan ibunya.

Ibunya mengelus-elus kepalanya penuh kelembutan. “Jangan khawatir, Nduk, saat ibu berpuasa Senin Kamis, ataupun puasa yang lain, selalu mendoakanmu agar kamu mendapatkan yang terbaik. Saat ayah salat malam, ayah juga selalu mendoakanmu, semoga usahamu dalam kebaikan diberikan kemudahan. Lek awakmu gak ditompo yo njajal neng pondok lain. Melu kakak neng Lamongan.”

Wis to, Nduk, jangan khawatir, kamu akan lulus, kamu semangat saja aku sudah senang,” sahut ayahnya.

Pagi itu, hari Jumat, Nurma berangkat ke sekolah. Tini, ibunya Nurma, seorang bidan, mengantarnya ke sekolah, lantas berangkat kerja menuju sebuah rumah sakit.

Tommy, ayah Nurma juga berangkat kerja. Dia seorang guru, mengajar di madrasah tsanawiyah. Mereka adalah pasangan PNS, sekarang dinamakan ASN.

Baca Juga:  Celana Robek, Hati yang Dijaga

Setiap hari berangkat pagi dan pulang siang, kadang sore. Khusus hari Jumat, ayahnya bisa pulang agak pagi, pukul 11.30. Sedangkan ibunya pulang pukul 15.00. sampai di rumah pukul 15.30.

Seperti biasa, Tommy mengajar di kelas. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melirik ponselnya. Tini, istrinya menelepon.

“Yah, nanti Nurma pulang setelah salat Jumat di sekolah, segera dijemput, ya? Lalu siapkan alat alat tulis dan laptopnya. Untuk ujian besok. Nanti sore, kalau aku sudah pulang kita segera berangkat,” ungkap Tini.

“Iya, tenang saja, aku siapkan semuanya,” jawab Tommy singkat.

Beberapa waktu berlalu. Tommy segera pulang, untuk mempersiapkan segala kebutuhan ke Malang dan menjemput Nurma pulang.

Hari Kamis, satu hari sebelum keberangkatan, Tommy menghubungi pihak pondok, menanyakan apakah bisa mencarikan tempat penginapan. Pihak pondok memberikan dua pilihan, di rusunawa atau di tempat wisata

Tommy mendengar ponselnya berbunyi. Dia segera melihat handphone, ada sebuah pesan dari pondok.

“Assalamu’alaikum, Bapak. Terkait dengan penginapan, rancananya datang ke rusunawa di jam berapa nggih?”

“Waalaikum salam. Dari Trenggalek sekitar jam 15.00, hehehe. Nunggu istri pulang dari RS Maaf. Nunggu pulang dinas. Bisa minta infonya terkait nama tempat, nomor kamar dan siapa yang harus dihubungi?” ujar Tommy.

“Kuncinya disiapkan. Di mading rusunawa 1 BLOK A. Belakang kampus,” ujar pengurus pondok.

“Makasih,” jawab Tommy.

Waktu menunjukkan pukul 15.30. Tampak Tini pulang mengendarai sepeda motornya. Tanpa basa-basi, dia segera membereskan persiapan untuk berangkat ke Malang.

Baca Juga:  Anak Pulau dan Ombak yang Menguji Mimpi

Setelah berpamitan pada orang tua, mereka berangkat menjemput sopir. Setelah menempuh perjalanan selama enam jam, mereka sampai di rusunawa. Suasana terlihat sepi.  “Alhamdulillah, sepi, gak banyak orang. Bisa tidur nyenyak,” batin mereka berempat.

Setelah mengambil kunci kamar, mereka segera membuat kopi, mengobrol sebentar dan tidur di kamarnya masing masing.

Sabtu, 29 November 2025

Dini hari, pukul 02.30. Terdengar suara mobil dan sepeda motor berlalu-lalang di sebelah gedung rusunawa tempat kami menginap. Cuaca gerimis, hawa dingin, tak menyurutkan aktivitas mereka di muka bumi.

Di dalam gedung, terdengar suara suara cekikian dan aktivitas mahasiswa. Mereka mengawali aktivitas salat tahajud berjamaah diteruskan salat subuh. Kelihatannya mereka akan mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Beberapa menit berlalu, terdengar azan subuh bergema. Tommy dan Timan, sopir, segera menuju asal azan.

Mereka melihat sebuah musholla sederhana namun rapi. Mereka segera salat sunnah. Muazin muda setelah selesai azan segera memakai sarung dan kopiahnya dan salat sunnah. Seorang anak kos, tiba-tiba datang. Kami berempat lalu salat subuh berjamaah di imami Timan.

Waktu menunjukkan pukul 06.30. Rombongan segera menuju pondok. Suasana sangat ramai. Beberapa anak anak murid kelas enam SD dan MI didampingi orang tuanya terlihat sudah bersiap siap.

Pengelola pondok dan anak-anak santri dengan ramah membimbing kami mengambil nomor peserta tes untuk anak-anak dan wali santri.

Sekitar pukul tujuh pagi lebih, direktur pondok memasuki ruangan aula. Beberapa saat kemudian, sekitar pukul tujuh lebih tiga puluh kegiatan pengarahan dimulai. Seperti biasa, dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars organisasi. Kegiatan diteruskan dengan pengarahan dari direktur pondok.

Baca Juga:  Powerbank di Barisan Demonstran

“Pondok pesantren ini didukung, disupport oleh beberapa kampus. Anak-anak diberikan tes bukan untuk tidak diterima, tapi untuk mengetahui latar belakang santri sehingga kami akan mempersiapkan anak-anak dalam kegiatan, nanti akan ada matrikulasi, dibimbing dalam berbahasa Inggris dan Arab, sehingga anak-anak akan lancar dalam menjalani kegiatan pembelajaran memakai buku bilingual,” dia memberikan arahan.

Selesai pengarahan, anak-anak calon santri diajak ke ruangan khusus untuk tes. Meski baru kenal, mereka terlihat akrab dan berangkat sama sama sambil laptop dan note book untuk akademik dan lisan. Tommy, dan orang tua calon santri menunggu wawancara dengan pengurus pondok.

Sekitar pukul 11.00, Nurma terlihat keluar ruangan. “Aku selesai. Alhamdulillah,” ungka Nurma riang.

“Gimana Nurma, lancar?” tanya ibunya.

“Alhamdulilah, bisa. Tapi cursor laptopnya tadi nggak bisa,” jawabnya.

“Wahh, memang harusnya pakai mouse. Apa nggak kamu pakai?” tanya Tommy.

“Aku lupa. Tapi tadi aku lancar, tahfid dan bahasa Inggris lancar, surat. Tapi bahasa Arab dan matematika sulit,” ungkapnya.

Gak apa apa. Ayo kita ke mal. Lihat-lihat,” hibur ibunya.

“Yehhhh asyik,” Nurma teriak kegirangan. (#)

Penyunting Ichwan Arif

 

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…