Feature

Menyambut Tamu Agung dengan Cinta

20
×

Menyambut Tamu Agung dengan Cinta

Sebarkan artikel ini
Ustaz Subahri  saat menyampaikan kultum subuh di Masjid Baitul Hasanah Perumahan Ambarawa Residence, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 19 Februari 2026 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Dalam kultum Subuh di Masjid Baitul Hasanah Semarang, Ustaz Subahri mengibaratkan Ramadan sebagai tamu istimewa. Siapkah hati kita menyambutnya dengan penuh kegembiraan?

Tagar.co – Udara dingin menyelimuti Perumahan Ambarawa Residence, Semarang, Jawa Tenagh, Kamis (19/2/2026). Namun hawa sejuk itu tak menyurutkan langkah warga menuju Masjid Baitul Hasanah. Hari pertama puasa justru menjadi energi baru untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah Swt. di bulan yang penuh berkah ini.

Seusai salat, Ustaz Subahri, imam Masjid Baitul Hasanah, melangkah mantap ke mimbar. Dalam kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikannya, ia mengajak jemaah memahami makna terdalam dari ungkapan yang akrab terdengar setiap awal Ramadan: Marhaban ya Ramadan.

Baca juga: Rintik Hujan Mengiringi Tarawih Perdana di Baitul Hasanah Ambarawa

“Sering ada kalimat Marhaban ya Ramadan menjelang bulan puasa,” ujarnya membuka kultum. Ia menjelaskan, kata marhaban berasal dari kata rahaba yang berarti tanah lapang atau tanah luas.

Menurutnya, Ramadan dapat dianalogikan seperti tanah lapang yang mampu menampung banyak kendaraan dan barang. Marhaban adalah bentuk kata benda yang menunjukkan tempat—yakni ruang dalam hati manusia yang lapang dan penuh kegembiraan dalam menyambut hadirnya Ramadan.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Karena bermakna kelapangan dan kegembiraan, tidak seharusnya ada rasa kesal saat menyambutnya. “Maka ketika datang bulan Ramadan, rasanya janggal kalau kata marhaban dibarengi dengan kata ‘wes poso maneh’ (sudah puasa lagi),” tuturnya.

Baginya, kalimat tersebut tidak selaras dengan semangat marhaban. “Ketika mengucap Marhaban Ya Ramadan, maka tidak ada rasa kesal di hati. Apa pun yang ada dalam Ramadan, kita siap,” tegasnya.

Ia mencontohkan, di bulan ini bukan hanya salat lima waktu yang dipenuhi jemaah, tetapi juga salat sunah yang ramai dikerjakan. “Hal ini karena lahir dari rasa lapang dalam hati,” ujarnya. Dari rasa cinta itulah, umat Islam berbondong-bondong bertadarus, memperbanyak infak, dan menambah berbagai amalan kebaikan.

“Sebagian kaum muslimin, entah saat Tarawih atau salat Subuh, sengaja membawa uang untuk dimasukkan ke kotak amal sebagai wujud dari marhaban,” katanya.

Pemandangan saat Subuh di Masjid Baitul Hasanah Perumahan Ambarawa Residence, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 19 Februari 2026 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Ustaz Subahri kemudian mengibaratkan Ramadan sebagai tamu agung. Ia menggambarkan seorang karyawan yang mendapat perintah dari atasannya untuk menjemput tamu istimewa di bandara. Karena itu adalah tugas resmi, sang karyawan tentu akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Baca Juga:  Senyum Syifa

“Namanya karyawan, ada yang sekadar menyambut, ada yang setengah hati, ada pula yang menyambut dengan sepenuh hati,” tuturnya.

Di antara banyaknya karyawan, pasti ada yang berupaya maksimal—bukan sekadar menuntaskan tugas, melainkan berharap sang tamu menoleh, tersenyum, bahkan menyapanya. “Apalagi jika diajak ngobrol, masya Allah, betapa bahagianya,” ungkapnya. Lebih membahagiakan lagi jika tamu tersebut berkenan berkunjung ke rumahnya.

Analogi itu, lanjutnya, menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim menyambut Ramadan. “Dengan hadirnya bulan Ramadan ini, agar semua keinginan kita bisa terpenuhi, maka hadirkanlah rasa cinta,” tegasnya.

Menurutnya, cinta akan membuat sesuatu yang berat terasa ringan. Ia mengutip potongan ayat dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 165: “Asyaddu hubban lillah”—orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.

“Sebuah kewajiban jika didasari dari rasa cinta, maka bukan lagi terasa sebagai kewajiban, tetapi menjadi sesuatu yang wajar sebagai wujud cinta,” jelasnya. Ia meyakini, sebesar apa pun kesalahan manusia, Allah Swt. tetap membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang kembali.

Baca Juga:  Empat Tanda Keberhasilan Puasa Ramadan, Pesan Idulfitri dari Kupang Krajan

Di akhir kultum, ia berharap seluruh jemaah mampu menghadirkan rasa cinta kepada Allah. “Insyaallah, kita akan senantiasa gembira menerima segala amalan Ramadan. Tidak ada rasa kesal atau menggerutu dengan berbagai amalan yang menjadi ciri bulan Ramadan,” ujarnya. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni