
PP Nasyiatul Aisyiyah dan UNFPA meluncurkan modul kesehatan reproduksi remaja berperspektif Islam. Program ini memadukan pendidikan ilmiah, penguatan karakter, dan metode belajar menyenangkan untuk siswa SMP Muhammadiyah.
Tagar.co – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) bersama UNFPA menutup rangkaian program Pengembangan Suplemen Modul Kesehatan Reproduksi Remaja Berperspektif Islam dengan acara Diseminasi Praktik Baik Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja, Kamis (4/12/2025).
Dalam sambutannya secara daring, Ketua Umum PPNA Ariati Dina Puspitasari menekankan pentingnya membekali remaja dengan ilmu, akhlak, dan penguatan agama untuk menghadapi perubahan zaman.
Baca juga: Muhammadiyah pada Peran Kebangsaan Harus Wujudkan Umat Terbaik
“Remaja menghadapi banyak tekanan sosial, perubahan fisik, dan paparan informasi yang cepat di media sosial. Mereka membutuhkan pegangan yang kuat, tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga bimbingan agama,” ujar Ariati.
Ariati juga menekankan kolaborasi lintas kementerian, sekolah, organisasi otonom, serta majelis dan lembaga Muhammadiyah sebagai kunci keberhasilan pendidikan yang ramah remaja dan sesuai nilai Islam.
Sejalan dengan itu, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, menyoroti isu kesehatan reproduksi remaja yang sensitif.
Ia mengapresiasi modul yang dikembangkan PPNA, dengan tiga fokus utama: penguatan karakter di rumah, sekolah, masyarakat, dan lingkungan beragama; penerapan modul dalam kegiatan keputrian serta penyesuaian untuk sekolah umum; dan penguatan peran guru BK sebagai pendamping siswa.

Proses dari Identifikasi hingga Diseminasi
Pengembangan modul dimulai dengan identifikasi masalah melalui focus group discussion (FGD) melibatkan guru, tenaga kesehatan, remaja, serta Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) dan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah. Dari diskusi ini, topik prioritas dan rencana implementasi disusun.
Langkah berikutnya adalah penyusunan suplemen modul melalui FGD bersama pakar agama, pendidikan, kesehatan, dan komunikasi. Draft modul kemudian diuji coba melalui pelatihan guru di sekolah Muhammadiyah Jabodetabek dan Bandung, serta FGD praktik baik untuk menyerap masukan perbaikan.
Tahap terakhir adalah diseminasi praktik baik dan draft modul untuk mendapatkan rekomendasi dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta berbagai sekolah dan pondok pesantren Muhammadiyah.

Respons Positif Guru dan Siswa
Modul KRR berperspektif Islam mendapat sambutan hangat dari kepala sekolah dan guru yang langsung berinteraksi dengan siswa. Lisda Nurul, Kepala SMP Muhammadiyah 6 Bandung, menyebut materi modul sederhana dan mudah dipahami.
Sementara Asmawati, guru MTs Muhammadiyah 1 Depok, menambahkan, “Penyampaian dengan permainan dan lagu sangat menarik bagi siswa.”
Program ini kini menjangkau 44 SMP dan pondok pesantren Muhammadiyah, dengan 44 guru dilatih dan sekitar 1.300 siswa mendapatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja secara menyenangkan.
Ariati Dina berharap modul ini menjadi panduan ilmiah yang tidak hanya memberi informasi, tetapi juga mengajak siswa belajar sambil bermain dan berlatih. “Modul KRR berperspektif Islam harus selalu hidup di kelas-kelas,” tutup Ariati. (*)
Jurnalis Isnatul Chasanah Penyunting Mohammad Nurfatoni












