Feature

Menjalani Ramadan dengan Amanah: Refleksi Spiritual dan Produktivitas

26
×

Menjalani Ramadan dengan Amanah: Refleksi Spiritual dan Produktivitas

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana dalam Pengajian Spesial Tarhib Ramadan 1446 Hijriah yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Bandung pada Senin (24/02/2025).

Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga momentum melatih diri menjaga amanah, meningkatkan produktivitas, dan mengasah ketakwaan. Bagaimana Ramadan dapat menjadi ajang pembentukan karakter?

Tagar.co – Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum bagi umat Islam untuk melatih diri dalam menjaga amanah dan mengendalikan hawa nafsu. Hal ini menjadi pesan utama yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana.

Dia menyampaikan dalam Pengajian Spesial Tarhib Ramadan 1446 Hijriah yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Senin (24/02/2025).

Dalam ceramahnya, Ayi menekankan amanah tidak hanya sebatas ibadah personal, tetapi juga mencakup tanggung jawab dalam kehidupan sosial dan profesional. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang dalam menjalankan amanah selama Ramadan mencerminkan kualitas puasanya. Amanah tersebut meliputi menjaga Al-Quran, membangun keluarga yang sakinah, serta melaksanakan tanggung jawab sosial dengan baik.

Baca juga: Menyiapkan Dosen Jadi Doktor: UM Bandung dan UMAM Gelar Pre-PhD Coaching

Baca Juga:  Kepemimpinan Baru Fakultas Farmasi UM Bandung Didorong Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing

Salah satu amanah yang menjadi sorotan Ayi adalah tanggung jawab dalam dunia akademik. Menurutnya, para dosen memiliki kewajiban menjalankan tridarma atau caturdarma perguruan tinggi.

Amanah ini semakin besar bagi mereka yang mendapatkan tanggung jawab tambahan. Ia menekankan bahwa manusia telah menerima amanah yang bahkan makhluk lain tidak sanggup memikulnya. Namun, banyak yang gagal menjaga amanah tersebut karena hanya menjalankannya selama Ramadan tanpa tindak lanjut di bulan-bulan berikutnya.

 

Menguatkan Potensi Ketakwaan

Lebih jauh, Ayi menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat dua potensi, yaitu potensi hayawan (sifat hewani) dan potensi ketakwaan. Ramadan, menurutnya, menjadi momen penting untuk menguatkan potensi ketakwaan agar lebih dominan dibandingkan dengan sifat keduniawian.

Ia menegaskan kondisi spiritual seseorang setidaknya harus tetap sama baiknya seperti sebelum Ramadan, atau bahkan lebih meningkat.

Selain aspek spiritual, Ayi juga menyoroti pola makan yang sering kali berlebihan saat berbuka. Ia mengingatkan bahwa banyak orang justru lebih boros dalam mengonsumsi makanan, sehingga tidak mencerminkan filosofi dan hikmah puasa.

Baca Juga:  Kepemimpinan Baru Fakultas Farmasi UM Bandung Didorong Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing

“Jika pola makan tidak dikontrol, Ramadan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesehatan justru bisa berdampak sebaliknya. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya memperhatikan aspek kehalalan makanan, tetapi juga aspek tayib, yaitu makanan yang baik dan sehat,” terangnya.

Ramadan dan Produktivitas

Dalam pandangannya, Ramadan seharusnya menjadi bulan yang meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya. Namun, Ayi menyoroti kebiasaan sebagian orang yang justru mengurangi jam kerja dan pulang lebih cepat selama bulan puasa. Ia mencontohkan bahwa Rasulullah telah menunjukkan bagaimana Ramadan seharusnya menjadi bulan penuh semangat dan kerja keras, bukan bulan untuk bersantai.

Sebagai penutup, Ayi mengajak umat Islam untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas zakat serta sedekah selama Ramadan. Ia mengingatkan bahwa dalam harta seseorang terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan.

“Ramadan adalah fasilitas dari Allah untuk membersihkan jasad dan hati dari dosa. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk mengisi bulan ini dengan amalan yang baik dan produktif,” katanya.

Baca Juga:  Kepemimpinan Baru Fakultas Farmasi UM Bandung Didorong Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing

Pengajian ini juga semakin meriah dengan adanya pembagian hadiah menarik bagi peserta yang beruntung, menambah semarak suasana dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. (#)

Jurnalis Feri Anugrah Penyunting Mohammad Nurfatoni