
Di antara ketupat dan opor, Surti menghadapi tradisi lain: interogasi jodoh. Tahun ini, ia punya strategi baru—menertawakan diri sendiri sebelum keluarga sempat melakukannya lebih dulu lagi.
Cerpen Oleh Aji Damanuri; Dekan FEBI UIN Ponorogo, Ketua Dewan Syariah Lazismu Tulungagung
Tagar.co – Jam setengah enam pagi, Surti terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh suara Tante Yayuk yang menggema dari luar kamar mandi.
“Surti! Cepat mandi! Lebaran! Jangan mimpiin jodoh terus!”
Surti membuka mata pelan, menatap langit-langit kamar yang terasa terlalu putih untuk pagi sepenting ini. Lebaran. Hari kemenangan. Hari saling memaafkan. Dan—seperti tahun-tahun sebelumnya—hari di mana dirinya harus siap menjadi bahan interogasi keluarga.
Baca juga: Takbir di Balik Luka: Kisah Rini di Hari Kemenangan
Ia menarik selimut, lalu berbisik lirih, “Ya Allah, beri hamba kekuatan. Bukan untuk puasa, tapi untuk pertanyaan.”
Di meja makan, Surti mengunyah ketupat dengan pikiran bekerja cepat. Hari ini bukan hari biasa—ini medan tempur.
Strateginya sudah disiapkan:
-
mengalihkan topik dengan pujian,
-
berpura-pura sibuk,
-
dan jurus terakhir: menghilang ke toilet saat pertanyaan mulai sensitif.
Ibunya duduk di samping, mengelus rambutnya dengan lembut.
“Nak, Ibu cuma ingin kamu bahagia.”
Surti tersenyum tipis.
“Aku bahagia, Bu. Bahagia… dengan cara yang berbeda.”
Ibunya tidak menjawab. Hanya menghela napas pelan—sebuah napas yang menyimpan harap sekaligus pasrah.
Rumah Mbah Kakung sudah ramai. Aroma opor dan suara tawa bercampur di udara. Surti baru saja melangkah masuk ketika Tante Yayuk langsung menyambut.
“Surti! Cantik sekali. Eh, tapi… baju baru doang, pacar baru mana?”
Serangan pertama. Tepat sasaran.
Surti tersenyum, tenang.
“Doakan saja, Tante.”
“Tahun depan lagi?” Tante Yayuk mengangkat alis. “Kapan itu tahun depanmu?”
Surti hampir menjawab, tapi azan berkumandang. Ia segera mundur.
“Mau salat dulu, Tante.”
Ia berjalan cepat, hampir seperti melarikan diri.
Namun bahkan musala tak sepenuhnya aman.
“Surti,” suara Om Bejo dari teras, “katanya kamu dekat sama teman kantor?”
Surti berhenti.
“Iya, Om. Tapi dia sudah punya istri.”
Om Bejo terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Ya… cari yang jelas saja.”
Surti hanya tersenyum dan melanjutkan langkah. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa lelah—bukan karena pertanyaannya, tapi karena harus selalu punya jawaban.
Di ruang tamu, tekanan meningkat.
“Kamu itu cantik, pintar, kerja mapan,” kata Tante Yuli, “kok masih sendiri?”
Surti menarik napas.
“Mungkin karena belum bertemu yang tepat.”
“Terlalu pilih-pilih itu,” sahut sepupunya.
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti tuduhan.
Surti hendak membalas dengan candaan seperti biasa—tapi kali ini tidak. Ia hanya tersenyum kecil, lalu diam.
Bude Sri datang dengan senyum hangat.
“Semua sudah ada, Ti,” katanya lembut, “tinggal satu saja.”
Surti menatapnya. Ia sudah hafal kalimat berikutnya.
“Imam.”
Kali ini Surti tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
Keramaian tetap berjalan, tapi Surti mulai menarik diri. Ia duduk di sudut ruangan, memperhatikan orang-orang berbicara, tertawa, saling berbagi cerita—tentang anak, pasangan, rumah tangga.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak ingin menjawab. Tidak ingin membalas. Tidak ingin bercanda.
Ia hanya merasa… lelah.
Mbah Kakung memanggilnya.
“Nok, sini.”
Surti duduk di sampingnya.
“Mbah dengar kamu ditanya-tanya terus.”
Surti tersenyum hambar.
“Iya, Mbah. Capek.”
Mbah Kakung tertawa kecil.
“Hidup memang begitu. Dulu Mbah ditanya kapan punya anak. Sekarang ditanya kapan mati.”
Surti ikut tersenyum.
“Tapi begini,” lanjut Mbah, suaranya lebih pelan, “hidup itu bukan tentang menjawab semua pertanyaan orang. Kadang cukup tahu jawaban untuk diri sendiri.”
Surti terdiam.
“Kalau kamu bahagia, ya sudah. Itu cukup.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa langsung mengenai sesuatu yang selama ini ia tahan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Sore menjelang. Langit berubah jingga. Suara takbir mulai terdengar.
Surti duduk di teras, sendirian.
Tante Yayuk datang dan duduk di sampingnya—kali ini tanpa pertanyaan.
Beberapa saat mereka diam.
“Tante minta maaf ya,” ucapnya tiba-tiba.
Surti menoleh.
“Tante sering nanya-nanya. Kadang lupa kalau itu bisa capekin.”
Surti tersenyum pelan.
“Tidak apa-apa, Tante.”
“Tante juga ditanya anak Tante kok belum nikah,” lanjutnya sambil tertawa kecil.
Surti ikut tertawa.
Ada sesuatu yang berubah di situ—bukan pada pertanyaannya, tapi pada cara mereka saling memahami.
Dalam perjalanan pulang, Surti membuka grup keluarga.
Pesan dari Tante Yayuk muncul:
“Untuk semua yang masih sendiri: kalian bukan terlambat. Kalian hanya sedang menunggu yang tepat. Lebaran ini, mari saling memaafkan—termasuk memaafkan pertanyaan yang kadang salah cara.”
Surti tersenyum.
Malam hari, ia menatap langit dari jendela kamar.
Hari ini tidak berbeda. Pertanyaan tetap ada. Tekanan tetap terasa.
Tapi ada satu hal yang berubah:
ia tidak lagi merasa harus membuktikan apa-apa.
Ia menarik selimut, memejamkan mata, dan berdoa pelan:
“Ya Allah, jika belum waktunya, cukupkan hatiku. Jika sudah waktunya, dekatkan tanpa banyak tanya.”
Ia tersenyum.
Masih sendiri—tapi tidak lagi merasa kurang.
Penyunting Mohammad Nurfatoni






