BukuUtama

Novel dari Balik Jeruji: Duri, Anyelir, dan Darah Perlawanan Yahya Sinwar

84
×

Novel dari Balik Jeruji: Duri, Anyelir, dan Darah Perlawanan Yahya Sinwar

Sebarkan artikel ini
Penulis dengan poster novel Duri dan Anyelir karya almarhum Yahya Sinwar di Islamic Book Fair ke-23 di JCC Senayan Jakarta, Sabtu, 21 Juni 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Ditulis di balik tembok penjara Eshel dan Be’er Sheva, novel Duri dan Anyelir karya syuhada Yahya Sinwar menyuarakan harapan, luka, dan tekad menuju kemerdekaan Palestina. Inilah narasi perjuangan yang hidup dan menggugah.

Oleh M. Anwar Djaelani, Penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya

Tagar.co – Sabtu, 21 Juni 2025, alhamdulillah, saya hadir di Islamic Book Fair ke-23 di JCC Senayan Jakarta. Di stan Pustaka Al-Kautsar, terpampang poster novel baru berjudul Duri dan Anyelir: Perjuangan dan Harapan untuk Kemerdekaan Palestina. Penulisnya, Yahya Sinwar.

Tentu, saya terkesan. Pertama, kehadiran novel itu bisa menambah semangat perjuangan menuju Palestina Merdeka. Kedua, jika membaca siapa penulis dan judul lengkapnya, maka bisa dipastikan isinya akan menguatkan girah dari rata-rata pembacanya.

Sang penulis adalah Yahya Sinwar, Kepala Biro Politik Hamas, yang syahid terbunuh pada 16 Oktober 2024. Empat hari kemudian saya menulis obituari: Yahya Sinwar (1962–2024); Syahid di Garis Depan Palestina setelah Nyaris Separo Hidupnya Dilalui di Penjara (https://inpasonline.com/yahya-sinwar-1962-2024-syahid-di-garis-depan-palestina-setelah-nyaris-separo-hidupnya-dilalui-di-penjara/).

Di saat menghimpun data dari Yahya Sinwar untuk tulisan itu, tak saya temukan keterangan jika pemimpin yang syahid pada usia 62 tahun itu punya karya novel.

Maka, saat saya mulai membuka-buka novel itu, hati langsung berbisik: Bertambah lagi deretan karya tulis yang lahir dari balik dinding penjara yang pengap. Lihatlah, pada lembar terakhir novel ini, halaman 571, tertera: Selesai ditulis pada Desember 2004 di Penjara Eshel Palestina.

Diselesaikan di sel-sel penjara Be’er Sheva dengan bab ketigapuluhnya. Tetapi tragedi yang dialami penulis dan teman-teman seperjuangannya terus berlanjut di ruang-ruang bawah tanah penjara Zionis sampai hari ini.

Sekali lagi, karya tulis ini lahir dari balik dinding penjara yang pengap. Meski jenis tulisannya berbeda, pikiran saya refleks tertuju kepada sejumlah pejuang Islam yang mudah diingat seperti Ibnu Taimiyah, Sayyid Qutb, dan Hamka. Mereka menulis karya besar di balik jeruji besi.

Di dalam penjara, Ibnu Taimiyah (1263–1328) menulis kitab Majmu’ Al-Fatawa. Sayyid Qutb (1906–1966), menulis Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Buya Hamka (1908–1981), menulis Tafsir Al-Azhar.

Novel karya Yahya Sinwar ini, spesial. “Semua kejadiannya nyata,” kata dia. Setiap kejadian atau setiap rangkaian kejadian, lanjut dia, berkaitan dengan rakyat Palestina.

Satu-satunya fiksi dalam karya ini adalah transformasinya menjadi novel yang berkisar pada karakter tertentu, untuk memenuhi bentuk dan persyaratan karya sastra dalam jenis novel (h.v).

Pahit dan Manis

Judul lengkap novel yang sudah cetak ulang ini bagus. Kita cukup mudah membayangkan isinya. Bahwa, jalan panjang menuju Palestina Merdeka (yang bak anyelir yang indah) pasti akan diwarnai banyak duri. Ada beragam tantangan menuju cita-cita mulia.

Judul novel, sebuah metafora yang tepat. Tengoklah! Duri adalah sesuatu yang menyusahkan (https://kbbi.web.id/duri). Anyelir adalah tanaman hias yang ujung bunganya melebar dengan tepi berumbai-rumbai dan warnanya bermacam-macam seperti merah, merah muda, putih, dan sebagainya (https://kbbi.web.id/anyelir).

Hidup memang tak akan pernah berupa jalan lurus yang tanpa hambatan. Banyak ujian di dalamnya dan itu hanya akan berakhir saat maut menjemput. Termasuk saat memperjuangkan agama, ujian tetap saja ada bahkan banyak. Atas semua ujian itu, kita harus sabar dan terus berusaha untuk dapat mengatasinya.

Di titik ini, saat membaca novel ini, boleh jadi akan banyak pembaca yang langsung teringat (terjemah) ayat ini: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (Ali Imran: 142).

Baca Juga:  Energi Bacaan Hasbunallah

Langsung Jadi

Buku ditulis dalam 30 bagian. Mulai dari Bagian Satu (Situasi di Kamp Kami) sampai Bagian Tigapuluh (Perjuangan Akan Terus Berlanjut). Kesemuanya memberikan gambaran, pemahaman, dan pesan.

Lihatlah Bagian Satu, Situasi di Kamp Kami. Horor penjajah spontan terasa. Memang, paragraf pertamanya relatif kondusif. “Musim dingin tahun 1967 begitu ekstrem. Udara yang menusuk tulang menolak untuk pergi dan bersaing dengan musim semi yang berusaha muncul dengan mataharinya yang hangat dan cerah …. di Kota Gaza” (h.1).

Hanya saja, di paragraf terakhir, terjadilah horor itu. “Lima belas orang dipilih dari kerumunan itu dan berbaris di dekat tembok. Perwira (Israel) itu memerintahkan beberapa tentara untuk mengarahkan senapan mereka ke orang-orang itu. Para tentara itu mulai menembaki yang menyebabkan orang-orang itu tumbang, mengerang kesakitan dan mati” (h.13).

Melawan, Harus!

Bagian Tiga, Perlawanan Dimulai. Sering di tengah-tengah masyarakat, dalam percakapan di keseharian, terjadi perbedaan pemikiran. Pendapat mereka beragam terkait “Apa harus terus melawan?” Pendapat yang mengatakan bahwa harus teguh melawan adalah yang mayoritas. Semua percakapan itu berakhir dengan kesimpulan, “Demi Allah, hidup dengan bermartabat dan terhormat selama 1 menit lebih baik daripada hidup sengsara selama 1.000 tahun di bawah belenggu penjajahan.”

Percakapan yang seperti di atas terjadi di semua kamp di Jalur Gaza. Juga, di semua jalan kota dan desa, baik di Tepi Barat maupun Gaza. Benar, perlawanan mulai berkobar di seluruh Palestina (h.42).

Kebanggaan Keluarga

Bagian Tujuh secara bagus memberikan gambaran betapa warga Palestina sangat mementingkan pendidikan anggota keluarganya. Di rumah si penulis novel, pernah dua bulan oleh ibu mereka diberlakukan semacam “jam hening” di waktu khusus.

Ini karena satu di antara saudara mereka, Mahmoud, sedang menghadapi ujian sekolah.Ketika diketahui Mahmoud mendapatkan nilai bagus, 92 persen, air mata mengalir deras di pipi ibu mereka. Sang ibu bersuka cita dan anggota keluarga yang lain merasakan hal yang sama.

Lalu, ada semacam tasyakuran yang semarak. Ini, karena prestasi Mahmoud adalah kebanggaan bagi keluarga sebab masing-masing telah berkontribusi di dalamnya (h.81–83). Selanjutnya, Mahmoud diterima di Fakultas Teknik Universitas Kairo (h.94).

Pilihan Sikap

Jika Mahmoud dikondisikan oleh orang tuanya untuk sekolah dan terus sekolah, itu berbeda dengan tetangga mereka yang bernama Abdul Hafiz. Bahwa, demi masa depan semua saudaranya, dia rela berhenti belajar dan memilih bekerja.

Setelah berulang kali meyakinkan ibunya, akhirnya Abdul Hafiz seperti ribuan orang lainnya pergi bekerja di Israel. Setiap pagi berangkat dan kembali pada malam hari. Perlahan, kondisi ekonomi keluarganya membaik.

Kemudian, orang-orang tahu tentang tujuan Hafiz sebenarnya bekerja di Israel. Sekitar dua tahun kemudian diketahui bahwa dia telah bergabung dengan barisan Front Populer untuk Pembebasan Palestina yang bertujuan mempersiapkan dan merencanakan operasi gerilya di wilayah yang diduduki Israel sejak 1948.

Memang, beberapa bulan setelah dia bekerja dan terbiasa dengan rutinitas baru, dia kadang-kadang mengambil bom dan menyembunyikannya di tas makanannya. Dia bawa ke Jaffa.

Di sana dia memilih bus, kafe, atau kelab malam untuk meletakkan dan menyembunyikan sebelum kembali ke rumah setelah bekerja. Bom itu kemudian meledak dan menyebabkan kerusakan, korban cedera, atau kematian (h.105).

Horor Lagi

Bagian Delapan, Penangkapan Mahmoud. Tak lama setelah lulus di Mesir dan Mahmoud kembali ke rumah, datanglah tentara Israel akan menangkap Mahmoud. “Anakku baru saja dari Mesir. Apa yang ingin kalian lakukan,” protes sang ibu.
“Kami hanya perlu mengajukan beberapa pertanyaan. Kami berjanji akan mengembalikannya kepadamu besok pagi,” kata tentara (h.112).

Baca Juga:  Sembuh tanpa Kambuh: Ikhtiar Medis dan Spiritualitas Menuju Kesehatan Sejati

Apa salah Mahmoud? Penjajah Israel menemukan surat yang berisi daftar nama pemuda Palestina yang terorganisasi di Mesir untuk Gerakan Fatah. Mereka mulai mengorganisasi kegiatan gerilya di Jalur Gaza dan nama Mahmoud ada dalam daftar ini. Akibatnya dia ditangkap dan diinterogasi.

Bagian interogasi di penjara Gaza dikenal sebagai “Rumah Jagal” karena penyiksaan dan penindasan yang dilakukan terhadap para tahanannya. Mahmoud menjadi sasaran semua cara-cara kejam, sampai tubuhnya melemah dan kurus bahkan tak dapat mengenali dirinya sendiri (h.131–133).

Beda Pemikiran

Pada akhirnya Mahmoud dibebaskan. Dia pulang dan disambut layaknya seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Tak berselang lama, sang tetangga yang bernama Abdul Hafiz juga dibebaskan dari penjara (ternyata dia ditahan karena terlibat dalam Front Populer untuk Pembebasan Palestina) (h.151).

Mahmoud dan Abdul Hafiz sama-sama pernah dipenjara. Kemudian sama-sama dibebaskan dalam waktu yang tidak terpaut jauh. Namun sambutan Mahmoud terhadap Abdul Hafiz cukup unik.

Di satu sisi keduanya begitu akrab karena telah berbagi penderitaan di dalam penjara, melakukan pemogokan, dan merasakan penyiksaan bersama, sehingga menjadikan mereka sahabat dekat. Tapi di sisi lain tampak jelas ada perbedaan tajam di antara mereka yang segera terlihat saat mereka mulai berdebat tentang pandangan politik dan ideologi masing-masing (h.152).

Ini, Berubah!

Tak hanya dengan tetangga yang berbeda. Bahkan, dengan saudara sepupu bisa berbeda pilihan jalan hidup. Lihat, setelah bertahun-tahun menghilang, sepupu mereka Hassan kembali muncul tetapi dalam wujud yang baru. Dia telah tumbuh menjadi pria besar, memanjangkan jenggot dan rambut. Dia mengenakan pakaian yang aneh dan menakutkan, mirip pakaian orang-orang Yahudi.

Hassan mengenakan kalung emas dan gelang emas tebal. Dia mengenakan celana koboi usang di bagian lutut dan memegang sebungkus rokok. Hassan tampak seperti orang yang sama sekali tidak dikenal (h.159).

Hassan ternyata tinggal di Tel Aviv dan aktif bekerja di sebuah pabrik milik ayah pacarnya yang Yahudi. Dia menceritakan, di sana situasinya sangat baik. Dia menyewa sebuah apartemen besar di Jaffa. Hal lain, lidahnya terasa berat ketika berbicara bahasa Arab. Dia sering menggunakan kata-kata Ibrani dalam percakapan (h.160).

Bela Al-Aqsha

Bagian 15, berjudul Melindungi Al-Aqsha. Dari judul, terasa akan ada narasi heroisme di dalamnya. Lihatlah, kala itu ada berita: Gerakan keagamaan ekstrem yang bernama Gerakan Kuil Suci mengumumkan bahwa mereka akan memasuki Masjid Al-Aqsha. Lalu, meletakkan bom di fondasinya. Lantas, akan membangun kuil di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha.

Berita itu menyebar ke mana-mana termasuk ke Universitas Islam Gaza, tempat penulis novel kuliah. Segera seseorang memimpin pertemuan di kampusnya. Keputusan bulat, para mahasiswa akan pergi ke Masjid Al-Aqsha di Yerusalem untuk menjaga dan mempertahankannya. Teknis, dikerjakan seringkas mungkin.

Ternyata, pada hari yang ditetapkan oleh Gerakan Kuil Suci, mereka tidak berani mendekati Masjid Al-Aqsha. Setelah tinggal satu hari lagi untuk menjaga Masjid Al-Aqsha, agar lebih yakin bahwa musuh tidak jadi menyerang, para mahasiswa lalu membubarkan diri (h.233–236).

Si Pengecut Vs sang Pemberani

Bagian 22, Intifadhah dan Gerakan Bersenjata. Secara umum tentara Israel bersikap sok kuasa, sok kuat. Ternyata, cengeng. Di sebuah fragmen, seorang tentara Israel yang “tertangkap” mulai gemetar dan menangis. Dia berteriak memanggil ibunya dalam bahasa Ibrani. Air kencing membasahi celananya.

Baca Juga:  Gurindam Dua Belas: Warisan Hikmah Raja Ali Haji sebagai Gizi Rohani

Seorang pejuang Palestina berkata lantang kepada tentara itu: “Kamu datang ke sini untuk membunuh kami di Gaza dan Tepi Barat. Kamu telah mencuri tanah kami di sana. Kamu mengacungkan senjata dan menembaki anak-anak. Kamu pikir, kamu laki-laki? Di sini kamu memanggil ibumu dan mengompol.” Si pejuang Palestina lalu menembaknya.

Ternyata, berdasar dokumen yang dibawanya, si tentara itu anggota pasukan khusus Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang terlibat dalam operasi komando sangat rahasia. Dia memiliki medali kehormatan (h.384).

Ini, berbeda dengan kisah lainnya. Seorang remaja Palestina yang belum berusia 20 tahun bertekad untuk membalas dendam atas serangan ke Masjid Al-Aqsha. Dengan senjata tajam, pemuda itu menunggu waktu yang tepat. Dia mencari sasaran. Seorang pria Yahudi dia tikam beberapa kali, tewas. Lanjut, seorang prajurit wanita Israel berseragam dia tikam beberapa kali, tewas.

Dia maju lagi dan bertemu dengan seorang tentara Zionis. Meski tertembak, dia sempat tikam tentara itu. Si remaja Palestina akhirnya tertangkap, tapi dengan cara terhormat (h.396–397).

Bom Syahid

Di Bagian Tigapuluh, Perjuangan Akan Terus Berlanjut. Di sini, ada fragmen bom syahid yang menggetarkan. Seorang anak laki-laki yang belum berusia 17 tahun mengenakan seragam militer dan memakai topi hijau bertuliskan Lailahaillallah Muhammadurrasulullah. Dia memegang senapan dan beberapa granat tangan.

Dia pamit ke ibunya untuk menyerbu markas tentara Israel. Dia ingin menjadi syahid dan bisa bertemu Nabi Muhammad Saw. di surga. “Semoga Allah memberimu keberhasilan, anakku. Semoga Allah mewujudkan cita-citamu,” doa sang ibu.

Si pemuda melintas kawat berduri, menuju lokasi sasaran. Dengan seruan Allahu Akbar, Khaybar sudah tiba, dia lemparkan granat satu demi satu dan menyerbu Aula Utama sambil menembakkan senjatanya.

Suasana di lokasi itu didengar sang ibu karena alat komunikasi si pemuda sengaja dibiarkan aktif. “Ya Allah, jadikan tembakannya tepat sasaran karena Engkaulah penembak dan tembakan-Mu tidak pernah meleset,” doa sang ibu.

“Demi Allah, dia lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Tetapi dia layak dikorbankan demi Allah, demi Yerusalem, dan demi Al-Aqsha. Aku mendambakan rahmat Allah untuk menyatukan kita semua di tempat yang benar di sisi-Nya dan di hadapan Nabi tercinta,” (h.566–567).

Doa dan Tekad

Bahwa novel ini berdasar kisah nyata, antara lain bisa dirasakan dengan kehadiran nama orang atau lembaga yang sangat kita kenal. Ada Ikhwanul Muslimin (seperti di h.171), Gerakan Fatah (seperti di h.131), Palestinian Liberation Organization atau PLO (seperti di h.175). Ada juga nama Yasser Arafat (seperti di h.176).

“Aku persembahkan karya ini untuk mereka yang hatinya melekat pada tanah Isra’ dan Milraj – Baitul Maqdis,” tulis Yahya Sinwar (h.v). Benar, novel ini hadiah bagi umat Islam dari Asy-Syahid Yahya Sinwar agar tidak melupakan Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

Atas kehadiran novel ini, kita menjadi ingat saat Yahya Sinwar syahid. Kala itu, Hamas tegas menyatakan bahwa Yahya Sinwar adalah “Salah satu dari laki-laki terbaik, yang paling mulia.”

Mari, lewat spirit novel ini, bersama-sama kita petik anyelir bernama Palestina Merdeka! Ayo, serempak sirnakan duri penghalang sebanyak apa pun. Semoga Allah kuatkan dan berkahi, amin.

Identitas Buku

  • Judul buku: Duri dan Anyelir: Perjuangan dan Harapan untuk Kemerdekaan Palestina
  • Penulis: Yahya Sinwar
  • Penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta
  • Tahun terbit: Juni 2025
  • Tebal: viii + 571

Penyunting Mohammad Nurfatoni