Feature

Muhadarah di Al-Fattah Sidoarjo: Merawat Tradisi Bahasa, Cetak Pemimpin Masa Depan

42
×

Muhadarah di Al-Fattah Sidoarjo: Merawat Tradisi Bahasa, Cetak Pemimpin Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Kegiatan muhadarah di Ponpes Al-Fattah Sidoarjo, Ahad (23/2/25). Seorang santriwati secara bergantian menyampaikan kitabahnya dan yang lainnya menyimak. Pemateri menggunakan seragam hitam putih sementara peserta memakai seragam pesantren. (Tagar.co/Nur Dajmilah)

Di Al-Fattah Sidoarjo, santri tak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mengasah lidah dalam beragam bahasa. Muhadarah menjadi kawah candradimuka, mencetak pemimpin masa depan.

Tagar.co – Di balik tembok Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo, tradisi luhur dalam berbahasa dan berkomunikasi terus dipupuk. Setiap pekan, tiga kali kegiatan muhadarah digelar, menjadi wadah bagi para santri untuk mengasah kemampuan diri. Pada Ahad pagi yang cerah (23/2/2025), setelah lantunan Subuh menggema, para santri kembali berkumpul untuk mengikuti kegiatan rutin ini.

Muhadarah, sebuah tradisi diskusi yang kaya akan bahasa, menjadi jantung dari kegiatan ini. Bukan hanya bahasa Arab dan Inggris yang dilatih, tetapi juga bahasa daerah, mencerminkan keberagaman asal para santri. Bagi santri kelas 12 (Ula), munadarah, sebuah ajang debat, menjadi tantangan tersendiri untuk mengasah logika dan keberanian.

Baca juga: Tradisi Salat Tahajud di Al-Fattah: Menjemput Berkah Sepertiga Malam

Setiap Sabtu pagi, denting bahasa Arab terdengar, dilanjutkan dengan alunan bahasa Inggris di malam harinya. Ahad pagi, giliran bahasa daerah yang mengambil alih panggung. Bayangkan, seorang santri dari Banyuwangi dengan lancar berdiskusi menggunakan bahasa Osing, memperkenalkan kekayaan budaya daerahnya kepada teman-teman dari penjuru Nusantara.

Baca Juga:  SD Muhammadiyah 4 Zamzam Gelar Ramadan Ceria di Ponpes Al-Fattah

Para santri dibagi ke dalam halakah, kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari santri SMP dan SMA. Di sinilah, diskusi dan debat berlangsung, melatih mereka untuk berpikir kritis dan berkomunikasi efektif.

Julhijah, seorang santriwati dari NTT, merasakan betul manfaat muhadarah. “Saya jadi lebih percaya diri berbicara di depan umum dan pandai mengatur tata bahasa,” ujarnya dengan mata berbinar.

Ayuni Nur Habibah, S.Sos, PJ Muhadarah, menambahkan, “Manfaat muhadarah sangat besar, tidak hanya saat belajar, tetapi juga saat terjun ke masyarakat.” Kemampuan berbahasa, berdiskusi, dan berdebat menjadi modal berharga bagi para santri.

Lihatlah para alumni Al-Fattah, mereka yang kini memegang tampuk kepemimpinan di berbagai organisasi masyarakat, seperti Dr. H.M. Sulthon Amien, M.M. (Wakil Ketua PWM Jawa Timur, pendiri SAIM Surabaya, owner Laboratorium Parahita);  Ustaz Ahmad Syamsoni, S.Ag., M.Pd. (Ketua PDM Kabupaten Pasuruan, Pengurus Dai Kamtibmas Polda Jatim, dan Ketua  FKPAI Jawa Timur); dan Drs. H. Miftahudin, M.Si. (Ketua Departemen Diktilitbang DPP Hidayatullah). Mereka adalah bukti nyata keberhasilan tradisi muhadarah. Dan masih banyak lagi yang in syaa Allah tersebar di penjuru Indonesia

Baca Juga:  Santri Al-Fattah Bagikan 500 Paket Takjil di Alun-Alun Sidoarjo

Ustazah Ayuni Nur Habibah, S.Sos dan Ustaz Moh. Wahid, SPd., selaku penanggung jawab muhadarah berharap, “Kelak, santri Al-Fattah menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi lingkungannya, seperti para alumni yang telah berkarya.”

Muhadarah bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi sebuah perjalanan panjang untuk mencetak pemimpin masa depan, yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga santun dalam berbahasa dan berbudaya. (#)

Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni