Feature

Menyalakan Api Pembaruan: Seruan Kritis untuk Pers Mahasiswa dari UM Bandung

26
×

Menyalakan Api Pembaruan: Seruan Kritis untuk Pers Mahasiswa dari UM Bandung

Sebarkan artikel ini
Di pelantikan LPM Bewara UM Bandung, Dr. Roni Tabroni menyerukan agar pers mahasiswa tak hanya bicara internal kampus, tapi berani bersikap kritis terhadap isu nasional secara cerdas dan berimbang.
Roni Tabroni

Di pelantikan LPM Bewara UM Bandung, Dr. Roni Tabroni menyerukan agar pers mahasiswa tak hanya bicara internal kampus, tapi berani bersikap kritis terhadap isu nasional secara cerdas dan berimbang.

Tagar — Di tengah semangat pelantikan pengurus baru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bewara Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, sebuah pesan tajam dan inspiratif menggema di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Selasa (29/4/2025): Pers kampus jangan hanya sibuk dengan isu internal, tapi harus melek nasional dan berani bersikap.

Pesan itu datang dari Dr. Roni Tabroni, M.Si., dosen Ilmu Komunikasi UM Bandung. Dalam sambutannya, Roni tak sekadar memberi selamat kepada para pengurus yang baru dilantik. Ia justru melempar tantangan besar: agar Bewara menjadi lokomotif pembaruan pers kampus—yang berani, cerdas, dan berpihak pada kemaslahatan.

“LPM Bewara UM Bandung mungkin masih kecil dan baru, tetapi semangat belajarnya harus lebih besar lagi. Jangan takut kalah dari pers kampus yang sudah lama berdiri. Justru kalian harus lebih semangat menyalakan api pembaruan,” serunya, membakar semangat hadirin.

Baca Juga:  Kepemimpinan Baru Fakultas Farmasi UM Bandung Didorong Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing

Meneladani Keberanian “Mahasiswa Indonesia”

Roni tak sekadar berbicara visi. Ia membawa sejarah ke tengah forum. Ia mengajak mahasiswa menengok kembali semangat media legendaris Mahasiswa Indonesia, yang pada masanya menjadi rujukan luas sebelum akhirnya diberangus rezim pasca-Malari. “Semangat dan keberaniannya itu yang harus diwarisi oleh pers mahasiswa saat ini,” ujar Roni penuh tekanan.

Baca juga: Kuliah Umum Internasional UM Bandung Hadirkan Simulasi, Transformasi, dan Visi Teknologi

Bagi Roni, mahasiswa bukan sekadar pelajar di perguruan tinggi. Mereka adalah kelompok sosial yang punya karakter unik: kritis, segar, dan resah pada ketimpangan. Maka, pers kampus tidak cukup hanya menjadi dokumentator acara, apalagi corong promosi kampus.

“Pers mahasiswa itu harus bisa menyampaikan perspektif mahasiswa secara segar, objektif, dan tetap relevan dengan isu-isu bangsa. Kritik kalian harus bernilai, harus konstruktif,” tambahnya.

Dari Bandung, Menyala Harapan

Tak lupa, Roni menyelipkan semangat Bandung sebagai kota perjuangan. Di kota inilah Konferensi Asia Afrika digelar, menyulut api pembebasan dunia dari belenggu kolonialisme. “Semangat itu harus menjiwai gerakan pers kampus di sini,” katanya.

Baca Juga:  Kepemimpinan Baru Fakultas Farmasi UM Bandung Didorong Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing

Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah, lanjut Roni, para jurnalis mahasiswa mesti menghadirkan karya-karya yang bukan hanya mematuhi etika jurnalistik, tetapi juga memberi kontribusi nyata.

“Kalau pers mahasiswa tidak memberi manfaat untuk masyarakat, itu nonsense. Tapi kalau kalian bisa menyuarakan kebenaran dengan kritis dan kontributif, itulah semangat pers Muhammadiyah yang sejati,” pungkasnya.

Pelantikan hari itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda awal: bahwa di UM Bandung, bara semangat pers mahasiswa mulai menyala—siap menerangi ruang-ruang kritis yang selama ini gelap oleh diam.

Jurnalis Feri Anugrah Penyunting Mohammad Nurfatoni